Category Archives: Isu Lingkungan

Gerakan untuk Masa Depan


Global Climate Strike 2019

Jurnalis : Reza Rahmaditio

“My message is that we’ll be watching you. This is all wrong. I shouldn’t be up here. I should be back in school on the other side of the ocean. Yet you all come to us young people for hope. How dare you. You have stolen my dreams and my childhood with your empty words. Yet I am one of the lucky ones. People are suffering.”

– Greta Thurnberg

Itulah kata-kata yang diucapkan seorang gadis berumur 16 tahun di hadapan para pemimpin dunia pada UN Summit 2019 di New York, tanggal 23 September 2019. Greta yang telah menjadi ikon aktivisme kaum muda terhadap perubahan iklim, pada awalnya hanya seorang gadis berumur delapan tahun yang bertanya-tanya mengapa perubahan iklim tidak menjadi tajuk utama dalam kanal-kanal berita. seolah-olah ada perang dunia yang sedang terjadi tetapi tidak ada yang peduli, katanya ketika berbicara di TEDxStockholm. Kegusarannya terhadap permasalahan iklim ini memuncak pada Agustus 2018, setelah fenomena gelombang panas dan kebakaran hutan terjadi di Swedia. Dia memutuskan untuk mogok sekolah sampai 9 September 2018 (pemilahan umum Swedia), dan melangsungkan aksi protes seorang diri dengan duduk di depan gedung parlemen sambil memegang papan bertuliskan “SKOLSTREJK FOR KLIMATET” (mogok sekolah untuk iklim). Tuntutannya adalah bahwa pemerintah Swedia mengurangi emisi karbon sesuai dengan Persetujuan Paris. Seakan belum puas, paska pemilihan umum Greta terus melanjutkan aksinya pada setiap hari Jumat. Aksinya pun menjadi sorotan media, dan tak lama kemudian menjadi sorotan dunia. Gelombang gerakan mogok sekolah tersebut beramplifikasi ke berbagai penjuru dunia. Tercatat, pada Desember 2018, lebih dari 20.000 siswa telah melakukan pemogokan di setidaknya 270 kota. Berbagai nama dan tagar gerakan baru muncul, mulai dari “Fridays For Future” sampai yang terakhir berlangsung adalah “Global Climate Strike”. Bermula dari pelajar, sekarang gerakan ini sudah tidak mengenal lagi latar belakang dan status sosial. Semuanya bersatu melawan perubahan iklim.

Dilansir dari The Guardian, aksi “Global Climate Strike” yang dilaksanakan pada tanggal 20 September 2019 dinobatkan sebagai aksi protes iklim terbesar yang pernah ada. Aksi ini digelar serentak di 185 negara dengan melibatkan jutaan orang yang berasal dari LSM, Lembaga Pendidikan, korporasi, juga masyarakat sipil tentunya. Secara global, aksi ini menggaris bawahi terjadinya fenomena climate crisis di dunia yang utamanya diakibatkan oleh emisi gas rumah kaca (GRK) dari penggunaan bahan bakar fosil. Istilah climate crisis  digunakan sebagai bentuk ekspresi dari perubahan iklim yang kian parah.

HMTL di “Global Climate Strike” cabang Jakarta

Di Indonesia, aksi ini berlangsung di 19 kota, yaitu Aceh, Samosir, Bengkulu, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Cirebon, Cilegon, Garut, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Bali, Palangkaraya, Palu, Kupang dan tentunya Jakarta sebagai titik fokusnya. Di Jakarta, lebih dari 700 orang yang berasal dari sekitar 50 komunitas dan masyarakat sipil ikut andil dalam meramaikan aksi damai ini. Rangkaian acara aksi ini berupa long march; orasi dan pembacaan tuntutan; dan pertunjukkan seni. Para peserta aksi berkumpul di depan balai kota pada sekitar pukul dua siang untuk bersiap memulai long march. Ketika itu juga, rombongan HMTL sampai di lokasi setelah menempuh sekitar lima jam perjalanan dari kampus ITB. Salah satu panitia menyambut kedatangan kami dengan memberikan penjelasan singkat mengenai aksi dan memberi atribut berupa ikat kepala kuning bertuliskan “Jeda Untuk Iklim”. Disediakan juga properti aksi seperti poster dan spanduk yang terbuat dari barang bekas, dengan desain yang persis seperti pada aksi climate strike di luar negeri. Ditambah lagi, peserta aksi yang tidak sedikit adalah bule, semakin menciptakan suasana yang mirip seperti aksi climate strike di eropa. Yang membedakannya hanyalah hawa panas dan teriknya matahari Jakarta yang membuat ingin cepat-cepat balik lagi ke Bandung.

Dari awal kedatangan kami ke lokasi aksi, kehadiran kami rupanya cukup menarik perhatian media maupun peserta lainnya karena atribut jaket himpunan yang kami kenakan. Sejauh penglihatan kami di sana, memang hanya rombongan HMTL yang memakai “seragam”. Peserta lain mengenakan pakaian biasa walau beberapa ada juga yang mengenakan kaus organisasinya. Selain karena ada nama ITB yang tertera di dada kiri kami, mungkin memakai jaket tebal pada siang hari di Jakarta memang suatu hal yang wajar menarik perhatian orang-orang. Namun, akibat itu juga kami jadi dikenali beberapa alumni TL yang kebetulan juga ikut serta dalam aksi.

Salah satu hal yang unik dari aksi ini adalah energi yang digunakan 100% berasal dari energi terbarukan. Mulai dari mobil komando, speaker, dan peralatan elektronik lainnya, semuanya tersambung ke panel surya. Mobil komando yang merupakan mobil listrik, bersama dengan beberapa kendaraan listrik lainnya memimpin jalannya rangkaian acara long march menuju taman aspirasi yang jaraknya kurang lebih tiga kilometer dari balai kota. Selama satu setengah jam berjalan, peserta tanpa henti-hentinya menyanyikan berbagai yel-yel dipimpin oleh beberapa panitia yang memegang pengeras suara. Salah satu yel-yel yang paling dapat menggambarkan suasana aksi tersebut adalah:

Kalau kau cinta bumi teriak Bumi!, BUMI!!

Kalau kau cinta bumi teriak Bumi!, BUMI!!

Kalau kau cinta Bumi dan ingin menjaganya, mari kita bersama teriak Bumi!, BUMI!!

Mungkin karena pada awalnya aksi ini milik kaum muda, sehingga semua yel-yel yang dipakai sejenis dengan yel-yel tersebut. Memang tidak ada yang salah karena ini sebatas aksi damai. Namun, terasa sedikit menggelitik ketika yel-yel tersebut dinyanyikan oleh peserta yang didominasi orang-orang dewasa. Apalagi peserta bule yang dapat dipastikan tidak mengerti artinya. Sedari awal memang terlihat bahwa aksi ini ingin dikemas dalam bentukan yang menyenangkan – salah satunya dengan melibatkan anak-anak kecil – walaupun konten yang diangkat cukup serius.  Entah ini metode seperti ini tepat atau tidak untuk digunakan dalam keadaan yang katanya ‘genting’ ini (krisis iklim). Namun, yang jelas jenis aksi seperti ini telah menambah warna baru dalam corak pergerakan di Indonesia, yang selama ini dapat dikatakan masih monokrom.

