Category Archives: Acara

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan dalam OSKM ITB 2019

Jurnalis : Nitya (TL 2017)

Dokumenter : Syaviera Said (TL 2016), Ammardito (TL 2017), Nabilah Safitri (TL 2017)

Jika mendengar kata “OSKM ITB”, pasti langsung teringat perayaan kaderisasi tahunan terbesar di ITB. Tiap tahunnya mahasiswa baru disambut untuk diperkenalkan wawasan barunya mengenai dirinya sendiri sebagai mahasiswa dan seputar lingkungan kampus seperti HMJ, Unit, dan lain sebagainya. Kali ini HMTL turut serta dalam menyemarakan OSKM tahun ini. Semua HMJ diundang untuk mengikuti beberapa mata acara pada penyelenggaraan OSKM tahun ini.

Pada hari pertama pembukaan OSKM, ada dua mata acara yang melibatkan HMTL. Mata acara pertama adalah mata acara yang baru berbeda dengan tahun sebelumnya yaitu pawai pelangi. HMTL mengirimkan 5 orang perwakilan untuk melakukan pawai perfakultas dengan tujuan memperkenalkan warna-warni KM ITB berupa pengenalan himpunan-himpunan. Selanjutnya untuk mata acara kedua pada sore harinya adalah interaksi fakultas, mahasiswa baru 2019 dikumpulkan per fakultas dan melakukan interaksi dengan himpunan yang dinaungi oleh fakultas tersebut. Dalam hal ini HMTL dibawah naungan FTSL melakukan interaksi fakultas bersama HMS, KMKL, KMIL dan HIMASDA. Harapannya interaksi fakultas ini menjadi langkah pendekatan pertama dengan mahasiswa baru 2019. Pada hari kedua, tidak ada mata acara yang melibatkan HMJ. Kemudian pada hari ketiga terdapat dua mata acara yang selalu menarik tiap tahunnya. Ya, salah satu mata acara yang menarik ini adalah lorong massa. Massa himpunan dan unit dibariskan seperti lorong dari TVST sampai dengan Sunken court, dan mahasiswa baru 2019 melewati lorong tersebut menuju penutupan acara OSKM di Saraga. Hal yang menarik dari lorong massa itu sendiri, selalu ada cerita lucu yang dilakukan massa himpunan untuk menarik perhatian para mahasiswa baru. Lorong massa sendiri waktunya cukup lama, karena sebanyak 4000 mahasiswa baru melewati lorong tersebut. Selesai acara lorong massa, baru lah menuju penutupan acara OSKM dengan mata acara terakhir yang melibatkan HMJ adalah orasi pelangi. Seluruh perwakilan dari HMJ ITB melakukan orasi selama 30 detik untuk menyampaikan pesan dan kesannya untuk para mahasiswa baru.

HMTL pada Mata Acara Interaksi Fakultras
Benedicto ( TL 2016) pada Mata Acara Interaksi Fakultras
Massa HMTL saat Lorong Massa
Muhammad Arfan (TL 2016) sebagai Ketua Himpunan Memberikan Orasinya

Dalam waktu yang begitu singkat, OSKM ITB selalu punya ceritanya sendiri baik itu untuk para mahasiswa baru atau mungkin untuk mahasiswa ‘lama’. Terima kasih OSKM ITB, yang ceritanya selalu dikenang dan ditunggu tiap tahunnya!

Creative Week

Creative Week Medkominfo HMTL 2017


Direktorat Medkominfo HMTL telah mengadakan creative week bagi seluruh massa HMTL untuk meningkatkan kekreatifan massa HMTL dalam bidang fotografi dan desain.

creative week 1.0 dikhususkan untuk pelatihan design yaktu untuk beberapa software design yang marak digunakan yaitu adobe indesign dan juga photoshop.
3DFCB0D5-828B-424C-BE25-62F10015467A

Sedangkan creative week 1.5 berisi pelatihan dokumentasi untuk massa HMTL dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan massa HMTL dalam mengambil foto dengan mengajari fungsi-fungsi pada kamera, terutama DSLR.

