Gerakan untuk Masa Depan


Global Climate Strike 2019

Jurnalis : Reza Rahmaditio

“My message is that we’ll be watching you. This is all wrong. I shouldn’t be up here. I should be back in school on the other side of the ocean. Yet you all come to us young people for hope. How dare you. You have stolen my dreams and my childhood with your empty words. Yet I am one of the lucky ones. People are suffering.”

– Greta Thurnberg

Itulah kata-kata yang diucapkan seorang gadis berumur 16 tahun di hadapan para pemimpin dunia pada UN Summit 2019 di New York, tanggal 23 September 2019. Greta yang telah menjadi ikon aktivisme kaum muda terhadap perubahan iklim, pada awalnya hanya seorang gadis berumur delapan tahun yang bertanya-tanya mengapa perubahan iklim tidak menjadi tajuk utama dalam kanal-kanal berita. seolah-olah ada perang dunia yang sedang terjadi tetapi tidak ada yang peduli, katanya ketika berbicara di TEDxStockholm. Kegusarannya terhadap permasalahan iklim ini memuncak pada Agustus 2018, setelah fenomena gelombang panas dan kebakaran hutan terjadi di Swedia. Dia memutuskan untuk mogok sekolah sampai 9 September 2018 (pemilahan umum Swedia), dan melangsungkan aksi protes seorang diri dengan duduk di depan gedung parlemen sambil memegang papan bertuliskan “SKOLSTREJK FOR KLIMATET” (mogok sekolah untuk iklim). Tuntutannya adalah bahwa pemerintah Swedia mengurangi emisi karbon sesuai dengan Persetujuan Paris. Seakan belum puas, paska pemilihan umum Greta terus melanjutkan aksinya pada setiap hari Jumat. Aksinya pun menjadi sorotan media, dan tak lama kemudian menjadi sorotan dunia. Gelombang gerakan mogok sekolah tersebut beramplifikasi ke berbagai penjuru dunia. Tercatat, pada Desember 2018, lebih dari 20.000 siswa telah melakukan pemogokan di setidaknya 270 kota. Berbagai nama dan tagar gerakan baru muncul, mulai dari “Fridays For Future” sampai yang terakhir berlangsung adalah “Global Climate Strike”. Bermula dari pelajar, sekarang gerakan ini sudah tidak mengenal lagi latar belakang dan status sosial. Semuanya bersatu melawan perubahan iklim.

Dilansir dari The Guardian, aksi “Global Climate Strike” yang dilaksanakan pada tanggal 20 September 2019 dinobatkan sebagai aksi protes iklim terbesar yang pernah ada. Aksi ini digelar serentak di 185 negara dengan melibatkan jutaan orang yang berasal dari LSM, Lembaga Pendidikan, korporasi, juga masyarakat sipil tentunya. Secara global, aksi ini menggaris bawahi terjadinya fenomena climate crisis di dunia yang utamanya diakibatkan oleh emisi gas rumah kaca (GRK) dari penggunaan bahan bakar fosil. Istilah climate crisis  digunakan sebagai bentuk ekspresi dari perubahan iklim yang kian parah.

HMTL di “Global Climate Strike” cabang Jakarta

Di Indonesia, aksi ini berlangsung di 19 kota, yaitu Aceh, Samosir, Bengkulu, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Cirebon, Cilegon, Garut, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Bali, Palangkaraya, Palu, Kupang dan tentunya Jakarta sebagai titik fokusnya. Di Jakarta, lebih dari 700 orang yang berasal dari sekitar 50 komunitas dan masyarakat sipil ikut andil dalam meramaikan aksi damai ini. Rangkaian acara aksi ini berupa long march; orasi dan pembacaan tuntutan; dan pertunjukkan seni. Para peserta aksi berkumpul di depan balai kota pada sekitar pukul dua siang untuk bersiap memulai long march. Ketika itu juga, rombongan HMTL sampai di lokasi setelah menempuh sekitar lima jam perjalanan dari kampus ITB. Salah satu panitia menyambut kedatangan kami dengan memberikan penjelasan singkat mengenai aksi dan memberi atribut berupa ikat kepala kuning bertuliskan “Jeda Untuk Iklim”. Disediakan juga properti aksi seperti poster dan spanduk yang terbuat dari barang bekas, dengan desain yang persis seperti pada aksi climate strike di luar negeri. Ditambah lagi, peserta aksi yang tidak sedikit adalah bule, semakin menciptakan suasana yang mirip seperti aksi climate strike di eropa. Yang membedakannya hanyalah hawa panas dan teriknya matahari Jakarta yang membuat ingin cepat-cepat balik lagi ke Bandung.

Dari awal kedatangan kami ke lokasi aksi, kehadiran kami rupanya cukup menarik perhatian media maupun peserta lainnya karena atribut jaket himpunan yang kami kenakan. Sejauh penglihatan kami di sana, memang hanya rombongan HMTL yang memakai “seragam”. Peserta lain mengenakan pakaian biasa walau beberapa ada juga yang mengenakan kaus organisasinya. Selain karena ada nama ITB yang tertera di dada kiri kami, mungkin memakai jaket tebal pada siang hari di Jakarta memang suatu hal yang wajar menarik perhatian orang-orang. Namun, akibat itu juga kami jadi dikenali beberapa alumni TL yang kebetulan juga ikut serta dalam aksi.