Kembali ke rangkaian acaranya. Sesampainya di taman aspirasi monas, pertunjukan seni berupa music tradisional menyambut kedatangan peserta aksi sekaligus mengisi kekosongan sebelum mata acara selanjutnya dimulai. Selama berada di taman aspirasi, sebetulnya tidak banyak kegiatan yang kami lakukan. Beberapa kali kami bertemu dan berfoto dengan alumni-alumni TL. Beberapa kali juga kami diwawancara oleh berbagai media, mulai dari media dalam kampus, nasional hingga internasional. Sementara itu, rangkaian acara terus berlanjut, berisikan orasi dari perwakilan elemen-elemen masyarakat tentang krisis iklim dan pembacaan tuntutan untuk pemerintah. Hari semakin gelap dan waktu menunjukan pukul lima. Atas beberapa pertimbangan, kami memutuskan untuk meninggalkan acara dan pulang lebih dulu. Yang pertama, tuntutan yang kami (HMTL) bawa berbeda dengan yang gerakan ini bawa. Walau dalam satu visi yang sama, namun terdapat poin tuntutan yang belum dapat kami sepakati pada saat itu, yaitu terkait deklarasi krisis iklim. Dalam dokumen pernyataan sikap HMTL, terdapat tiga poin tuntutan sebagain berikut.

  1. Menuntut pemerintah untuk melaksanakan tindakan preventif terhadap potensi kebakaran hutan tahunan di Indonesia sebagai wujud pelaksanaan komitmen terhadap National Determined Contribution (NDC).
  2. Menuntut pemerintah untuk menjaga angka deforestasi di bawah 0.45 juta Ha per tahun demi memenuhi target National Determined Contribution (NDC) tahun 2020. Sejalan dengan itu, pemerintah juga perlu meningkatkan angka reforestasi yang saat ini masih sangat timpang dibanding deforestasi.
  3. Mendorong pemerintah untuk memperbaiki mekanisme pelaksanaan REDD+ di Indonesia agar sesuai dengan kondisi sosial budaya di Indonesia, sebagai wujud pelaksanaan komitmen terhadap National Determined Contribution (NDC).

Pertimbangan lainnya adalah perjalanan ke Bandung yang akan memakan waktu lama sehingga perlu diantisipasi dengan berangkat lebih awal. Benar saja, saat itu jalanan macet luar biasa. Butuh waktu tujuh jam hingga kami sampai di Jalan Ganesha. Namun, seluruh rasa Lelah – dan kantuk terutama – yang kami rasakan selama dari persiapan hingga ekskusi, terbayarkan dengan rasa bangga atas capaian yang tidak terduga-duga. Bermodalkan semangat dan optimisme, akhirnya HMTL dapat melampaui ekspektasi terhadap dirinya sendiri.

Gerakan Berbagi : Cerita Malam Ramadhan

Jurnalistik oleh  Ainun Asifa

Dokumentasi oleh  M. Fathiaji, Almer Fadhilezar, Syaviera Putri

Pernahkah kamu berjalan kaki di sekitar pusat kota bandung pada malam hari? Berjalan di trotar dan dan melihat emperan toko yang gelap dan sunyi? Trotoar jalanan bandung memang cukup lebar dan sangat nyaman untuk dipakai berjalan kaki hingga ramai dipakai untuk memperoleh keuntungan dengan berdagang di siang hari. Namun ketika malam tiba, tempat-tempat tersebut berubah menjadi “kamar tidur” bagi mereka yang tak memiliki tempat bernaung atau biasa kita sebut tunawisma. Massa HMTL beruntung karena dapat bekerja sama dengan Gerakan Berbagi dan kabinet KM ITB untuk membagikan makanan kepada para tunawisma dan melihat sekilas realita kota Bandung di malam hari.

Pada malam ke-4 bulan Ramadhan, seselesainya kami melaksanakan sholat tarawih, beberapa massa HMTL, pengurus Gerakan Berbagi, dan perwakilan kabinet KM ITB berkumpul di depan masjid PDAM untuk briefing sebelum berangkat menuju lokasi. Sesampainya di lokasi, yaitu sekitaran Jl. Banceuy, kami berkumpul kembali untuk briefing kedua dan mengambil makanan yang akan dibagikan. Setelah itu kami langsung menyebar dan membagikan nasi kotak yang kami pegang kepada para tunawisma di sana.

Usia para tunawisma ini beragam, mulai dari yang masih muda, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga kakek-kakek yang sudah tua renta. Salah satu tunawisma yang kami temui adalah sepasang suami istri yang baru satu minggu menjajaki Bandung. Mereka adalah pedagang asongan yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta namun tiba-tiba dirazia petugas sebulan yang lalu. Semua dagangan, uang, dan alat komunikasi mereka diambil oleh petugas. Pada awalnya mereka dikirim ke rumah sosial di Jakarta, namun tak lama kemudian mereka dipindahkan ke ciamis. Di ciamis mereka disatukan dengan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Tak lama kemudian mereka dikeluarkan begitu saja di daerah yang sama sekali mereka tidak ketahui hanya dengan bermodal pakaian di badan.

Mereka sangat menyayangkan dirampasnya semua modal yang mereka punya. Bagi petugas hal itu mungkin tidak terlalu bernilai, namun dari dagangan itu mereka dapat menyekolahkan anak mereka hingga bangku kuliah. Anak pertama mereka sudah bekerja, anak kedua sedang duduk di bangku kuliah, dan anak ketiga sedang duduk di kelas 4 SD. Mereka sangat sedih karena tidak dapat mengetahui kondisi anak terakhirnya apakah naik kelas atau tidak. Mereka memiliki 3 anak namun tidak satu pun dapat dihubungi karena alat komunikasi mereka yang juga diambil oleh petugas. Walau dengan segenap kesulitan yang mereka hadapi, mereka memiliki prinsip untuk tidak pernah merepotkan anak. Saat ini mereka sedang mengusahakan uang santunan mualaf dari Aa Gym agar dapat dijadikan modal berdagang kembali dan penghasilannya dapat digunakan untuk pulang ke rumah.

Masih terngiang di benak bapak bagaimana kasarnya mereka diperlakukan oleh petugas. “Label nama di baju mereka ditutup. Kalau saat itu terlihat, saya akan ingat terus nama-nama itu. Saya dendam kepada mereka”, kata bapak. Pernah terbayang seseorang nun jauh di sana entah bertahun-tahun lamanya menyimpan dendam pada kita atas perbuatan zholim yang kita lakukan pada mereka? Sebuah tamparan untuk kami yang katanya merupakan calon-calon pemimpin bangsa. Sebuah pengingat bahwa setiap kebijakan dan keputusan apa pun yang dilaksanakan akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung pada rakyat kecil. Pernah terbayang emperan toko menjadi tempat bernaung, kardus menjadi alas tidur, karung dan spanduk bekas jadi selimut? Sebuah sentilan untuk kami yang terlalu sering mengeluh pada hal-hal yang sebenarnya sepele. Sebuah pemicu untuk terus bersyukur dan selalu berusaha pada kondisi apa pun.

Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan berkembang agar dapat mencairkan hati-hati kami yang membeku dan melepaskan kungkungan pemikiran-pemikiran modernitas kami yang hanya memanjakan hawa nafsu.