8D25495A-B6B4-479D-A824-24C297EE3B1E

Begitulah creative week massa HMTL!

Semoga bermanfaat!

Kuliah Alumni #3

                                                                               SUSTAINABLE CONSTRUCTION


Pembangunan berkelanjutan sudah menjadi isu strategis yang tidak hanya sekedar wacana, namun juga diwujudkan dalam kebijakan-kebijakan yang terkait. Pembangunan berkelanjutan berangkat dari sebuah keinginan untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat saat ini dan juga generasi di masa mendatang. Tujuan dari pembangunan berkelanjutan adalah untuk menciptakan bangunan berdasarkan desain ekologi, penggunaan sumber daya alam secara efisien, dan ramah lingkungan selama pengoperasian bangunan tersebut.

Bangunan gedung memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perubahan iklim global, sehingga dikembangkan bangunan hijau. Bangunan hijau adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan yang memiliki konsep untuk memperbaiki dan mempertahankan keseimbangan antara lingkungan alam dan buatan. Kondisi keberlanjutan dapat dipenuhi tiga aspek yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dampak pembangunan akan dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat secara inklusif, tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan hidup, serta pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien.

Konstruksi berkelanjutan adalah sebuah pendekatan dalam melaksanakan rangkaian kegiatan yang diperlukan untuk menciptakan suatu fasilitas fisik yang memenuhi tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan pada saat ini dan pada masa yang akan datang, serta memenuhi prinsip berkelanjutan (Permen. PUPR No.05/PRT/M/2015). Prinsip-prinsip dalam penerapan konstruksi berkelanjutan yakni:

  • Minimalkan konsumsi sumber daya, penggunaan energi tak terbarukan, polusi, toksik, dan limbah.
  • Maksimalkan efisiensi, penggunaan kembali, daur ulang, penggunaan sumber daya terbarukan.
  • Kembangkan konservasi, pemahaman sistem alam, keadilan ekonomi.
  • Fokus pada analisa kualitas vs kuantitas, kebutuhan vs keinginan.
  • Redesain Ekonomi dengan pendekatan sistem alam.

Kontribusi Kementerian PUPR dalam pembangunan infrastruktur berkelanjutan di wujudkan dalam pembangunan Gedung Kampus Kementerian PUPR dan pembangunan Jembatan Kelok Sembilan Sumatera Barat. Kementerian PUPR melalui Balitbang telah melakukan riset dan invensi dibidang konstruksi berkelanjutan, antara lain pemeringkatan jalan hijau/green road rating, teknologi recycling asphalt pavement, teknologi aspal plastik, teknologi fly ash, Remote Construction Monitoring System (RCMS), dan aplikasi berbasis ponsel JALAN KITA (JAKI). Riset-riset terus ddorong untuk mendukung terselenggaranya konstruksi yang lebih ramping (lean construction) dan berkesinambungan.

 

Kuliah Alumni #2

Sertifikasi Kompetensi Sarjana Teknik Lingkungan
Menghadapi Era Grobalisasi


Dulu, pencatuman gelar Ir. di depan nama biasa dilakukan untuk penanda gelar bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan ilmu teknik. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) didirikan pada era ahli teknik adalah Insinyur, beranggotakan para insinyur. Setelah kemerdekaan, semangat nusantara merambah hingga memunculkan perubahan pada gelar yang disandang menjadi S.T. di belakang nama bagi mahasiswa yang menyelesaikan pendidikan teknik strata 1.

 

Belakangan, gelar Insinyur jarang dimiliki seolah-olah hanya sebatas sejarah. Dicapailah sebuah kesepakatan bahwa S.T. adalah gelar akademis yang diberikan perguruan tinggi, sementara Insinyur merupakan gelar profesi yang diberikan atas pengalaman berkarir atau berprofesi di bidang keinsinyuran.

