Perancangan Sistem Plambing Air Bersih di Perpustakaan Digital Kota Bandung

Oleh: Muslihaturrodliyah (15314088)

Abstrak: Perpustakaan Digital Kota Bandung menyediakan berbagai fasilitas untuk penyediaan informasi dan menampung kegiatan kebudayaan maupun sosial. Setiap kegiatan yang ada di dalam perpustakaan tidak luput dari penggunaan air bersih. Pemenuhan kebutuhan air bersih di dalam gedung sangat diperlukan untuk menunjang segala kegiatan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu desain sistem perpipaan air bersih sesuai dengan ketentuan yang ada.

Gedung ini mengambil air bersumber dari PDAM, dengan menggunakan sistem gravitasi untuk mengalirkan air ke seluruh bangunan. Sistem plambing didesain dengan tujuan untuk menetukan dimensi pipa yang diperlukan agar sesuai dengan ketentuan yang berlaku, namun air bersih tetap dapat terdistribusi dengan baik ke seluruh alat plambing di dalam gedung. Air yang dialirkan dari PDAM dikumpulkan di reservoir bawah yang terletak pada lantai basement paling bawah, kemudian dipompa ke tangki atap sebelum didistribusikan ke tiap unit alat plambing di dalam gedung.Perencanaan sistem perpipaan digunakan dengan metode perkiraan kebutuhan air bersih berdasarkan Unit Beban Alat Plambing (UBAP).

 

Kata Kunci : air bersih, perancangan, plambing, sistem gravitasi, sistem perpipaan

 

Abstract: Bandung Digital Library has many facilities for the provision of information and cultural and social activities. Every activities inside the building surely needs of clean water. Fulfilling clean water demand inside the buildingb is very necessary to support the activities inside. Therefore, plumbing design of clean water is needed with the requirements specified.

Source of clean water for this building is from city water company, using gravitation system to distribute water. Plumbing system has been designed to determine pipe dimension needed to meets the criteria, but the waterstill able to flow safely to the all of the plumbing units. Water from city water company collected in ground water tank on the lowest level, then pumped up to the roof tank before distributed into the plumbing units. while the piping system used in the planning method based on the estimated needs clean water Plumbing Equipment Unit Load (PEUL).

Keywords : clean water, design, gravity system, piping system, plumbing

PENDAHULUAN

Perpustakan Digital Kota Bandung ini  merupakan salah satu sarana yang bertujuan menjadi fasilitas publik yang dapat memberikan informasi terkini dan terlengkap mengenai Kota Bandung melalui beragam jenis media serta dapat menjadi wadah diskusi maupun berkumpulnya berbagai komunitas kreatif di Kota Bandung.

Pembangunan Perpustakaan Digital Kota Bandung ini tentunya harus memenuhi syarat-syarat teknis gedung untuk dapat mewujudkan gedung yang berkualitas. Syarat-syarat ini tercantum dalam Peraturan Menteri Pekerjaam Umum nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung. Salah satu syarat dalam  peraturan itu  adalah persyaratan kesehatan bangunan gedung yang termasuk di dalamnya persyaratan plambing. Persyaratan sistem plambing ini dijabarkan lebih jauh oleh SNI 03-7065-2005 mengenai Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing dan SNI 03-6481-2000 mengenai Sistem Plambing.

Sistem plambing terdiri dari dua jenis, yaitu sistem plambing air bersih dan sistem plambing air limbah. Sistem plambing merupakan sistem yang terintegrasi dalam pembangunan gedung, sehingga perencanaan dan perancangannya harus dilakukan secara terpadu dan sesuai dengan tahapan-tahapan perencanaan dan perancangan gedung itu sendiri.

Sistem plambing ini harus mampu memenuhi kebutuhan penghuni di dalamnya.  Oleh karena itu diperlukan perencanaan sistem plambing yang matang di Perpustakaan Digital Kota Bandung untuk menciptakan lingkungan yang saniter, dan kondisi tempat yang kondusif dan nyaman.

TEORI DASAR

Sistem penyediaan air bersih yang banyak digunakan dapat dikelompokkan sebagai

berikut (Morimura dan Noerbambang, 2005).

  1. Sistem sambungan langsung

Pipa distribusi yang ada di dalam gedung disambung langsung dengan pipa utama penyediaan air bersih. Karena terbatasnya tekanan yang dianjurkan dalam pipa utama, serta dibatasinya ukuran pipa cabang dari pipa tersebut, maka sistem ini biasanya dapat diterapkan untuk perumahan serta gedung-gedung yang berukuran kecil dan rendah.

  1. Sistem tangki atap

Prinsip kerja dari sistem ini adalah dengan menampung air terlebih dahulu di dalam tangki bawah yang dipasang pada lantai terendah atau di bawah muka tanah. Kemudian air dipompakan ke tangki atas yang biasanya dipasang di atas atap atau pada lantai tertinggi dari suatu bangunan.

  1. Sistem tangki tekan

Prinsip kerja dari sistem ini adalah dengan memompa air yang telah ditampung dalam tangki bawah ke dalam suatu tangki tertutup, sehingga udara di dalamnya terkompresi. Air dalam tangki tertutup tersebut dialirkan ke dalam sistem distribusi air di dalam bangunan dengan memanfaatkan tekanan dari udara yang terkompresi. Sistem tangki tekan biasanya dirancang sedemikian rupa agar volume udara tidak lebih dari 30% terhadap volume tangki.

  1. Sistem tanpa tangka

Sistem ini tidak menggunakan tangki apapun. Air dipompakan secara langsung ke dalam sistem distribusi air di dalam bangunan dan pompa menghisap air secara langsung dari pipa utama. Namun sistem ini biasanya dilarang di Indonesia.