 

Sungai Modern: Pusat Kekumuhan

Oleh: M. Adil Setsu (15314051)

Disclaimer:

Tulisan ini adalah Pemenang Lomba Menulis Bulan Oktober 2017.


Daerah kumuh umum sekali ditemukan terletak di daerah bantaran sungai. Setiap foto yang menunjukkan kondisi kekumuhan suatu daerah pasti juga menunjukkan kondisi sungai yang tak kalah memprihatinkannya. Hal ini merupakan suatu kewajaran karena sejatinya sudah menjadi nature dari manusia untuk hidup di dekat sungai atau sumber air lainnya.

Artikel7-1

Bila mengintip sejarah umat manusia, pusat peradaban pertama di bumi yang bermula pada tahun 6500 sebelum masehi juga ditemukan dekat dengan sungai: Mesopotamia, kini merupakan daerah Irak. Berbagai kebudayaan besar, seperti Sumeria, Babilonia, Akkadia, dan Asiria muncul dan berkembang di Mesopotamia tak lain dan tak bukan berkat keberadaan Sungai Efrat dan Sungai Tigris yang saling bertemu. Berkat kedua sungai itu, kebutuhan akan air bersih, seperti minum, irigasi, dan bebersih diri, dapat dipenuhi masyarakat.

Tak hanya Mesopotamia, pusat-pusat peradaban dunia yang muncul dan berkembang setelahnya pun erat hubungannya dengan keberadaan sungai. Sebut saja Mesir Kuno dengan Sungai Nil, Harappa yang kini merupakan daerah Pakistan dan sekitarnya dengan Sungai Indus, serta Tiongkok kuno dengan Sungai Kuning dan Sungai Yangtze.

8500 tahun kemudian dan manusia tetap menjadikan sungai sebagai pusat peradaban. Namun sungai zaman dahulu dan sungai di era modern ini amatlah berbeda. Sungai zaman dahulu sangat dapat dipastikan kualitasnya, namun di era yang memberi beban limbah amat besar kepada sungai, kualitasnya amat meragukan, terutama di negara-negara berkembang yang sedang pesat kemajuan industrinya. Maka dari itu, sungai sebenarnya sudah tidak lagi menjadi pilihan sumber kehidupan terbaik, terutama untuk daerah perkotaan metropolitan.

Tidak jauh dari Kampus Ganesha ITB, realitas seberapa memprihatinkannya kombinasi kawasan kumuh dan sungai tercemar dapat dirasakan di kawasan Plesiran, Taman Hewan, Kebon Bibit, serta kawasan-kawasan lainnya sepanjang Sungai Cikapundung. Menurut warga setempat, pemilihan bantaran Sungai Cikapundung sebagai sandang utama mereka adalah karena mudahnya akses air untuk digunakan mandi dan mencuci, serta akses pembuangan air limbah, baik black water maupun gray water, yang mana kedua akses tersebut dimanfaatkan secara langsung dari atau ke sungai tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu.

Artikel7-2

Kolaborasi antara kawasan kumuh dan sungai tercemar ini memang secara langsung menguntungkan warga, namun di lain sisi terdapat dampak negatif yang secara langsung maupun tidak langsung dirasakan bagi kedua pihak. Kondisi sanitasi yang buruk akibat kondisi awal sungai yang sudah tercemar serta pola hidup masyarakat yang buruk pula dalam menjaga sanitasi tentu dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Kemudian, sungai yang awalnya sudah tercemar menjadi lebih tercemar lagi karena mendapat beban limbah yang langsung dihasilkan oleh masyarakat ke sungai. Belum lagi, berkurangnya daerah resapan sungai yang dihalangi oleh infrastruktur milik masyarakat di bantaran sungai dapat menyebabkan banjir yang langsung merugikan masyarakat di kawasan kumuh tersebut bahkan hingga kawasan-kawasan lainnya juga terkena dampak banjir. Maka dari itu, sesegera mungkin kolaborasi ini harus disudahi. Bila tidak, masalah-masalah tersebut akan terus timbul dan merugikan berbagai pihak.

Dalam penyelesaian masalah ini, berbagai bidang keahlian perlu dikerahkan. Salah satunya yang erat dengan keilmuan Teknik Lingkungan adalah River Engineering and Management. Bidang ini masihlah sangat jarang menjadi sorotan di Indonesia. Padahal, kunci dari menyelesaikan masalah daerah kumuh di bantaran sungai hingga masalah kualitas sumber air dan banjir adalah dengan merekayasa sungai itu sendiri. Sungai modern telah berubah menjadi sumber banjir, sumber penyakit, dan sumber kekotoran. Lalu, apakah masih layak menyebut sungai sebagai sumber peradaban dan sumber kehidupan? []

100% Akses Keberlangsungan Hidup

Oleh: Siti Fatimah (15314029)

Disclaimer:

Tulisan ini adalah Pemenang Lomba Menulis Bulan September 2017.


Penyediaan air bersih kepada masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan lingkungan atau kesehatan masyarakat, yang memiliki peran dalam mengurangi jumlah orang dengan penyakitnya, terutama penyakit yang berhubungan dengan air, dan berperan penting dalam meningkatkan standar atau tingkat (kualitas) hidup. Sampai saat ini, penyediaan air bersih bagi masyarakat masih dihadapkan pada beberapa masalah yang kompleks dan sampai sekarang belum dapat sepenuhnya diatasi. Salah satu masalah yang kita hadapi saat ini adalah masih rendahnya tingkat pelayanan air kepada masyarakat. Sehingga, hal itu akan memiliki efek pada kesehatan manusia.

Artikel6-1

Pemerintah menargetkan cakupan pelayanan akses air minum dan sanitasi masyarakat Indonesia bakal mencapai 100 persen pada 2019 sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada 2015, capaian akses air minum di Indonesia mencapai 70,97 persen. 72 Juta Penduduk Republik Indonesia belum memiliki akses air minum yang layak. Saat musim kemarau, jumlah penduduk yang mendapat akses air minum dipastikan kurang dari 70,97 persen.

Berdasarkan data dari Kementerian Riset dan Teknologi, pada tahun 2000 secara nasional ketersediaan air permukaan hanya mencukupi 23 persen dari kebutuhan penduduk. Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan akses air minum di Indonesia, perlu adanya pemberdayaan sumber air baku selain air permukaan diantaranya seperti mata air, air tanah, dan air angkasa.

Terdapat tiga langkah strategis untuk dapat mewujudkan 100 persen akses air minum di Indonesia. Langkah pertama, pemenuhan akses air minum 100 persen di tahun 2019 tentunya harus disertai dengan kualitas air minum yang baik agar derajat kesehatan masyarakat Indonesia meningkat. Jika kualitas air minum terjaga, angka kematian bayi sebanyak 100 ribu orang/tahun akibat diare dapat berkurang. Baik tidaknya kualitas air minum yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber air baku dan kinerja dari unit pengolahan yang dioperasikan. Sumber air baku di Indonesia melimpah, hanya saja maraknya pencemaran domestik menjadikan kualitas air semakin lama semakin buruk. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air baku tetap baik adalah mempromosikan kepada masyarakat perihal cara hidup sehat dan impact dari pencemaran lingkungan, sehingga memunculkan tumbuhnya kesadaran untuk menjaga lingkungan yang berasal dari masyarakat.