 

Pada mulanya gelar profesi hanya diberikan oleh perguruan tinggi, namun kemudian lahirlah UU Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Menurut peraturan tersebut, gelar profesi di bidang keinsinyuran adalah Insinyur, yang dapat disandang seseorang dengan mengikuti Program Profesi Insinyur (PPI). PPI merupakan program yang bertujuan untuk menjadikan sarjana tenik siap berprofesi sebagai Insinyur. Dalam proses belajarnya, PPI direncanakan memiliki nilai studi antara 18-36 SKS yang dua pertiganya adalah dengan magang di industri. Selain melalui jalur pendidikan, sertifikat Insinyur Profesional (IP) juga bisa diperoleh berkat pengalaman kerja dibidang keahliannya dalam jangka waktu tertentu. Anggota PII terbagi dalam tiga tingkatan keahlian: Insinyur Profesional Pratama (IPP), Insinyur Profesional Madya (IPM), dan Insinyur Profesional Utama (IPU).

 

Banyak teknologi karya Insinyur Indonesia menjadi produk unggulan dan telah diadopsi di banyak negara. Beberapa karya teknologi dari sekian banyak karya tersebut antara lain: 1) Pondasi cakar ayam; 2) Metode sosrobahu; serta 3) Sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM. Seseorang dengan ilmu, keahlian, dan pengalaman] bisa diakui secara profesional yang diperlukan tenaga dan pemikirannya. Etika Profesi Insinyur bersifat universal di mana pun Insinyur itu bekerja dan berpraktik akan tetap memegang teguh dan melaksanakan secara konsekuen kode etik Insinyur ini.

TEBAS DOSA (Tebar Sayang Donor Ganesha)

Tebas Dosamu dengan Setetes Darahmu!


Tebas Dosa merupakan program pengabdian masyarakat yang berada dibawah beberapa himpunan mahasiswa di ITB. Tebas Dosa diadakan sebagai bentuk kolaborasi kami, yaitu HMS, HMP, IMG, IMA-G, dan juga HMTL sebagai pemrakarsa, untuk menggerakan rasa kemanusiaan warga kampus dan mewadahi keinginan warga kampus untuk membantu sesama. Sesuai dengan nama acara kami yaitu Tebas Dosa, Tebar Sayang Donor Ganesha, yang dalam hal ini adalah dengan menebar sayang kami di panti jompo (pre-event) dan donor darah di kampus tercinta (main event)

International Day of Charity yang diperingati setiap tanggal 5 September menjadi momentum baik untuk berbuat kebaikan.


PRE EVENT: TEBAS DOSA GOES TO PANTI JOMPO

Keberadaan panti jompo khususnya di Bandung, kurang menjadi perhatian di masyarakat. Kami merasa resah, ingin sekedar menanyakan kabar atau beramah tamah dengan kakek-nenek, oma-opa di sana. Kami ingin memberikan sedikit kasih sayang, mendengarkan cerita, memberikan cerita, dan menyenangkan hati mereka. Dari beberapa survey yang dilakukan akhirnya kami menentukan Panti Jompo Tresna Elderly Social Institution Mother Care sebagai destinasi kami.

10 September 2017

Pagi-pagi peserta sudah berkumpul di kampus ITB Ganesha untuk briefing, kemudian kami berangkat ke panti bersama-sama. Di sana peserta sudah disambut oleh oma-opa di ruang tengah. Dimulai dengan pembukaan serta sambutan dari ketua pelaksana serta perwakilan dari panti. Di sana, seluruh peserta senam pagi, bermain games, dan bernyanyi bersama-sama oma-opa serta pengurus disana. Ada yang pandai bernyanyi, berjoget, bahkan ada yang usil juga. Semuanya senang sekali! Sesi terakhir acara adalah sharing, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk mengobrol dan mengenal lebih dalam oma-opa disana. Ada yang menceritakan bisnis kulinernya yang amat sukses, ada yang amat pandai memberikan petuah-petuah di usianya yang sudah senja, ada yang menceritakan kisahnya ketika jaman penjajahan dulu pandai banget berbicara bahasa belanda, ada yang minta dipijat, ada yang kelelahan ingin tidur, ada yang ketika sharing diberi kejutan oleh keluarganya (biarpun beliau sempat lupa sejenak), ada yang senang sekali menerima bingkisan terutama minyak kayu putih dari peserta.

