World Environmental Day : Raise your Voice, not the Sea Level

Apa nih yang seru di awal bulan Juni? Yup, it’s the world environmental day!! Hari Lingkungan Hidup sedunia ini diperingati setiap tanggal 5 Juni yang ditetapkan dalam sidang umum PBB tahun 1972 untuk menandai pembukaan Konferensi Lingkungan Hidup di Stockholm. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif. Hari Lingkungan Hidup se-Dunia merupakan instrumen penting yang digunakan PBB untuk meningkatkan kesadaran tentang lingkungan dan mendorong perhatian dan tindakan politik di tingkat dunia. Sebagai milik seluruh masyarakat, hari peringatan ini memberi kesempatan kepada semua orang untuk menjadi bagian aksi global dalam menyuarakan proteksi terhadap planet bumi, pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan serta gaya hidup yang ramah lingkungan.

Setiap tahun selalu terdapat tema berbeda dalam perayaan hari Lingkungan Hidup Sedunia ini. Tema-temanya dipilih oleh UNEP (United Nations Environment Programme; Badan Lingkungan Hidup Dunia). Untuk tahun 2014 ini, tema yang dipilih oleh UNEP adalah “Raise your voice, not the sea level”. Tema ini diangkat terkait dengan penetapan tahun 2014 sebagai International Year of Small Island Developing States (Tahun Internasional untuk Pulau Kecil Negara Berkembang) yang terkait dengan dampak perubahan iklim. Pulau kecil di negara-negara berkembang menjadi kawasan paling terdampak pemanasan global. Kawasan ini paling rentan akan bencana banjir maupun badai sebagai imbas dari global warming. Termasuk jika permukaan air laut mengalami kenaikan akibat pemanasan global. Tema ini sangat berkaitan dengan Indonesia, karena Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dan memiliki lebih dari 13.000 pulau yang sebagian besar di antaranya adalah pulau-pulau kecil. Dengan semakin naiknya permukaan air laut, pulau-pulau kecil semakin rentan untuk tenggelam dan akhirnya hilang.

Salah satu penyebab naiknya permukaan air laut adalah pemanasan global. Sejauh 30 tahun terakhir ini, pemanasan global telah menyebabkan lapisan es di laut Arktik di Kutub Utara menipis sebesar 40%. Di Antartika, lapisan es juga ikut mencair di tingkat yang terlalu cepat. Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat sekitar 10 – 25 cm selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm pada abad ke-21. Di tahun 2100 akan terjadi peningkatan air laut setinggi 15-90 cm. Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun.

Di Indonesia, kenaikan permukaan air laut diprediksikan akan menenggelamkan 50 meter daratan dari garis pantai kepulauan Indonesia yang mempunyai panjang sekitar 81.000 kilometer. Prediksinya sekitar 405.000 hektar daratan Indonesia dan ribuan pulau kecil akan tenggelam dan 14.000 desa di wilayah pesisir akan hilang pada tahun 2015. Belum lagi kerugian yang diakibatkan dari hilangnya ribuan hektar tambak dan sawah di daerah pasang surut akan hilang karena abrasi pantai yang sangat hebat.

Dengan tema Hari Lingkungan Hidup sedunia yang diusung tahun ini, diharapkan masyarakat semakin menyadari bahwa banyak pulau-pulau kecil yang terancam keberadaannya karena naiknya permukaan air laut. Biasanya hingga tahun 2009 dalam rangka merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Indonesia menerbitkan prangko yang bertemakan lingkungan hidup. Apakah tahun ini juga pemerintah akan melakukan hal serupa? Kita tunggu saja. Let’s celebrate the world environmental day! Raise your voice, not the sea level. [dari berbagai sumber]

 

Berbagi Pengalaman di Bedah KP

Hari Sabtu (17/5/2014) yang lalu, Departemen Akademik HMTL mengadakan acara Bedah Kerja Praktik (Bedah KP). Acara yang berlangsung di ruang 9008 ini menghadirkan 3 pembicara, yaitu Yusuf Fadian, Denisa Diviana, dan Astryd Viandilla. Ketiganya merupakan mahasiswa TL 2010 yang pada tahun kemarin telah menyelesaikan kerja praktik.

Materi pertama disampaikan oleh Kak Astryd. Ia bercerita mengenai pengalamannya KP di PT Newmont Nusa Tenggara dengan tema Identifikasi dan Alternatif Pemanfaatan Limbah B3. Sebelumnya, Kak Astryd juga menjelaskan apa saja yang harus disiapkan sebelum berangkat KP, yaitu harus ada surat kepastian diterima KP oleh perusahaan atau instansi yang dituju, ada tanggal kepastian KP dan temanya yang sudah disetujui oleh perusahaan. Setelah itu, calon peserta KP harus menghadap koordinator KP dari TL, yaitu Pak Chaerul, untuk mendapat persetujuan mengenai tema KP dengan mengajukan proposal dan juga kondisi eksisting di tempat KP yang dituju. Jika semua sudah terpenuhi, langkah selanjutnya adalah bertemu dengan dosen pembimbing. Dosen pembimbing Kak Astryd sendiri adalah Ibu Tri Padmi.