Langkah strategis kedua yang dapat dilakukan untuk mewujudkan terciptanya akses air minum 100 persen adalah menaikkan anggaran untuk meningkatkan fasilitas akses air bersih. Tanpa adanya dana yang dapat menunjang kebutuhan operasional sistem penyediaan air minum, target tersebut hanya akan menjadi harapan. Berdasarkan data kinerja PDAM yang diterbitkan BPPSPAM tahun 2013, Terdapat 20 persen dari 350 PDAM yang ada di Indonesia memiliki kinerja sakit dengan ciri khas yaitu tidak dapat atau susah berkembang, menderita kerugian, sumber daya yang terbatas, penyelesaian pinjeman bermasalah, dan memiliki cakupan pelayanan yang rendah atau kurang dari 10 ribu Sambungan Rumah. Anggaran yang digunakan sebagai modal dan yang didapat dari konsumen sangat mempengaruhi kinerja PDAM dalam mengolah air baku menjadi air minum.

Langkah ketiga dapat diambil jika anggaran yang diberikan oleh pemerintah dari APBN maupun APBD mencapai titik maksimum, sehingga tidak dapat diangkat lebih jauh, pemerintah harus mencari investor yang dapat menginvestasikan uangnya untuk pembangunan, operasional, dan pemeliharaan instalasi air minum.

Penyediaan air minum di Indonesia sudah tidak bisa dikelola dengan sistem konvensional. Mengambil air dari sungai, mengolah, dan mendistribusikan kepada masyarakat. Dengan menurunnya kualitas dan kuantitas air sungai yang mengalami degradasi akan menyebabkan biaya operasional akan lebih tinggi. Hal ini akan berimbas dengan tingginya biaya yang dibebankan kepada konsumen. Sehingga diperlukan inovasi teknologi untuk mengatasi masalah ini.

Artikel6-2

Saat ini, sedang berkembang teknologi yang bernama “Natural Treatment Plant” yang diadopsi dari Jerman. Pengoprasiannya dilakukan dengan cara menyadap air langsung dari akuifer di dalam tanah dan mendistribusikan ke hilir. Lapisan akuifer di daerah pegunungan digali atau dicoblos dengan pipa-pipa dan dibuat terowongan bawah tanah. Pada terowongan tersebut disediakan lubang-lubang untuk masuknya air tanah. Pengambilannya dilakukan seperti sumur biasa yang lazim ditemui di Indonesia. Pipa-pipa horizontal yang menyebar mengelilingi dasar sumur dipasang sepanjang 60 meter sehingga memperbesar kapasitas penyadapan. Air sadapan tersebut akan ditampung di reservoar untuk didistribusikan ke kota atau daerah. Topografi di Indonesia yang memiliki pegunungan dan perbukitan yang banyak tersebar berpotensi menjadi menara air yang sangat besar. Keuntungan yang diperoleh sangat besar, karena tidak membutuhkan bahan kimia untuk mengolah air minum. Selain itu tidak diperlukan pompa distribusi karena letak reservoar berada di pegunungan. Kualitas air yang dihasilkan sekelas natural mineral water. Kualitas dan kontinuitas terjamin, dan daerah tangkapan air dapat dikonservasi.

“Bagi Pulau Jawa yang memiliki banyak daerah gunung api dan pegunungan dengan curah hujan yang tinggi, seharusnya tidak perlu mengalami kesulitan air. Justru fenomena aneh yang ada. Air yang begitu jernih keluar dari mata air dengan melimpah, kemudian mengalir ke sungai dan dicemari oleh limbah pertanian, domestik, industri, sampah hingga berwarna coklat dan berbau. Lalu diambil untuk air baku, diolah, didistribusikan, dan dikonsumsi oleh masyarakat. Mengapa tidak diambil di mata air saja dengan disadap lalu didistribusikan ke bawah?”

Mari kita pergunakan sumber air dengan bijak serta membantu pemerintah menyukseskan program 100-0-100. Jadi 100? Atau tidak sama sekali? []

 

 

Yakinkah 2019 Akan Tercapai Akses Universal?

Oleh: Fadil Saeful Isnan (15314100)


Kebutuhan dasar warga negara salah satunya adalah kesehatan. Hal ini dapat dicapai dengan mempertimbangkan beberapa hal antara lain air minum, permukiman, dan sanitasi. Ketiga hal ini harus dijaga dengan baik agar usaha menjaga kesehatan lebih mudah dan kesejahteraan meningkat. Konsep ini erat kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals.yang digagas oleh PBB dengan target hingga tahun 2030. Konsep ini merupakan dasar bagi pengelolaan lingkungan secara global. Selain itu, kita juga telah tahu ada segitiga kunci dalam pembangunan berkelanjutan yaitu adanya irisan dari pemenuhannya kebutuhan lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Sustainable Development Goals oleh pemerintah Indonesia dimaknai dengan berbagai program. Salah satu program yang digagas pemerintah khususnya oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) adalah Program Akses Universal. Program ini juga dikenal seagai 100-0-100. Ada filosofi di balik angka ini yaitu di tahun 2019 sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengan Nasional (RPJMN) adalah terpenuhinya 100% akses air minum, 0% permukiman kumuh, dan 100% akses sanitasi layak.

Beberapa regulasi yangmengaturnya antara lain UU No. 11/1974 tentang Pengairan, PP 121/2015 tentang Pengusahaan Sumber Daya Air (SDA), PP 122/2015 tentang Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), Permen PUPR 19/2016 tentang Pemberian Dukugan oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah dalam Kerjasama Penyelenggaraan SPAM, Permen PUPR 25/2016 tentang Pelaksanaan Penyelenggaraan SPAM untuk memenuhi Kebutuhan Sendiri oleh Badan Usaha, dan Permen PUPR 27/2016 tentang Penyelenggaraan SPAM. Untuk Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) dari Kementerian PUPR dijelaskan dengan Pedoman Umum dari Surat Edaran No. 40/SE/DC/2016.

 

Akses air minum 100%

Dalam pencapaian sempurna akses air minum di tahun 2019, mari melihat sejenak tren progres dari tahun 2009—2016 dengan data dari Bada Pusat Statistik (BPS). Di tahun 2016 prosentase ketercapaian sebesar 47,71%, 2011 sebesar 63,48%, 2013 sebesar 67,73%, 2014 sebesar 68,36%, dan 2016 sebesar 71,14%. Untuk melompat ke tahun 2019 ada gap atau jarak sebesar 28,86%. Dilihat dari tren tiap tahun yang kenaikannya bahkan tidak lebih dari 10% per tahun, maka tingkat kepercayaan diri pemerintah patut diajungi jempol.

Mari kita tengok beberapa tantangan dalam mencapai angka sempurna di tahun 2019 ini. Idle capacity atau kapastias yang tidak terpakai masih sangat besar yaitu 37.900 liter/detik. Artinya dari semua sumber air baku, ada angka tersebut yang belum terolah dalam SPAM. Kemudian Non-Revenue Water yang disebut volume air tak berekening atau kehilangan air dari PDAM sangat besar yaitu di angka 33%. Dalam hitung-hitungan perusahaan, angka ini merupakan kerugian yang sangat besar.