“Nenek seneng sekali dapet minyak kayu putih ini nenek tidak punya… Nanti kesini lagi yaa bawa teh melati”

SIAP nek jika ada kesempatan kami akan berkunjung lagi!

Masing-masing dari peserta mendapatkan pengalaman yang berbeda-beda namun sama berharganya. Semoga kakek-nenek, oma-opa senantiasa diberikan kesehatan dan dilimpahkan kebahagiaan ya..

Aamiin

Artikel8-1

Artikel8-2

Artikel8-3

Artikel8-4


MAIN EVENT: TEBAS DOSA DONOR GANESHA!

Didukung dengan fakta-fakta yang ada bahwa persediaan darah di Indonesia sendiri belum cukup tersedia. Sehingga dengan ini diharapkan kami dapat membantu kinerja PMI dalam rangka mengumpulkan kantung demi kantung darah sehingga dapat dimanfaatkan demi menyelamatkan jiwa manusia. Pada kesempatan kali ini kami bekerja sama dengan PMI Sumedang.

15 September 2017

Sekitar pukul 12.30 peserta beserta PMI sedang melakukan persiapan donor darah di Labtek V. Sebelum gate dibuka, sudah ada beberapa orang yang datang dan mendaftarkan diri, diikuti oleh calon-calon pendonor lainnya. Apresiasi sebesar-besarnya untuk antusiasme calon-calon pendonor! Meskipun harus menunggu antrian yang cukup panjang namun mereka tetap menunggu dengan sabar. Pada pukul 16.15 WIB dengan berat hati pendaftaran harus ditutup karena 100 buah labu penampung darah sudah hampir habis. Raut wajah kecewa calon-calon pendonor yang terpaksa harus ditolak di meja registrasi menjadi bukti ketulusan hati mereka. Ucapan maaf dan terima kasih sebesar-besarnya bagi seluruh pendonor yang baik hatinya <3

Artikel8-5

Artikel8-6

Artikel8-7

“No act of kindness, no matter how small, is ever wasted.”

 

With Love, Cepat Tanggap.

Environmental Talks 2017: Universal Akses 100-0-100

Dengan adanya Sustainable Development Goals hingga tahun 2030 maka masyarakat dunia terutama Indonesia perlu meningkatkan kesadaran dan rasa kritis terhadap lingkungan. Hal ini perlu ditanamkan karena pada kenyataannya lingkungan sedang tidak baik-baik saja. Kemampuan berpikir terutama dari kalangan akademisi diharapkan menjadi pintu keluar dari seriusnya perkara lingkungan.

Oleh karena itu, Sabtu 18 November 2017 HMTL ITB telah mengadakan Diskusi Publik bertajuk Environmental Talks yang mengangkat tema Program Universal Akses 100-0-100. Program ini merupakan gagasan dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Target dari RPJMN ini adalah terwujudnya 100% akses air minum, 0% permukiman kumuh, dan 100% akses sanitasi pada tahun 2019.

Artikel4-1

Environmental Talks merupakan final roadmap dari serangkaian program kerja Divisi Diskusi Kreatif HMTL ITB. Sebelumya, telah diadakan diskusi rutin internal membahas Program Universal Akses 100-0-100 selama 3 bulan berturut-turut. Acara dimoderatori oleh Tatwadhika Rangin Sidharta, S.T. (Ketua HMTL ITB 2016/2017). Adapun pemateri tema 100% Akses Air Minum adalah Ir. Muhammad Sundoro, M.Eng (Kementerian PUPR) yang diwakili oleh Bapak Fajar. Pemateri tema 0% Permukiman Kumuh adalah Dr. Iwan Kustiawan, S.T,M.T (Dosen Planologi ITB). Pemateri tema 100% Akses Sanitasi Layak adalah Dr. Ir. Tresna Dermawan Kunaefi (Dosen Teknik Lingkungan ITB).