Pada saat KP, Kak Astryd menuturkan bahwa yang dilakukannya disana adalah mengidentifikasi jenis limbah B3 yang dihasilkan apa saja, bagaimana pengelolaannya (misalnya dengan minimasi, pelabelan, pewadahan, penyimpanan, pengangkutan, pemanfaatan, dan pengolahannya). Lalu, dilakukan evaluasi pengelolaan limbah B3 tersebut, dan juga dibuat neraca limbah B3. Tips-tips dari Kak Astryd pada saat KP yaitu, KP jangan sendiri, cari koneksi karena siapa tahu bisa tugas akhir disana atau bahkan bekerja di sana. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa KP tidak hanya untu mengetahui bagaimana dunia kerja, tetapi juga sebagai tempat liburan.

Materi dilanjutkan oleh Yusuf, atau biasa dipanggil Kak Ucup, mengenai implementasi Sistem Manajemen Lingkungan (SML) ISO 14001 di Toyota. Pembimbing KP nya adalah Pak Djoni Kusmulyana. SML ISO 14001 sendiri merupakan tandar Internasional untuk sistem manajemen lingkungan, yang memungkinkan organisasi untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan dan tujuan-tujuan yang berkaitan dengan sistem manajemen lingkungan. ISO 14001 ini menganut model PDCA (Plan-Do-Check-Action). Menurut Kak Ucup, KP mengenai ISO 14001 bisa evaluasi implementasi secara keseluruhan maupun hanya implementasi beberapa poin klausalnya saja secara lebih mendetail. Hal yang dilakukan Kak Ucup pada saat KP yaitu mempelajari ISO 14001 dan SML yang diterapkan oleh perusahaan, observasi ke lapangan untuk melihat kesesuaian pekerjaan di lapangan dengan SML yang diterapkan, serta observasi ke lapangan untuk melihat ketercapain klausal ISO 14001. Lalu membandingkan kesesuaian tersebut dengan klausa klausa ISO 14001 dan melihat ketercapaian tiap klausa ISO 14001. Saran Kak Ucup jika ingin KP dengan tema ini adalah lebih baik untuk fokus ke beberapa aspek/klausal dari ISO 14001 karena lebih fokus sehingga bisa digali lebih dalam, selain ISO 14001 pelajari juga sistem manajemen lingkungan yang dimiliki perusahaan, serta minta pada perusahaan/pembimbing di perusahaan untuk observasi ke lapangan.

Materi terakhir disampaikan oleh Kak Denisa, dengan judul KP Evaluasi Pengolahan Air Terproduksi dengan Phenol Treatment Unit di Lapangan Mutiara VICO Indonesia. Dosen pembimbingnya adalah Ibu Mindriany Syafila . Air Terproduksi adalah air yang dihasilkan bersama dengan minyak dan gas. Air terproduksi ini megandung limbah organic yang harus diolah.  Sedangkan Phenol Treatment Unit dikenal dengan Sistem Lumpur Aktif. Prosesnya secara Biologi. Langkah pengerjaan KP menurut Denisa secara umum adalah diskusi dan persiapan, studi literature, pelaksanaan, analisis data dan diskusi, serta penyusunan laporan. Sedangkan langkah pelaksanaan kerja praktik adalah inisiasi, observasi, pengambilan data di lapangan, wawancara, identifikasi masalah, dan evaluasi. Hal yang dievaluasi dari phenol treatment proses diantaranya adalah proses, kriteria desain, SOP, dan efisiensi. Tips pada saat KP dari Kak Denisa adalah selalu senyum, sapa, dan sopan, Interaktif dan inisiatif bertanya, perbanyak link di sana,  manfaatkan waktu sebaik-baiknya, enjoy aja : KP itu Kulap Pribadi loh !

Selain materi di atas, ketiga pembicara juga menuturkan hal-hal apa saja yang harus dilakukan sepulangnya dari KP, yaitu melapor ke dosen pembimbing, menyicil laporan dan bimbingan, membuat form presentasi KP, dan terakhir laporan KP. Jangan lupa untuk membuat timeline bimbingan minimal sebulan 2 kali agar tidak panik di akhir. Selamat liburan, selamat KP!

Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Pada tanggal 31 Mei mendatang, ada satu hari internasional yang berhubungan dengan lingkungan lho, yaitu Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Hari tanpa tembakau sedunia atau World No Tobacco Day (WNTD) berawal dari gagasan WHO di tahun 1987 untuk menarik perhatian global tentang resiko kesehatan terkait penggunaan tembakau. Tujuannya adalah mengajak konsumen tembakau untuk berhenti mengkonsumsi tembakau selama 24 jam dan diharapkan dapat memfasilitasi orang-orang yang ingin berhenti mengkonsumsi tembakau. Pada tahun 1988, perayaan hari tanpa tembakau sedunia ditetapkan setiap tanggal 31 Mei. Pada tahun 2005, ketentuan konvensi kerangka kerja WHO terkait pengendalian tembakau (WHO FCTC) diberlakukan. Sebanyak 175 negara telah meratifikasi perjanjian ini dan menjadi salah satu perjanjian yang paling banyak dianut dalam sejarah PBB.

Setiap tahun, terdapat tema yang berbeda-beda yang menjadi fokus utama di tahun tersebut. Tema tersebut juga menjadi komponen utama dalam agenda WHO terkait tembakau untuk tahun berikutnya. Contoh tema di tahun 2012 adalah ‘stop tobacco industry interference’ dan di tahun 2013 adalah ‘ban tobacco advertising, promotion, and sponsorship’. Untuk tahun 2014 ini, tema yang dipilih oleh WHO adalah ‘raise taxes on tobacco’ atau menaikkan pajak tembakau. Mengapa tema ini yang dipilih?

Penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi pajak, maka akan efektif dalam pengurangan konsumsi tembakau di sektor pendapatan rendah dan mencegah remaja dan anak-anak memulai merokok. peningkatan pajak yang dapat menaikkan harga tembakau sampai 10% dapat menurunkan konsumsi tembakau sampai 4% di negara pendapatan tinggi dan 8% di negara dengan pendapatan rendah sampai menengah. Selanjutnya, peningkatan pajak cukai dianggap sebagai pengendalian tembakau yang paling efektif dari segi biaya. Laporan kesehatan dunia 2010 menunjukkan bahwa peningkatan pajak cukai sebesar 50% akan menghasilkan kurang lebih US$ 1,4 miliar pada anggaran biaya di 22 negara berpenghasilan rendah. Jika dialokasikan untuk bidang kesehatan, anggaran pemerintah untuk bidang tersebut dapat meningkat hingga 50%.

Tujuan spesifik dari tema kampanye 2014 ini adalah:

  • Pemerintah meningkatkan pajak tembakau sampai ke tingkat dimana konsumsi tembakau dapat berkurang
  • Individu dan lembaga masyarakat dapat mendorong pemerintah untuk meningkatkan pajak tembakau sampai ke tingkat dimana konsumsi tembakau dapat berkurang

Sedangkan untuk tujuan utama dari pelaksanaan hari tanpa tembakau sedunia adalah untuk berkontribusi dalam melindungan generasi sekarang dan yang akan datang, bukan hanya dari resiko kesehatan akibat tembakau, namun juga dari aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi dari penggunaan tembakau dan paparan asap tembakau.

Dukungan terhadap hari tanpa tembakau sedunia dilakukan oleh negara-negara dengan berbagai bentuk. Di Australia pada tahun 2012, terdapat peraturan yang mengharuskan kemasan yang polos untuk rokok. Bungkus rokok berwarna coklat dengan tulisan peringatan bahaya kesehatan dan gambar yang berhubungan dengan resiko kesehatan. Tidak ada logo dan kalimat promosi, yang ada hanya merek dan nama produk dengan ukuran kecil di bawah peringatan resiko kesehatan. Australia adalah negara pionir yang memberlakukan peraturan tersebut, disusul oleh Irlandia yang juga menerapkan kebijakan serupa.

Pada tahun 2013, masyarakat di beberapa negara di kepulauan Samudra Pasifik membentuk huruf-huruf WNTD, yaitu kepanjangan dari World No Tobacco Day. Negara yang berpartisipasi adalah Palau dengan huruf W, Niue dengan huruf N, kepulauan Marshall dengan huruf T, dan kepulauan Solomon dengan huruf D. Di Jepang dan Bangladesh, masyarakat melakukan demonstrasi. Di Pakistan, masyarakat menandatangani spanduk sepanjang 150 kaki yang meminta untuk pelarangan iklan, promosi, dan sponsor produk tembakau. Di Singapura, pemerintah melarang penjualan rokok di seluruh penjuru negeri selama 24 jam.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Solo pelajar SD pawai keliling kampung dengan membawa poster bahaya merokok, di Yogyakarta mahasiswa FK UGM menggelar orasi, edukasi, dan sosialisasi mengenai bahaya merokok kepada pengguna jalan sembari membagikan permen, dan di Bali pemerintah provinsi mengeluarkan surat edaran yang isinya menghimbau masyarakat untuk menghentikan kegiatan merokok selama 24 jam dan 90 relawan melakukan aksi simpatik dengan menukar rokok yang sedang dihisap dengan setangkai mawar. Selain itu, komisi penyiaran Indonesia (KPI) melarang penayangan iklan rokok selama hari tanpa tembakau sedunia di media elektronik.

