Bagaimana sih Peran Biosurfaktan dalam Bioremediasi Lumpur Migas?

Pada industri migas, sludge yang menjadi permasalahan utama ialah dalam bentuk minyak (oil) yang tercampur pada partikel tanah baik secara kimia maupun fisik sehingga menyebabkan kontaminasi tanah. Kontaminasi ini biasanya terjadi karena kebocoran pada tangki, tumpahan yang terjadi selama proses pengangkutan juga loading/unloading, dan kebocoran pada jaringan perpipaan industri terkait. Untuk menghentikan kontaminasi tanah yang semakin meluas, maka diperlukan cepat tanggap dari operator terhadap tumpahan minyak tersebut dan tergantung dari tipe minyak tersebut. Semakin berat minyak yang menginfiltrasi tanah, penyebarannya akan semakin lambat dan begitu pula sebaliknya. Pembersihan secara biologi merupakan metode yang menjanjikan baik dari biaya maupun efektifitasnya yang mampu mengatasi polutan yang berasal dari limbah industri, hidrokarbon poliaromatik, produk hasil pertambangan migas, air asam tambang, pestisida, munitious compounds, dan metal inorganik, polutan kimia organik yang terdiri dari pestisida, cairan organic, minyak, dan lumpur/padatan.

Teknologi yang dapat diaplikasikan untuk mengolah oil sludge adalah bioremediasi. Aplikasi bioremediasi ialah dengan degradasi secara biologis menggunakan mikroorganisme terhadap kontaminan sehingga konsentrasinya berkurang hingga batas yang dapat diterima atau sesuai dengan regulasi. Keuntungan bioremediasi dibandingkan metode lain yaitu lebih berbasis lingkungan karena sifatnya degradasi bukan transfer kontaminan, less disruptive, dan biayanya lebih murah. Karena mikroorganisme pendegradasi kontaminan di lingkungan biasanya terbilang kecil sehingga harus diperkaya agar pertumbuhannya cepat dan dapat mendegradasi kontaminan minyak dengan cepat pula melalui penambahan seperti:

  • substrat sebagai akseptor elektron,
  • substrat sebagai donor elektron,
  • materi inorganik, dan
  • kelarutan kontaminan.

Kemudian berdasarkan hasil studi, proses biodegradasi oil sludge dapat dipercepat dengan penambahan biosurfaktan. Biosurfaktan mampu mengubah minyak dari bentuk hidrofobik menjadi hidrofilik sehingga ketika minyak sudah soluble, baru mikroorganisme dapat mendegradasi minyak tersebut. Biosurfaktan memiliki kemampuan untuk menurunkan tegangan permukaan dan tegangan antar molekul menggunakan mekanisme serupa seperti surfaktan berbahan kimia. Namun biosurfaktan lebih cocok diaplikasikan untuk lingkungan karena sifatnya yang biodegradibility. Selain itu, biosurfaktan mampu diproduksi secara in-situ dan dari bahan dasar lebih murah mengakibatkan beban pada lingkungan yang lebih kecil. Laju konversi bahan kimia saat proses bioremedasi oleh mikroorganisme dipengaruhi oleh laju uptake dan metabolisme mikroorganisme (intrinsik) serta laju degradasi mikroorganisme (transfer massa). Untuk proses biodegradasi yang efisien dan total, diperlukan pelarutan hidrokarbon menggunakan biosurfaktan yang disertai bioaugmentasi.

biosurfaktan

Biosurfaktan merupakan bahan yang dapat meningkatkan laju biodegradasi polutan yang memiliki kelarutan rendah, sebelum dilakukan bioremediasi. Selain meningkatkan laju biodegradasi, konsentrasi polutan dapat diminimalisasi hingga kadar tertentu. Hal ini disebabkan oleh pseudostabilisasi dan emulsifikasi kontaminan, sehingga meningkatkan ketersediaan substrat bagi mikroorganisme. Biosurfaktan dapat menstimulasi pertumbuhan mikroorganisme pendegradasi dalam menyediakan ko-substrat yang dapat meningkatkan kemampuannya untuk menggunakan senyawa hidrofobik sebagai sumber ‘makanan’.

Intinya, prinsip utama bioremediasi terdapat pada adanya mikroorganisme pendegradasi dan dengan bantuan biosurfaktan mikroba mampu mineralisasi polutan yang terdapat pada sludge, dan kemudian mereduksi jumlah dan toksisitasnya. Faktor yang mendukung keberhasilan bioremediasi antara lain ketersediaan mikroba, ketersediaan kontaminan, dan lingkungan yang sesuai. Efektivitas bioremediasi ditentukan oleh kemampuan mendegradasi senyawa kompleks dan kinetika laju reaksi.

 

Source:

Helmy, Qomarudin.,Edwan Kardena, dan Rudy Laksmono. 2015. Bioremediation of Aged Petroleum Oil Contaminated Soil: From Laboratory Scale to Full Scale Application.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× two = 10