KULI-AH KERJA NYATA

Jurnalis : Fachriah Wibowo

Dokumentasi oleh KKN Tematik ITB Dusun Cibulakan

Perkenalkan, aku Riri dan kemarin aku menggunakan satu bulan terakhir dari masa liburan semesterku untuk mengikuti program KKN. Pada hari-hari menjelang keberangakatan KKN, jujur saja, aku merasa sangat takut dan ragu. Apakah aku akan mampu bertahan disana? Apakah aku mampu, menghabiskan 21 hari di lingkungan yang sepenuhnya baru, bersama orang-orang baru, dengan budaya yang juga akan sangat baru untukku? Apakah orang-orang disana akan menerimaku? Atau apakah lebih baik jika aku tidak jadi berangkat KKN dan menghabiskan sisa waktu liburku bersama teman dan keluarga?

Namun pada akhirnya, aku tetap memutuskan untuk berangkat karena aku sadar bahwa pada akhirnya aku memang harus belajar untuk keluar dari zona nyamanku selama ini, meskipun dengan penuh keraguan. Bahkan pada saat pertama kali menginjakan kaki di Desa Buanamekar, aku langsung menghitung mundur hingga waktu kepulangan.

Untuk program KKN kemarin, aku dikelompokan ke dalam tema air dan kami ditargetkan untuk dapat membangun MCK dan tempat wudhu di dua tempat yang berbeda yaitu di masjid RT 01 dan di masjid RT 03. Dalam pengerjaannya, kami dibantu oleh Mas Adi, selaku mandor. Dari Mas Adi kami banyak belajar, bukan hanya mengenai hal-hal ‘pertukangan’ seperti cara membuat kerangka pilar, cara membuat campuran semen, cara memplester dan mengaci dinding. Tetapi juga ilmu tentang hidup, salah satu kalimat favorit Mas Adi, yang paling saya ingat adalah “kejujuran itu penting, untuk saya meskipun saya seperti ini, kejujuran tetap yang paling penting. Saya tidak akan pernah membohongi orang lain”. Selanjutnya, dalam proses pembangunan, kami menghadapi beberapa permasalahan yang didasari oleh adanya perbedaan pendapat dan sudut pandang diantara kami dan masyarakat setempat, seperti kesadaran akan pentingnya penggunaan septic tank, perbedaan target capaian untuk masing-masing MCK, dan hal-hal lainnya. Namun justru karena permasalahan-permasalahan tersebut, kami dapat lebih banyak belajar. Ada satu hal yang aku sesali dari keberjalanan tema kami, kami gagal meyakinkan penduduk sekitar tentang pentingnya penggunaan septic tank, dengan seribu satu alasan, penduduk disana menolak tawaran kami mengenai penggunaan septic tank dan lebih memilih menggunakan cubluk sederhana untuk MCK di kedua masjid.

Selama berada disana, aku tinggal bersama beberapa temanku di salah satu rumah warga yang sekaligus basecamp kami untuk berkumpul. Memang pada mulanya aku tidak mengenal mereka sama sekali dan cukup sulit untuk dapat mengobrol dengan mereka. Namun setelah beberapa hari dan melakukan berbagai aktivitas bersama, seperti mencuci baju, memasak, bermain kartu, bahkan memancing, justru teman-temanku ini lah yang pada akhirnya membantuku menghilangkan ketakutanku dan menjadi penyemangatku selama berada disana, hehe. Dari mereka, aku belajar banyak. Dimulai dari pentingnya rasa empati terhadap satu sama lain, belajar menjadi lebih dewasa, belajar berkomunikasi, sampai bahkan belajar memasak.

Selanjutnya, ketakutanku akan kemungkinan orang-orang disana untuk tidak menerimaku adalah salah besar. Nyatanya, penduduk disana sangat welcoming, ramah, ramai, dan baik. Lagi-lagi, melalui penduduk setempat aku belajar banyak hal seperti belajar berkomunikasi khususnya dalam bahasa sunda, belajar bersyukur, belajar memasak, belajar berkebun, dan belajar bertani. Ibu-ibu disana sering mengajak kami untuk pergi berkebun atau bertani dengan mereka lalu dengan sabarnya mengajari kami apa-apa saja yang perlu kami lakukan. Yang lebih enaknya lagi, setiap kali ikut pergi ke kebun, kami akan diberi banyak makanan dan cemilan, hehe. Selain itu, ibu-ibu disana juga cukup sering mengajak kami makan bersama, baik ‘liwetan’ maupun buka puasa bersama. Bahkan, anak-anak disana pun dapat mengajari aku bahwa untuk menjadi bahagia itu sederhana dan bahwa aku harus berani bermimpi sepeti mereka.

Walaupun diawal pelaksanaan program KKN ini aku dipenuhi dengan ketakutan dan keraguan, pada akhirnya saat waktu perpisahan datang dan aku harus pulang meninggalkan Cibulakan dan orang-orang di dalamnya, aku merasa sedih. Ditambah lagi melihat ibu-ibu dan anak-anak disana yang menangis, membuatku ikut menangis bersama mereka. Ternyata semua keraguan tersebut dapat hilang dalam kurun waktu 21 hari. Aku bersyukur sudah mengikuti program KKN ini karena aku dapat memperoleh berbagai macam ilmu, menambah teman, dan mengubah diriku menjadi lebih baik lagi. Hehe, terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


four × = 12