Artikel4-2

Acara ini dihadiri oleh 124 mahasiswa dan umum baik dari dalam ITB maupun dari luar seperti Institut Teknologi Nasional (ITENAS), Institut Teknologi Yogyakarta (ITY), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Telkom University.

Harapannya, dengan adanya Environmental Talks ini masyarakat umum lebih sadar tentang keberlangsungan program ini dan mendukung sepenuhnya. Selain itu masyarakat juga ikut mengawal dan selalu mengevaluasi agar di tahun 2019 target-target tersebut dapat tercapai. Tulisan berjudul Yakinkah 2019 Akan Tercapai Akses Universal? adalah hasil dari Diskusi Publik tersebut. Link materi dapat diunduh di http://bit.ly/materiEnvironmentalks .[]

Ratifikasi Paris Agreement dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Energi

Pada Sabtu 5 November 2016 kemarin, Departemen Diskusi Kreatif dari Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB mengadakan diskusi publik bertajuk Ratifikasi Paris Agreement dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Energi dengan menghadirkan beberapa narasumber. Pada diskusi publik ini, para narasumber memberikan pengetahuan dan informasi tentang rencana Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 26% pada tahun 2020 dalam sektor energi.

             Narasumber yang diundang pada kesempatan tersebut adalah para profesional baik dari lembaga pemerintah maupun nonpemerintah. Dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hadir Kasubdit Keteknikan dan Lingkungan Aneka Energi Baru Terbarukan, Martha Relitha, S.Si., M.Si. Dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hadir Kepala Bidang Hubungan Masyarakat, Dida Gardera, S.T., M.Sc. Selanjutnya turut hadir Erina Mursanti, S.E., M.Sc. dari Institute for Essential Services Reform (IESR). Terakhir, tamu istimewa yang hadir pada diskusi publik tersebut adalah Dr. Alexander Sonny Keraf, mantan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia yang kini merupakan anggota Dewan Energi Nasional.

diskusi-publik-1

 

 

Komitmen Indonesia Mengurangi Gas Rumah Kaca

Emisi gas rumah kaca mendorong perubahan iklim yang ekstrem. Perubahan iklim ini tidak hanya terjadi di satu negara melainkan berdampak ke seluruh penjuru dunia. Dunia internasional sudah lama gelisah dengan semakin buruknya kondisi bumi. Untuk itu, para pemimpin dunia bernegosiasi dan mencapai kesepakatan pengurangan emisi gas rumah kaca yang tertuang dalam Paris Agreement.

diskusi-publik-2

         Isi-isi Paris Agreement meliputi lima poin utama, yang pertama adalah upaya mitigasi dengan cara mengurangi emisi dengan cepat untuk mencapai ambang batas kenaikan suhu bumi yang disepakati yakni dibawah 20C dan diupayakan ditekan hingga 1,50C. Kedua, sistem penghitungan karbon dan pengurangan emisi secara transparan. Ketiga, upaya adaptasi dengan memperkuat kemampuan negara-negara untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Keempat, memperkuat upaya pemulihan akibat perubahan iklim dari kerusakan. Kelima, bantuan termasuk pendanaan bagi negara-negara untuk membangun ekonomi hijau dan berkelanjutan.

         Pada 5 Oktober 2016 Paris Agreement sudah terlaksana pada 55 negara. Peran Indonesia sementara ini hanya sebagai pengamat namun Indonesia memiliki gratifikasi yang besar meskipun belum menjadi partisipan. Penyumbang emisi di Indonesia dari sektor kehutanan 48% dan dari sektor energi 38%. Pemerintah saat ini melakukan upaya penurunan emisi gas dari sektor energi.

 

Upaya Mitigasi dalam Sektor Energi

Mitigasi dilakukan melalui beberapa pendekatan, yaitu land base, energi, IPPU, dan pengelolaan limbah. Selain upaya mitigasi, diupayakan pula adaptasi dan usaha pendukung lainnya seperti pengembangan kapasitas, keuangan, transfer dan kerja sama teknologi.

         Penerapan teknologi rendah emisi adalah salah satu upaya untuk mewujudkan komitmen Indonesia tersebut. Dalam bidang pembangkit listrik, beberapa alternatif yang bisa diupayakan adalah flexible power plants (penggabungan energi fosil dan energi terbarukan), pembangkit listrik energi baru terbarukan, dan pembangkit listrik bioenergi. Teknologi lain yang lebih efisien adalah clean coal technology, flywheel energy storage and aletromobility, dan supercapacitor battery.

 

Tetap Perjuangkan Kedaulatan Energi di Indonesia

diskusi-publik-3

       Pemerintah Indonesia telah menyusun rencana jangka panjang mengenai pengelolaan energi Indonesia, tertuang dalam PP No. 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional. Peraturan Pemerintah ini mengatur kebijakan pengelolaan energi yang berdasarkan prinsip keadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan guna terciptanya Kemandirian Energi dan Ketahanan Energi Nasional. Dr. Alexander Sonny Keraf menekankan bahwa Kebijakan Energi Nasional yang dijalankan membawa paradigma baru, yaitu energi sebagai modal pembangunan. Yang dimaksud adalah bahwa energi seharusnya menjadi komoditas yang ditujuan paling utama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, bukan untuk menambah devisa negara. “Bangsa ini kaya. Namun seringkali berpikir pendek karena langsung dijual untuk menambah nilai devisa negara,” ungkapnya.

           Mitigasi energi direncanakan melalui diversifikasi dan konservasi energi. Diversifikasi energi adalah dengan  meningkatkan porsi energi baru terbarukan hingga 23% dari total penyediaan energi nasional pada 2025. Energi baru diantaranya adalah batubara tercairkan, gas metana batubara, batubara tergaskan, nuklir, hydrogen sedangkan energi terbarukan antara lain panas bumi, aliran dan terjunan air, bioenergi, sinar matahari, angin, gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut. Di sisi konservasi energi, fokusnya adalah pada elstisitas energi dan intensitas energi hingga penghematan energi final.

 

diskusi-publik-4

         Fitri Wulandari selaku Kepala Departemen Diskusi Kreatif HMTL ITB berharap dengan diadakannya diskusi publik ini, civitas academica ITB dapat terpacu untuk turut berpartisipasi dalam upaya mencapai target implementasi Paris Agreement, terkhusus mahasiswa Teknik Lingkungan. “Sebagai mahasiswa teknik lingkungan, perlu ikut mengetahui dan mengkritisi proses memenuhi kebutuhan energi di Indonesia dan teknologi yang bisa mengurangi gas rumah kaca tersebut,” tutur Fitri.

 

Dikutip dari : https://www.itb.ac.id/news/5334.xhtml (Mega Liani Putri)

Kembang RW

s__7954473

         Kembang RW merupakan salah satu program pengabdian masyarakat yang berada di bawah Departemen Sosial Masyarakat Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB. Berangkat dari keprihatinan akan masih banyaknya daerah pemukiman padat penduduk, terutama daerah ekonomi menengah, di Kota Bandung yang memiliki permasalahan lingkungan dan kesehatan lingkungan, HMTL ITB mencoba menghadirkan Kembang RW sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

    Lingkungan dan kesehatan adalah dua hal yang memiliki hubungan sangat erat sehingga keduanya akan memberikan efek satu sama lain. Melihat realita yang ada saat ini banyak daerah dengan kualitas lingkungan yang kurang baik meskipun telah disediakan teknologi serta fasilitas penunjang namun didapati masalah yang ada di masyarakat saat ini adalah gaya hidup dan kesadaran yang kurang terhadap kebersihan, kerapian, dan kelestarian lingkungan sekitar.

       HMTL melalui kegiatan ini menyasar partisipasi aktif masyarakat agar ikut memiliki andil rangkaian kegiatan. Metode yang akan digunakan antara lain sosialisasi interaktif untuk mengedukasi pentingnya gaya hidup sehat dan kegiatan diskusi dalam penentuan kegiatan yang akan dilakukan bersama dengan masyarakat. Pengambilan keputusan bersama ini dilakukan dengan harapan keputusan yang diambil adalah kebutuhan yang memang dirasa perlu oleh masyarakat dan dapat menimbulkan rasa memiliki dan rasa tanggung jawab pada diri masyarakat.

       Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan pada masyarakat skala Rukun Warga (RW) karena dirasa di daerah perkotaan yang padat penduduk dengan keadaan ekonomi menengah, peran RW masih berjalan dengan baik. Maka pendekatan dengan perangkat RW pun akan  memberikan dampak yang lebih besar dan terstruktur dibandingkan kegiatan yang dilakukan soliter hanya oleh HMTL ITB.

      Selain itu dengan melibatkan petugas RW akan lebih banyak pemangku kepentingan yang ikut berkontribusi maka hal yang setuju untuk dilakukan adalah keputusan bersama yang meningkatkan kemungkinan keberjalanan kegiatan yang sustainable dan masyarakat mandiri yang menjadi tujuan jangka panjang kegiatan ini.

s__7954474

s__7954475

s__7954476

Rain Garden, Inovasi Baru Resapan Air

Bandung, 16 Agustus 2016 | 18.45 WIB

IMG_1461

Departemen Keprofesian HMTL ITB mempersembahkan suatu kegiatan berupa pengenalan lingkungan sejak dini ke Siswa Menengah Pertama melalui berkebun dengan sistem rain garden. Bertempat di SMPN 15 Bandung telah dilakukan penyuluhan pada 7 Mei 2016. Kemudian pada hari Sabtu, 13 Agustus kemarin menindaklanjuti penyuluhan yang telah dilakukan mulailah dibangun rain garden.

Hai Readers… Apakah kalian tahu rain garden itu? Selama acara pembangunan rain garden kami juga bertanya pada adik-adik apakah masih ingat tentang rain garden yang disampaikan pada penyuluhan 7 Mei 2016. Hasilnya adik-adik hanya mengetahui rain garden adalah taman hujan.

Rain garden adalah suatu taman yang bertujuan untuk mengurangi genangan air, dapat digunakan sebagai sumber air lagi, karena rain garden disusun dengan ruang sirkulasi untuk menangkap air hujan dan menggunakannya kembali. Rain garden merupakan suatu cara untuk mengatasi resapan-respan yang saat ini mulai sedikit akibat banyaknya pembangunan. Pada rain garden penggunaan tanah diganti dengan media untuk mempermudah sirkulasi. Kerikil merupakan komponen media yang diletakkan pada bagian dasar sebagai pondasi. Kemudian ada pasi malang, pasi ini berwarna hitam, merupakan pasir aktif yang memiliki sifat porositas lebih baik dari pasir biasanya. Lapisan teratas terdiri dari tanah dan kompos.

rain garden

S__288292914

Nah gimana, habis baca artikel ini apakah kalian tertarik buat bikin rain garden? Atau tertarik buat bikin inovasi baru yang bermanfaat? Itu hanya sedikit ilmu yang bisa kami share ke adik-adik SMPN 15 Bandung, semoga bemanfaat ya. Oya Readers, jika kalian punya inovasi-inovasi baru cobalah share ke orang sekitar terutama anak-anak sejak dini supaya mereka mencintai lingkungan dimulai dari seakrang. There are a million way to save environment. Think big and act now !!!…

See ou on the next project.. Thanks for reading 🙂