Namun tidak semua pihak setuju dengan adanya peringatan internasional ini. Komunitas pencinta kretek, petani tembakau, dan seniman di Daerah Istimewa Yogyakarta berunjuk rasa menolak hari tanpa tembakau karena dianggap sarat kepentingan asing dan tidak memihak petani.

Sharing Alumni : Pengembangan Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi untuk Masyarakat

Hari Sabtu, 26 April 2013 kemarin HML ITB mengadakan acara sharing alumni dengan bertemakan Pengembangan Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi untuk Masyarakat. Acara tersebut dilaksanakan pada pukul 10.00 dan bertempat di ruang 9008 gedung Teknik Lingkungan dengan pembicara alumni TL tahun 1992, yaitu Deviariandy Setiawan, atau biasa dipanggil Mas Devi. Beliau juga merupakan mantan ketua himpunan HMTL periode 1995-1996. Saat ini beliau bekerja di Water and Sanitation Program di World Bank.

Pada paparannya di acara sharing alumni tersebut, Mas Devi mengacu pada MDGs (Millenium Development Goals) tujuan ke 7, yaitu memastikan kelestarian lingkungan, dengan target point ke 10 yaitu, mengurangi hingga setengahnya proporsi masyarakat Indonesia yang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman dan sanitasi dasar. MDGs sendiri adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan telah diadopsi oleh 189 negara termasuk Indonesia. Saat ini hanya kurang dari setengah  masyarakat Indonesia yang dapat mengakses kebutuhan air minum dan sanitasi yang memadai. Bahkan, di beberapa daerah di Indonesia masih banyak masyarakatnya yang sering buang air besar di sembarang tempat.

Menurut Mas Devi, untuk mencapai perbaikan dalam hal akses air minum dan sanitasi secara menyeluruh, ada 5 aspek yang harus diperhatikan yaitu aspek sosial, fisik, infrastruktur, ekonomi, dan lingkungan. Antara kelima aspek tersebut saling berhubungan, sehingga perbaikan kualitas air bersih dan sanitasi tidak akan berjalan jika mengabaikan salah satu saja dari kelima aspek di atas. Air bersih dan sanitasi merupakan hak asasi manusia, oleh karena itu pemerintah perlu memperhatikan kemampuan akses masyarakat secara menyeluruh mengenai air bersih dan sanitasi ini. Minimal targetnya adalah pada tahun 2025 tidak ada lagi masyarakat yang buang air besar sembarangan. Prinsip utama untuk mencapai hal tersebut yaitu mengurangi kesenjangan sanitasi antara masyarakat yang tinggal di daerah maju dan  yang di daerah tertinggal.

Untuk mengatasinya, dalam  level of service, perlu dilakukan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan. Pembangunan harusnya dianalisis dari awal sebenarnya pembangunan infrastruktur tersebut bertujuan untuk apa dan bagaimana pendapat dari masyarakat sekitarnya. Selain itu perlu diperhatikan juga biaya perawatannya karena tidak semua masyarakat punya kemampuan finansial yang mencukupi. Sebenarnya ada salah satu indikator yang menandakan bahwa masyarakat tertarik terhadap pembangunan infrastruktur, yaitu adanya willingness to pay yaitu adanya partisipasi finansial atau keinginan untuk turut membayar dari masyarakat. Hal tersebut dapat terjadi karena masyarakat merasa membutuhkan pembangunan infrastruktur tersebut.

Tak hanya berbicara mengenai air minum dan sanitasi saja, dalam sharing alumni tersebut Mas Devi juga sedikit berbagi pengalaman saat bekerja di World Bank. Menurutnya, salah satu pengalaman yang paling berkesan selama bekerja di sana adalah berkesempatan untuk bekerja sama dengan orang yang buta huruf. Hal tersebut menjadi tantangan karena berkomunikasi dengan dengan orang yang buta huruf tentu berbeda dengan berkomunikasi dengan orang kebanyakan pada umumnya. Mas Devi juga berpendapat bahwa, komunikasi yang baik merupakan salah satu kunci dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan di masyarakat.

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB