Category Archives: Sosial Masyarakat

Gerakan Berbagi : Cerita Malam Ramadhan

Jurnalistik oleh  Ainun Asifa

Dokumentasi oleh  M. Fathiaji, Almer Fadhilezar, Syaviera Putri

Pernahkah kamu berjalan kaki di sekitar pusat kota bandung pada malam hari? Berjalan di trotar dan dan melihat emperan toko yang gelap dan sunyi? Trotoar jalanan bandung memang cukup lebar dan sangat nyaman untuk dipakai berjalan kaki hingga ramai dipakai untuk memperoleh keuntungan dengan berdagang di siang hari. Namun ketika malam tiba, tempat-tempat tersebut berubah menjadi “kamar tidur” bagi mereka yang tak memiliki tempat bernaung atau biasa kita sebut tunawisma. Massa HMTL beruntung karena dapat bekerja sama dengan Gerakan Berbagi dan kabinet KM ITB untuk membagikan makanan kepada para tunawisma dan melihat sekilas realita kota Bandung di malam hari.

Pada malam ke-4 bulan Ramadhan, seselesainya kami melaksanakan sholat tarawih, beberapa massa HMTL, pengurus Gerakan Berbagi, dan perwakilan kabinet KM ITB berkumpul di depan masjid PDAM untuk briefing sebelum berangkat menuju lokasi. Sesampainya di lokasi, yaitu sekitaran Jl. Banceuy, kami berkumpul kembali untuk briefing kedua dan mengambil makanan yang akan dibagikan. Setelah itu kami langsung menyebar dan membagikan nasi kotak yang kami pegang kepada para tunawisma di sana.

Usia para tunawisma ini beragam, mulai dari yang masih muda, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga kakek-kakek yang sudah tua renta. Salah satu tunawisma yang kami temui adalah sepasang suami istri yang baru satu minggu menjajaki Bandung. Mereka adalah pedagang asongan yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta namun tiba-tiba dirazia petugas sebulan yang lalu. Semua dagangan, uang, dan alat komunikasi mereka diambil oleh petugas. Pada awalnya mereka dikirim ke rumah sosial di Jakarta, namun tak lama kemudian mereka dipindahkan ke ciamis. Di ciamis mereka disatukan dengan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Tak lama kemudian mereka dikeluarkan begitu saja di daerah yang sama sekali mereka tidak ketahui hanya dengan bermodal pakaian di badan.

Mereka sangat menyayangkan dirampasnya semua modal yang mereka punya. Bagi petugas hal itu mungkin tidak terlalu bernilai, namun dari dagangan itu mereka dapat menyekolahkan anak mereka hingga bangku kuliah. Anak pertama mereka sudah bekerja, anak kedua sedang duduk di bangku kuliah, dan anak ketiga sedang duduk di kelas 4 SD. Mereka sangat sedih karena tidak dapat mengetahui kondisi anak terakhirnya apakah naik kelas atau tidak. Mereka memiliki 3 anak namun tidak satu pun dapat dihubungi karena alat komunikasi mereka yang juga diambil oleh petugas. Walau dengan segenap kesulitan yang mereka hadapi, mereka memiliki prinsip untuk tidak pernah merepotkan anak. Saat ini mereka sedang mengusahakan uang santunan mualaf dari Aa Gym agar dapat dijadikan modal berdagang kembali dan penghasilannya dapat digunakan untuk pulang ke rumah.

Masih terngiang di benak bapak bagaimana kasarnya mereka diperlakukan oleh petugas. “Label nama di baju mereka ditutup. Kalau saat itu terlihat, saya akan ingat terus nama-nama itu. Saya dendam kepada mereka”, kata bapak. Pernah terbayang seseorang nun jauh di sana entah bertahun-tahun lamanya menyimpan dendam pada kita atas perbuatan zholim yang kita lakukan pada mereka? Sebuah tamparan untuk kami yang katanya merupakan calon-calon pemimpin bangsa. Sebuah pengingat bahwa setiap kebijakan dan keputusan apa pun yang dilaksanakan akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung pada rakyat kecil. Pernah terbayang emperan toko menjadi tempat bernaung, kardus menjadi alas tidur, karung dan spanduk bekas jadi selimut? Sebuah sentilan untuk kami yang terlalu sering mengeluh pada hal-hal yang sebenarnya sepele. Sebuah pemicu untuk terus bersyukur dan selalu berusaha pada kondisi apa pun.

Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan berkembang agar dapat mencairkan hati-hati kami yang membeku dan melepaskan kungkungan pemikiran-pemikiran modernitas kami yang hanya memanjakan hawa nafsu.

 

TEBAS DOSA (Tebar Sayang Donor Ganesha)

Tebas Dosamu dengan Setetes Darahmu!


Tebas Dosa merupakan program pengabdian masyarakat yang berada dibawah beberapa himpunan mahasiswa di ITB. Tebas Dosa diadakan sebagai bentuk kolaborasi kami, yaitu HMS, HMP, IMG, IMA-G, dan juga HMTL sebagai pemrakarsa, untuk menggerakan rasa kemanusiaan warga kampus dan mewadahi keinginan warga kampus untuk membantu sesama. Sesuai dengan nama acara kami yaitu Tebas Dosa, Tebar Sayang Donor Ganesha, yang dalam hal ini adalah dengan menebar sayang kami di panti jompo (pre-event) dan donor darah di kampus tercinta (main event)

International Day of Charity yang diperingati setiap tanggal 5 September menjadi momentum baik untuk berbuat kebaikan.


PRE EVENT: TEBAS DOSA GOES TO PANTI JOMPO

Keberadaan panti jompo khususnya di Bandung, kurang menjadi perhatian di masyarakat. Kami merasa resah, ingin sekedar menanyakan kabar atau beramah tamah dengan kakek-nenek, oma-opa di sana. Kami ingin memberikan sedikit kasih sayang, mendengarkan cerita, memberikan cerita, dan menyenangkan hati mereka. Dari beberapa survey yang dilakukan akhirnya kami menentukan Panti Jompo Tresna Elderly Social Institution Mother Care sebagai destinasi kami.

10 September 2017

Pagi-pagi peserta sudah berkumpul di kampus ITB Ganesha untuk briefing, kemudian kami berangkat ke panti bersama-sama. Di sana peserta sudah disambut oleh oma-opa di ruang tengah. Dimulai dengan pembukaan serta sambutan dari ketua pelaksana serta perwakilan dari panti. Di sana, seluruh peserta senam pagi, bermain games, dan bernyanyi bersama-sama oma-opa serta pengurus disana. Ada yang pandai bernyanyi, berjoget, bahkan ada yang usil juga. Semuanya senang sekali! Sesi terakhir acara adalah sharing, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk mengobrol dan mengenal lebih dalam oma-opa disana. Ada yang menceritakan bisnis kulinernya yang amat sukses, ada yang amat pandai memberikan petuah-petuah di usianya yang sudah senja, ada yang menceritakan kisahnya ketika jaman penjajahan dulu pandai banget berbicara bahasa belanda, ada yang minta dipijat, ada yang kelelahan ingin tidur, ada yang ketika sharing diberi kejutan oleh keluarganya (biarpun beliau sempat lupa sejenak), ada yang senang sekali menerima bingkisan terutama minyak kayu putih dari peserta.

“Nenek seneng sekali dapet minyak kayu putih ini nenek tidak punya… Nanti kesini lagi yaa bawa teh melati”

SIAP nek jika ada kesempatan kami akan berkunjung lagi!

Masing-masing dari peserta mendapatkan pengalaman yang berbeda-beda namun sama berharganya. Semoga kakek-nenek, oma-opa senantiasa diberikan kesehatan dan dilimpahkan kebahagiaan ya..

Aamiin

Artikel8-1

Artikel8-2

Artikel8-3

Artikel8-4


MAIN EVENT: TEBAS DOSA DONOR GANESHA!

Didukung dengan fakta-fakta yang ada bahwa persediaan darah di Indonesia sendiri belum cukup tersedia. Sehingga dengan ini diharapkan kami dapat membantu kinerja PMI dalam rangka mengumpulkan kantung demi kantung darah sehingga dapat dimanfaatkan demi menyelamatkan jiwa manusia. Pada kesempatan kali ini kami bekerja sama dengan PMI Sumedang.

15 September 2017

Sekitar pukul 12.30 peserta beserta PMI sedang melakukan persiapan donor darah di Labtek V. Sebelum gate dibuka, sudah ada beberapa orang yang datang dan mendaftarkan diri, diikuti oleh calon-calon pendonor lainnya. Apresiasi sebesar-besarnya untuk antusiasme calon-calon pendonor! Meskipun harus menunggu antrian yang cukup panjang namun mereka tetap menunggu dengan sabar. Pada pukul 16.15 WIB dengan berat hati pendaftaran harus ditutup karena 100 buah labu penampung darah sudah hampir habis. Raut wajah kecewa calon-calon pendonor yang terpaksa harus ditolak di meja registrasi menjadi bukti ketulusan hati mereka. Ucapan maaf dan terima kasih sebesar-besarnya bagi seluruh pendonor yang baik hatinya <3

Artikel8-5

Artikel8-6

Artikel8-7

“No act of kindness, no matter how small, is ever wasted.”

 

With Love, Cepat Tanggap.