Lalu kebutuhan air baku nasional sebesar 128 m3/detik. Angka ini harusnya dapat dipenuhi dengan memanfaatkan idle capacity tadi, hanya saja lagi-lagi tentang teknologi dan infrastruktur yang tidak cukup kuat menopangnya. Selain itu jumlah PDAM sehat hanya 196 buah (52%) dan kurang sehat atau sakit sebanyak 172 perusahaan (48%) serta peningkatan akses 5 tahun terakhir yang bahkan hanya menyentuh angka 4,5% per tahun. Ditambah komitmen Pemda untuk pendanaan air minum kurang dari 10% dari kebutuhan APBD.

 

Permukiman tanpa kumuh

Kita tahu bersama bahwa angka urbanisasi di Indonesia trennya naik. Artinya adanya pertambahan penduduk di kota semakin tinggi, sedangkan di desa semakin jarang. Tingkat pertumbuhan penduduk di perkotaan sebesar 2,75% per tahu. Angka ini lebih tinggi daripada pertumbuhan penduduk rata-rata nasional yang hanya sebesar 1,17%. Di tahun 2025 sendiri diperkirakan 68% penduduk tinggal di kota. Tahun 2045 diperkiran 82% penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan. Hal ini disebabkan pesatnya pertumbuhan ekonomi dan berkembangnya kesempatan kerja di berbagai kegiatan di kota, pembangunan sarana dan prasaran yang pesat. Adapun di desa semakin berkurang lapangan pekerjaan dan terbatasnya sarana-prasarana.

Hal ini menimbulkan berbagai implikasi antara lain kualitas struktur hunian yang buruk, kepadatan sangat tinggi, akses air bersih menjadi sulit dan kualitasnya jelek, akses sanitasi dan infrastruktur lain tidak layak, serta status lahan sebagaian tidak jelas/ilegal. Berdasarkan peta berikut nampak ada 454 kawasan permukiman kumuh pada 30 kecamatan dengan total luas kawasan 1.457 hektar.

Artikel5-1

Adapun beberapa stragtei yang dapat diterapkan antara lain perlunya perubahan pemahaman tentang kompleksitas dan dinamika kampung. Pendekatan yang terkotak-kotak perlu diubah. Lalu kita perlu mengantarkan kampug menjadi bagian penting masa depan kota di Indonesia dengan memperkuat integrasi kampung dalam sistem kota yang lebih kompleks. Upaya-upaya integrasi juga menuntut kemampuandan kekuatan warga kampung untuk bermitra secara setara dengan kekuatan eksternal di luar kampung. Kemudian dierlukan perubahan orientasi perencanaan dan pembangunan kota.

 

Akses sanitasi layak

Pengelolaan sanitasi didefinisikan sebagai rangkaian sistem yang terdiri dari fasiltas pengumpulan, penampungan, pengaliran/transport, dan pengolahan ar limbah domestik. Keberhasilan penanganan sanitasi adalah yang memenuhi kaidah teknis yang dipersyaratkan. Tidak hanya itu, diperlukan juga faktor nonteknis. Salah satu yang terpenting adalah adanya partisipasi masyarkat mulai dari perencanaan, pembangunan, pemanfaatan, dan pengelolaan. Dengan hal ini maka keberjalanan fasilitas atau infrastruktur sanitasi dapat terjaga hingga bertahun-tahun.

Ada beberapa faktor penting dalam keberhasilan dan keberlanjutan pembangunan sanitasi berbasis masyarkat antara lain peraturan, peran swasta, pembiayaan, kelembagaan, teknologi, keterlibatan masyarkat, budaya, gender, dampak sosial dan dampak lingkungan. Selama ini pembiayaan dilakukan oleh peemrintah. Mahalnya proses pengelolaan membuat masyarakat enggan mengelolannya.

Lingkup teknologi meliputi kemudahan suku cadang terutama yang berasal dari lokal, penerimaan masyarakat, ketahanan alat, tingkat efisiensi, dan kemudahan operasional. Faktor kelembagaan melingkupi regulasi, sanksi, pengendalian pemerintah, dan kelembagaan masyarkat. Di samping itu, faktor keterlibatan masyarakat meliputi keterlibatan tanpa melihat gender, kesediaan memelihara, kesediaan berkontribusi, dan kesediaan membayar. Faktor dampak lingkungan dilihat dari kemampuan fasilitas tersebut mengelola lingkungan, adnaya energi yang efisien, dan juga efisien bahan baku. []

Contoh infrastruktur sanitasi
Contoh infrastruktur sanitasi

 

Diskusi Rutin #3: Menuju 100% Sanitasi 2019

Apa sih pengertian Sanitasi? Sanitasi ialah sebuah perilaku untuk membudayakan hidup bersih dan sehat dengan tujuan menjauhkan manusia dari sentuhan langsung dengan kotoran. Tapi yang dibahas kali ini bukan hanya perilaku melainkan juga mencakup infrastrukturnya.

100% sanitasi bersih adalah bagian dari SDG’s poin ke-6. Target tersebut untuk tahun 2030 tapi Indonesia menargetkan di 2019. Jumah 85% dari itu adalah pemenuhan standar minimal pelayanan dan 15% adalah pemenuhan kebutuhan dasar. Bagian 15% itu untuk yang jauh dari kota, contohnya PIT, sedangkan 85% untuk daerah perkotaan. Sistem air limbah 85% dan skala komunitas 15%.

Sanitasi memuat tiga komponen penting yaitu air limbah, persampahan, dan drainase. Untuk capaian dari persampahan adalah adanya realisasai dari 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebesar 20%. Jumlah itu dihitung berupa TPS 3R yang berbasis masyarakat (tidak dikelola oleh pemerintah). Tersedianya sistem penanganan sampah perkotaan 80% berupa IPST berskala perkotaan, sedangkan TPS hanya satu kawasan.

Target utama 100% akses sanitasi layak adalah tidak ada lagi yang buang air besar sembarangan. Untuk drainase targetnya adalah tidak ada genangan diatas 20 cm dan tidak terjadi setiap 2 kali setahun.

Artikel3-1

Data peningkatan akses sanitasi berturut-turut adalah 2010: 55,54%; 2013: 60,91%; 2014: 61%; dan 2016: 64,07%. Sanitasi Indonesia terburuk kedua di dunia, di belakang India.

Ada beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:

  1. Rendahnya kesadaran masyarakat. Alternatif solusinya antara lain: edukasi, sosialisasi, promosi, kampanye; dirangkum dalam suatu metode Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yaitu metode untuk membuat masyarakat merasa jijik untuk buang air besar sembaranagn dengan pemetaan lokasi buang air besar lalu penontonan langsung.
  2. Gap yang cukup besar pada pendanaan. Alternatif solusinya adalah peningkatan sumber pendanaan. Investasi air limbah membutuhkan 202,4 triliun rupiah, tapi hanya mendapat 106,5 T dan 24,3 T, dll.
  3. Sanitasi belum menjadi prioritas pemerintah daerah. Kerjasama lintas sektor dan kemitraan perlu dibangun dan dijaga dengan baik.

Ada beberapa potensi pengelolaan sanitasi yaitu AKKOPSI (Asosiasi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi) dan Kokja. Di samping itu ada pula usaha yang dapat dilakukan seperti STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyrakat), LLTT (penjadwalan penyedotan tinja), SPAL Kawasan, ketika IPAL terpusat dinilai kurang efektif karena jauh dengan masyarakat.

STBM memiliki banyak cara, biasanya dengan gambar. Sehingga selain pemicuan juga menggunakan ilustrasi dengan gambar. Bisa juga menggunakan tokoh-tokoh masyarakat setempat untuk bisa mengajak masyarakat. Gambar digunakan juga untuk mempermudah mengerti. Salah satu contoh keberhasilan mengatasi masalah sanitasi di pedalaman adalah pada masyarakat di Kampung Naga di mana BAB dengan pantat harus terkena air sehingga WC bisa disesuaikan.

Indonesia sudah memiliki rancangan prosedur baku untuk fasilitator sanitasi berbasis masyarakat mulai dari metode awal sampai akhirnya. Pertimbangannya adalah apakah metode tersebut berhasil diterapkan pada negara-negara yang sanitasinya buruk sehingga bisa dicoba untuk diterapkan di Indonesia. STBM sudah diatur juga di dalam Permenkes.

STBM baru gencar tahun 2015 ke atas, sebelumnya hanya berbasis infrastruktur sehingga kurang efektif. Sekarang lebih ke pemerintah daerah dipicu untuk membuat STBM itu sendiri. Air bersih juga ada programnya sendiri. Tapi rencana ke depannya juga belum tahu lagi, hanya melalui program fisik dan nonfisik. Di laporan kerja PUPR yang di-mention selalu program tersebut. Tapi ada gosip bahwa akan ada rencana jangka panjangnya (tahun 2025—2030) sebagai backup bila 2019 ini tidak tercapai.

Langkah realistis yang bisa dilakukan adalah dengan pengabdian masyarakat, partisipasi di STBM misalnya. Kalau secara akademis mungkin memang bisa ikut proyek ke konsultan.

Program Sanimas (Sanitasi Berbasis Masyarakat) adalah bagaimana melihat kebutuhan masyarakat, sehingga bila terlihat eksistingnya sangat kurang itu boleh langsung mengajukan program-program untuk meningkatkan sanitasi tanpa melalui pemerintah tapi lebih baik bila koordinasi dengan pemerintah. Sehingga misalnya ada pemerintah yang sudah mengadakan program, sifat kita bisa lebih ke menunjang program tersebut untuk meningkatkan efisiensi.

Salah satu pengabdian masyarakat terkait sanitasi yang bagus adalah yang dilakukan oleh KMIL ITB dan bisa dicek di Youtube KMIL ITB. Persiapannya satu tahun sebelumnya, selama 6 bulan hanya persiapan berupa survei masalahnya apa, wawancara ke tokoh masyarakat, bertemu LSM. Di sana ditemukan bahwa masalahnya adalah kekeringan sehingga dilakukan pemanfaatan air hujan dan juga air danau yang ada di sekitar. Satu lagi bergantung pada LSM dan pemerintah dengan pengadaan tangki air, tapi itu sangat jarang, hanya beberapa bulan sekali adanya.

Artikel3-2

Setelah survei diketahui juga bahwa ada sumber air di goa,tapi susah dijangkau oleh masyarakat padahal debit airnya cukup, setelah diteliti parameternya ternyata cocok. Setelah mengetahui itu semua, disusun tim teknis, tim sosial, tim lapangan. Untuk dana, konsepnya volunteer sebab dana yang banyak itu dari akomodasi peserta sehingga akomodasi peserta ditanggung sendiri. Dan itu pun boleh diikuti oleh himpunan-himpunan lain, bahkan partisipan yang kemarin ada dari universitas lain. Pencetusnya bermimpi bagaimana bisa benar-benar bermanfaat untuk masyaraat sehingga benar-benar dipersiapkan dengan matang, berani sampai Jogja dan bagaimana apa yang didapatkan di dalam kuliah bisa benar-benar bermanfaat untuk masyarakat. []

Diskusi Rutin #2: 0% Permukiman Kumuh

Pendefinisian kumuh: Slum dan Squatter. Slum: hunian atau bangunan dengan kepadatan bangunan tinggi tanpa disertai pemenuhan infrastruktur dasar. Squatter: hunian atau bangunan yang berada di atas lahan publik atau lahan kosong dan dibangun tanpa adanya hak kepemilikan.

Permukiman kumuh: tidak layak huni, ketidakteraturan bangunan, kepadatan tinggi.

Kriteria permukiman kumuh: vitalitas non-ekonomi (melihat kelayakan suatu kawasan dari perencanaan tata ruang), vitalitas ekonomi (nilai ekonomi tempat tersebut seperti apa, apakah strategis atau bagaimana), status tanah (dilihat status kepemilikannya, apakah memang memiliki atau sebagai squatter), kondisi sarana & prasarana (jalan, drainase, air bersih, air limbah), komitmen pemerintah setempat (keinginan dan ketersediaannya), kriteria prioritas penanganan (prioritas di perdesaan lebih rendah dari di kota).

Artikel2-1

Kenapa permukiman kumuh bisa terbentuk? Karena ada pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi akibat pseudourbanization (urbanisasi tanpa kemampuan yang cocok untuk tempat urbanisasi tersebut) dan proses mengkota, kemiskinan perkotaan, keterbatasan kepemilikan rumah, dan kedekatan dengan mata pencaharaian.

Program penanganan permukiman kumuh sudah ada pada 100.0.100 (ada cukup banyak poin-poinnya). Kendala utamanya adalah komitmen politik (pemerintah tidak konsisten, tidak dilanjutkan di periode selanjutnya), hanya berbatas proyek, perspektif sempit, programnya bersifat sementara.

Isu 0% permukiman kumuh: kebijakan–strategi, penanganan kawasan kumuh, keterpaduan penanganan kawasan kumuh. Mengenai 100.0.100, masih tersisa 10% permukiman kumuh. Salah satu targetnya adalah menyertakan partisipasi masyarakat di mana selama ini dinilai sangat rendah, meningkat dari 0% menjadi 35%.

Artikel2-2

Kekumuhan sebenernya mungkin terjadi di perdesaan, tapi banyak di perdesaan yang tidak memenuhi seluruh persyaratan permukiman kumuh (contoh paling umumnya adalah gedung-gedung di pedesaan cukup teratur). Dari tahun 1960, penurunan permukiman kumuh sebesar 40% terutama di perkotaan sehingga optimis bila di 2019 dapat tercapai. Bila tersisih mungkin sisanya itu yang berasal dari luar pulau jawa.

Untuk tindakan preventif, menyiapkan pembangunan ekonmi yang merata sehingga urbanisasi bisa diminimalisir. Untuk kuratifnya bisa pemindahan ke rumah susun.

Penanganan kawasan kumuh melibatkan sinergisitas di bidang cipta karya, pemerintah, dan kebijakan itu sendiri. Perlu juga disinergisasikan di seluruh Indonesia sebab banyak daerah di Indonesia belum memiliki komitmen yang sama. []

 

Diskusi Rutin #1: 100% Akses Air Minum

Apa yang dimaksud dengan 100%? 100% yang dimaksud disini memang adalah seluruh rakyat Indonesia mendapatkan akses air minum. Lalu apa yang dimaksud dengan akses? Akses yaitu dapat dikonsumsi dengan terpenuhinya parameter, kuantitas, kualitas, dll. Memang terkadang terminologinya salah karena terkadang setelah selesai dari proses masih ada yang belum memenuhi standar air minum, jadi di sini juga merujuk ke standar air minum yang dimaksud. Di Indonesia merujuk pada peraturan yang berlaku.