Salah satu hal yang unik dari aksi ini adalah energi yang digunakan 100% berasal dari energi terbarukan. Mulai dari mobil komando, speaker, dan peralatan elektronik lainnya, semuanya tersambung ke panel surya. Mobil komando yang merupakan mobil listrik, bersama dengan beberapa kendaraan listrik lainnya memimpin jalannya rangkaian acara long march menuju taman aspirasi yang jaraknya kurang lebih tiga kilometer dari balai kota. Selama satu setengah jam berjalan, peserta tanpa henti-hentinya menyanyikan berbagai yel-yel dipimpin oleh beberapa panitia yang memegang pengeras suara. Salah satu yel-yel yang paling dapat menggambarkan suasana aksi tersebut adalah:

Kalau kau cinta bumi teriak Bumi!, BUMI!!

Kalau kau cinta bumi teriak Bumi!, BUMI!!

Kalau kau cinta Bumi dan ingin menjaganya, mari kita bersama teriak Bumi!, BUMI!!

Mungkin karena pada awalnya aksi ini milik kaum muda, sehingga semua yel-yel yang dipakai sejenis dengan yel-yel tersebut. Memang tidak ada yang salah karena ini sebatas aksi damai. Namun, terasa sedikit menggelitik ketika yel-yel tersebut dinyanyikan oleh peserta yang didominasi orang-orang dewasa. Apalagi peserta bule yang dapat dipastikan tidak mengerti artinya. Sedari awal memang terlihat bahwa aksi ini ingin dikemas dalam bentukan yang menyenangkan – salah satunya dengan melibatkan anak-anak kecil – walaupun konten yang diangkat cukup serius.  Entah ini metode seperti ini tepat atau tidak untuk digunakan dalam keadaan yang katanya ‘genting’ ini (krisis iklim). Namun, yang jelas jenis aksi seperti ini telah menambah warna baru dalam corak pergerakan di Indonesia, yang selama ini dapat dikatakan masih monokrom.

Kembali ke rangkaian acaranya. Sesampainya di taman aspirasi monas, pertunjukan seni berupa music tradisional menyambut kedatangan peserta aksi sekaligus mengisi kekosongan sebelum mata acara selanjutnya dimulai. Selama berada di taman aspirasi, sebetulnya tidak banyak kegiatan yang kami lakukan. Beberapa kali kami bertemu dan berfoto dengan alumni-alumni TL. Beberapa kali juga kami diwawancara oleh berbagai media, mulai dari media dalam kampus, nasional hingga internasional. Sementara itu, rangkaian acara terus berlanjut, berisikan orasi dari perwakilan elemen-elemen masyarakat tentang krisis iklim dan pembacaan tuntutan untuk pemerintah. Hari semakin gelap dan waktu menunjukan pukul lima. Atas beberapa pertimbangan, kami memutuskan untuk meninggalkan acara dan pulang lebih dulu. Yang pertama, tuntutan yang kami (HMTL) bawa berbeda dengan yang gerakan ini bawa. Walau dalam satu visi yang sama, namun terdapat poin tuntutan yang belum dapat kami sepakati pada saat itu, yaitu terkait deklarasi krisis iklim. Dalam dokumen pernyataan sikap HMTL, terdapat tiga poin tuntutan sebagain berikut.

  1. Menuntut pemerintah untuk melaksanakan tindakan preventif terhadap potensi kebakaran hutan tahunan di Indonesia sebagai wujud pelaksanaan komitmen terhadap National Determined Contribution (NDC).
  2. Menuntut pemerintah untuk menjaga angka deforestasi di bawah 0.45 juta Ha per tahun demi memenuhi target National Determined Contribution (NDC) tahun 2020. Sejalan dengan itu, pemerintah juga perlu meningkatkan angka reforestasi yang saat ini masih sangat timpang dibanding deforestasi.
  3. Mendorong pemerintah untuk memperbaiki mekanisme pelaksanaan REDD+ di Indonesia agar sesuai dengan kondisi sosial budaya di Indonesia, sebagai wujud pelaksanaan komitmen terhadap National Determined Contribution (NDC).

Pertimbangan lainnya adalah perjalanan ke Bandung yang akan memakan waktu lama sehingga perlu diantisipasi dengan berangkat lebih awal. Benar saja, saat itu jalanan macet luar biasa. Butuh waktu tujuh jam hingga kami sampai di Jalan Ganesha. Namun, seluruh rasa Lelah – dan kantuk terutama – yang kami rasakan selama dari persiapan hingga ekskusi, terbayarkan dengan rasa bangga atas capaian yang tidak terduga-duga. Bermodalkan semangat dan optimisme, akhirnya HMTL dapat melampaui ekspektasi terhadap dirinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× nine = 72