Artikel1-1

Akses Universal 100-0-100 disebut jangka panjang-menengah karena capaiannya 2019 (ada 2 tahun lagi sebelum dilakukan evaluasi). Breakdown dari 100% akses air minum ialah 60% sambungan rumah, 40% perpipaan (keran komunal yang banyak di desa). Angka ini cukup besar karena masih banyak lokasi di Indonesia yang masih pedesaan dan sulit untuk diakses. Setiap persenannya pun tidak langsung dilayani PDAM, sebagiannya oleh swasta. Contohnya di Bandung Timur bahkan, Antapani, dll banyak yang dikelola oleh swasta tapi dipantau oleh pemerintah agar pemerintah menjamin.

Lalu bagaimana realitanya? Contoh di Tangerang sudah terlayani, di tempat KP di ujung Pulau Jawa dekat Ujung Kulon, di sana ada pertambangan emas jadinya perusahaan itu menyediakan air untuk disalurkan ke orang-orang hingga membuat sebuah wadah/reservoir besar untuk kemudian disalurkan ke rumah-rumah. Tapi orang Indonesia, kebiasaan, tidak mau merawat tapi nantinya menuntut mengapa airnya kotor dll, padahal itu kesalahan masyarakat yang tidak menjaga.

Di Maluku Barat Daya ada air panas yang mengalir dan merupakan sumber utama air di sana. Perusahaan sudah memfasilitasi, tetapi masyarakat di sana tidak percaya kepada perusahan. Di Kalimantan Barat (Pontianak), ketika musim kemarau, air yang mengalir ke rumah warga rasanya asin. Sekarang, di Buahbatu, air sudah tidak lancar. []

Akses air tersebut meliputi:

  1. Kuantitas, jumlah air tercukupi untuk masyarakat.
  2. Kualitas, berdasarkan peraturan menteri yang berlaku.
  3. Kontinuitas, setiap daerah setiap waktu harus selalu bisa mengakses air.
  4. Harga, terjangkau bagi masyarakat.

Kendala pemerintah yang utama yaitu investasi yang kurang. Hal ini karena investasi air dirasa oleh setiap orang (yang mampu berinvestasi) tidak terlihat adanya keuntungan. Sampai saat sekarang, kurang lebih 50% PDAM dikategorikan kurang layak. Sumber air baku di Indonesia 128 m3/s. SPAM pada pengolahan air di Indonesia dikategorikan belum termasuk SPAM hijau. Untuk pengolahan air bersih yang layak ada 3 hal yang tidak boleh dipisah sebenarnya: 1) Sumber air baku, 2) Treatment, 3) Pelayanan. Ketiga hal ini merupakan kerja anak TL. Contoh untuk sumber air baku memang mampu dikerjakan oleh anak TPSDA, Sipil, akan tetapi untuk hal lain seperti peraturan untuk baku mutu air itu lebih diketahui oleh anak TL. Dan juga pada treatment dan pelayanan. Oleh karena itu pada ketiga hal tersebut harus ada anak TL.

Artikel1-2

Untuk daerah Indonesia sendiri, treatment dengan peralatan canggih belum bisa karena jika treatmentnya seperti itu, maka sudah pasti harga air tinggi, yang berakibat pada harga yang mahal. Hal ini dapat menyebabkan masyarakat tidak mampu membeli air dan akhirnya pengolahan air tidak digunakan. Kesuksesan pengolahan di negara-negara maju seperti Belanda karena mereka membenarkan di hulunya terlebih dahulu.

Air yang sudah diolah pada PDAM sudah bisa diminum, akan tetapi karena pipa distribusi sudah lama (dari zaman Belanda) yang sudah berkarat, maka air yang sampai ke rumah-rumah orang sudah terkontaminasi. Untuk mengganti sendiri susah biaya dan sulit teknologi. Masalahnya sebenarnya ada pada ketiga komponen (sumber air baku, treatment, dan pelayanan). Untuk air baku di Indonesia sangat banyak. Untuk treatment tidak perlu canggih karena di Indonesia sekarang air “melimpah”. Untuk pelayanan masih kurang di Indonesia. Sebenarnya masalahnya sudah bertumpuk-tumpuk menjadi satu sampai sekarang, mulai dari habitual, sosial, perilaku masyarakat, dll.

Ada, contoh investasi dari swasta. Paling banyak itu ada pada treatment dan pelayanan. Banyak perusahan swasta yang mencoba mengolah akses air sendiri. Akan tetapi secara keseluruhan masih di bawah pemerintah. Cara menentukan harga yaitu dari investasi, harga distribusi, harga treatment, harga air baku. Harga setiap daerah berbeda-beda.

Diskusi hal-hal masalah air, permukiman kumuh, dll, merupakan hal yang urgent yang diurus oleh anak TL. Anak TL mengurusi pekerjaan dari manusia mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Dari apa yang dipelajari di TL, untuk pengolahan akses air bersih masih didiskreditkan, masih dipisah-pisahkan sumber air baku, treatment, dan pelayanan. Sebenarnya itu adalah salah. Sungai merupakan bagian dari siklus hidrologi yang skalannya acak. Anak TL tidak boleh hanya ahli treatment, atau hanya ahli sumber air baku, atau hanya ahli pelayanan, akan teapi harus ahli ketiganya. []

 

Berkarya dengan Kebermanfaatan Kepada Mereka yang Membutuhkan – Diskusi Rutin : 100% Akses Air Minum

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung mengadakan diskusi sebagai program kerja dari Divisi Diskusi Kreatif mengenai 100% akses air minum dengan pembicara Tatwadhika Rangin Siddhartha  (Teknik Lingkungan ITB 2013).

100% akses air minum adalah bagian dari 100-0-100, sebuah program kerja pemerintah yang mengupayakan tercapainya 100% akses air minum, 0% kawasan kumuh, dan 100% akses sanitasi layak yang tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. 100% akses air minum merupakan upaya pemerintah untuk bisa meningkatkan kualitas penyediaan air minum sehingga mampu menyediakan kebutuhan air minum nasional secara menyeluh.

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai terminologi yang digunakan di dalam program 100% akses air minum ini. Pertama adalah persentase yang digunakan, yakni 100%. Angka 100% yang dipakai di dalam program 100% air bersih ini memang berarti target dari pengembangan air minum ini adalah seluruh Rakyat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa memang pemerintah sedang mengusahakan air minum sebagai hak dari setiap rakyat. Kedua adalah akses, yang dimaksud dengan akses seringkali disalahartikan oleh kebanyakan orang, dimana, terkadang, setelah  melalui proses pengolahan air minum, air masih ada yang belum memenuhi standar air minum. Akses yang dimaksud disini adalah merujuk ke standar air minum yang dimaksud, dimana akses yang baik adalah akses terhadap air minum yang memenuhi standar. Adapun air minum yang memenuhi standar yang dimaksud adalah air yang sesuai dengan yang tertera pada Peraturan Mentri Kesehatan (Permenkes) No.492 tahun 2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Pada realitanya, banyak masalah mengenai air minum yang dihadapi oleh daerah-daerah, seperti di daerah dekat Ujung Kulon ada fasilitas pengelolaan air minum yang disediakan namun tidak dirawat oleh masyarakat, di Maluku Barat Daya sudah di fasilitasi oleh perusahaan namun masyarakat sekitar tidak percaya, di Kalimantan Barat (Pontianak) air yang mengalir rasanya asin, dan lain sebagainya. Dari pemerintah sendiri, kendala utama yang dialami adalah kurangnya investasi. Hal ini disebabkan oleh paradigma investor dimana investasi air dirasa oleh investor tersebut sebagai suatu hal yang tidak membawa keuntungan. Sampai sekarang, kurang lebih 50% PDAM dikategorikan kurang layak dan secara umum SPAM di Indonesia belum dapat dikategorikan SPAM Hijau.

Pengelolaan air bersih yang layak pada dasarnya memiliki tiga komponen yakni dari sumber air baku, treatment, dan pelayanan. Ketiga komponen ini merupakan salah satu bidang kerja Teknik Lingkungan, bahwa ketiga komponen ini merupakan suatu kesatuan yang harus berkesinambungan untuk bisa menghasilkan dampak yang optimal. Adalah peran kita sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan untuk bisa menyadari permasalahan ini sekarang dan mau turun ke masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan ini kelak.

Ratifikasi Paris Agreement dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Energi

Pada Sabtu 5 November 2016 kemarin, Departemen Diskusi Kreatif dari Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB mengadakan diskusi publik bertajuk Ratifikasi Paris Agreement dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Energi dengan menghadirkan beberapa narasumber. Pada diskusi publik ini, para narasumber memberikan pengetahuan dan informasi tentang rencana Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 26% pada tahun 2020 dalam sektor energi.

             Narasumber yang diundang pada kesempatan tersebut adalah para profesional baik dari lembaga pemerintah maupun nonpemerintah. Dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hadir Kasubdit Keteknikan dan Lingkungan Aneka Energi Baru Terbarukan, Martha Relitha, S.Si., M.Si. Dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hadir Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, Dida Gardera, S.T., M.Sc. Selanjutnya turut hadir Erina Mursanti, S.E., M.Sc. dari Institute for Essential Services Reform (IESR). Terakhir, tamu istimewa yang hadir pada diskusi publik tersebut adalah Dr. Alexander Sonny Keraf, mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia yang kini merupakan anggota Dewan Energi Nasional.

diskusi-publik-1

 

 

Komitmen Indonesia Mengurangi Gas Rumah Kaca

Emisi gas rumah kaca mendorong perubahan iklim yang ekstrem. Perubahan iklim ini tidak hanya terjadi di satu negara melainkan berdampak ke seluruh penjuru dunia. Dunia internasional sudah lama gelisah dengan semakin buruknya kondisi bumi. Untuk itu, para pemimpin dunia bernegosiasi dan mencapai kesepakatan pengurangan emisi gas rumah kaca yang tertuang dalam Paris Agreement.

diskusi-publik-2

         Isi-isi Paris Agreement meliputi lima poin utama, yang pertama adalah upaya mitigasi dengan cara mengurangi emisi dengan cepat untuk mencapai ambang batas kenaikan suhu bumi yang disepakati yakni dibawah 20C dan diupayakan ditekan hingga 1,50C. Kedua, sistem penghitungan karbon dan pengurangan emisi secara transparan. Ketiga, upaya adaptasi dengan memperkuat kemampuan negara-negara untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Keempat, memperkuat upaya pemulihan akibat perubahan iklim dari kerusakan. Kelima, bantuan termasuk pendanaan bagi negara-negara untuk membangun ekonomi hijau dan berkelanjutan.

         Pada 5 Oktober 2016 Paris Agreement sudah terlaksana pada 55 negara. Peran Indonesia sementara ini hanya sebagai pengamat namun Indonesia memiliki gratifikasi yang besar meskipun belum menjadi partisipan. Penyumbang emisi di Indonesia dari sektor kehutanan 48% dan dari sektor energi 38%. Pemerintah saat ini melakukan upaya penurunan emisi gas dari sektor energi.

 

Upaya Mitigasi dalam Sektor Energi

Mitigasi dilakukan melalui beberapa pendekatan, yaitu land base, energi, IPPU, dan pengelolaan limbah. Selain upaya mitigasi, diupayakan pula adaptasi dan usaha pendukung lainnya seperti pengembangan kapasitas, keuangan, transfer dan kerja sama teknologi.

         Penerapan teknologi rendah emisi adalah salah satu upaya untuk mewujudkan komitmen Indonesia tersebut. Dalam bidang pembangkit listrik, beberapa alternatif yang bisa diupayakan adalah flexible power plants (penggabungan energi fosil dan energi terbarukan), pembangkit listrik energi baru terbarukan, dan pembangkit listrik bioenergi. Teknologi lain yang lebih efisien adalah clean coal technology, flywheel energy storage and aletromobility, dan supercapacitor battery.

 

Tetap Perjuangkan Kedaulatan Energi di Indonesia

diskusi-publik-3

       Pemerintah Indonesia telah menyusun rencana jangka panjang mengenai pengelolaan energi Indonesia, tertuang dalam PP No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional. Peraturan Pemerintah ini mengatur kebijakan pengelolaan energi yang berdasarkan prinsip keadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan guna terciptanya Kemandirian Energi dan Ketahanan Energi Nasional. Dr. Alexander Sonny Keraf menekankan bahwa Kebijakan Energi Nasional yang dijalankan membawa paradigma baru, yaitu energi sebagai modal pembangunan. Yang dimaksud adalah bahwa energi seharusnya menjadi komoditas yang ditujuan paling utama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, bukan untuk menambah devisa negara. “Bangsa ini kaya. Namun seringkali berpikir pendek karena langsung dijual untuk menambah nilai devisa negara,” ungkapnya.

           Mitigasi energi direncanakan melalui diversifikasi dan konservasi energi. Diversifikasi energi adalah dengan  meningkatkan porsi energi baru terbarukan hingga 23% dari total penyediaan energi nasional pada 2025. Energi baru diantaranya adalah batubara tercairkan, gas metana batubara, batubara tergaskan, nuklir, hydrogen sedangkan energi terbarukan antara lain panas bumi, aliran dan terjunan air, bioenergi, sinar matahari, angin, gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut. Di sisi konservasi energi, fokusnya adalah pada elstisitas energi dan intensitas energi hingga penghematan energi final.

 

diskusi-publik-4

         Fitri Wulandari selaku Kepala Departemen Diskusi Kreatif HMTL ITB berharap dengan diadakannya diskusi publik ini, civitas academica ITB dapat terpacu untuk turut berpartisipasi dalam upaya mencapai target implementasi Paris Agreement, terkhusus mahasiswa Teknik Lingkungan. “Sebagai mahasiswa teknik lingkungan, perlu ikut mengetahui dan mengkritisi proses memenuhi kebutuhan energi di Indonesia dan teknologi yang bisa mengurangi gas rumah kaca tersebut,” tutur Fitri.

 

Dikutip dari : https://www.itb.ac.id/news/5334.xhtml (Mega Liani Putri)