 

Kuantitas air merupakan faktor kontrol dalam memilih sumber air bersih dan kemungkinan penyediaan tangki air pada gedung. Laju aliran puncak harus dipertahankan, karena mempengaruhi kapasitas pompa yang akan dipakai serta diameter dari pipa tersebut. Laju atau debit aliran dapat ditentukan menggunakan beberapa metode di bawah ini.

  1. Berdasarkan jumlah penghuni

Metode ini didasarkan pada jumlah pemakaian air rata-rata setiap penghuni dan perkiraan jumlah penghuni. Jumlah penghuni dapat ditentukan melalui luas lantai dengan menghitung kepadatan penghuni per luas lantai. Dengan demikian, jumlah pemakaian air sehari dapat ditentukan walaupun jenis dan jumlah alat plambing belum ditentukan.

  1. Berdasarkan jenis dan jumlah alat plambing

Metode ini digunakan apabila kondisi pemakaian alat plambing dapat diketahui misalnya untuk perumahan atau gedung kecil lainnya. Dalam menggunakan metode ini, harus diketahui terlebih dahulu jumlah dari setiap alat plambing dalam gedung tersebut.

  1. Berdasarkan unit beban alat plambing

Setiap alat plambing mempunyai suatu unit beban (fixture unit). Untuk setiap bagian pipa dijumlahkan besarnya beban dari semua alat plambing. Kemudian dicari besarnya laju aliran air dengan kurva hubungan antara jumlah unit beban alat plambing dengan laju aliran air.

Tabel 1 pemakaian air tiap plambing dan laju aliran airnya (Morimura dan Noerbambang, 2005)

M1

Menurut Badan Standarisasi Nasional Tahun 2015, ketentuan kualitas air dalam sistem penyediaan air minum adalah sebagai berikut:

  1. Hanya air yang memenuhi peryaratan air minum sesuai peraturan berlaku yang boleh dialirkan ke alat plambing dan perlengkapan plambing yang dipergunakan untuk minum, masak, pengolahan makanan, pengalengan atau pembungkusan, pencucian alat makan dan minum, alat dapur atau untuk keperluan rumah tangga sejenis lainnya termasuk jet washer 32ank ran untuk wudhu
  2. Air bersih yang tidak memenuhi persyaratan air minum hanya dibatasi untuk kloset, urinal, dan alat plambing serta perlengkapan lainnya. Semua kran dan alat yang dialiri air yang tidak memenuhi persyaratan air minum harus diberi tanda dengan jelas bahwa air tersebut membahayakan bagi kesehatan

METODOLOGI

Metodologi yang dilakukan dalam pelaksanaan dan pengerjaan tugas akhir adalah:

  1. Studi literatur

Studi mengenai teori yang menyangkut desain sistem plambing melalui berbagai buku, jurnal, maupun referensi online.

  1. Pengumpulan data sekunder

Data sekunder berupa data detail yang berasal dari salah satu tugas akhir program studi arsitektur mengenai Perpustakaan Digital Kota Bandung tersebut serta data-data lain yang mendukung tugas akhir.

  1. Perhitungan teknis dan desain

Melakukan perhitungan teknis dan desain dari sistem plambing air bersih dari bangunan Perpustakaan Digital Kota Bandung

  1. Analisis non-teknis

Melakukan analisis non-teknis terhadap perencanaan sistem plambing di Perpustakaan Digital Kota Bandung, seperti rencana anggara biaya (RAB), risiko dan kekurangan dari perancangan yang telah direncanakan, dll.

PERMASALAHAN DAN ANALISIS

Sistem penyediaan air bersih untuk Perpustakaan Digital Kota Bandung dilakukan dengan menggunakan sistem tangki atap. Sistem tangki atap ini diterapkan dengan alasan-alasan berikut :

  • Selama air digunakan, perubahan tekanan yang terjadi pada alat plambing hampir tidak terjadi, perubahan tekanan ini hanyalah akibat muka air dalam tangki atap.
  • Sistem pompa yang dinaikkan air tangki atap bekerja otomatis dengan cara yang sangat sederhana sehingga kecil sekali kemungkinan timbulnya kesulitan. Pompa biasanya dijalankan dan dimatikan oleh alat yang mendeteksi muka dalam tangki atap.
  • Perawatan tangki atap sangat sederhana jika dibandingkan dengan tangki tekan.

Untuk bangunan-bangunan yang cukup besar, sebaiknya disediakan pompa cadangan untuk menaikkan air ke tangki atap. Pompa cadangan ini dalam keadaan normal biasanya dijalankan bergantian dengan pompa utama, untuk menjaga agar kalau ada kerusakan atau kesulitan maka dapat segera diketahui.

Apabila tekanan air dalam pipa utama cukup besar, air dapat langsung dialirkan ke dalam tangki atap tanpa disimpan dalam tangki bawah dan dipompa. Dalam keadaan demikian ketinggian lantai atas yang dapat dilayani akan tergantung pada besarnya tekanan air dalam pipa utama.

Hal terpenting dalam sistem tangki atap ini adalah menentukan letak “tangki atap” tersebut apakah dipasang di dalam langit-langit, atau di atas atap (misalnya untuk atap dari beton) atau dengan suatu kontruksi menara yang khusus. Penentuan ini harus didasarkan pada jenis alat plambing yang dipasang pada lantai tertinggi bangunan dan tekanan kerja yang tinggi.

Kebutuhan air dihitung berdasarkan dari jumlah unit beban alat plambing (fixture units) yang ada di dalam gedung perpustakaan yang telah dirancang. Dalam hal ini, setiap alat plambing memiliki unit beban yang berbeda-beda. Dari setiap unit-unit alat plambing tersebut, akan dijumlahkan semuanya, kemudian dicari laju aliran serentak, yang kemudian nantinya dapat diketahui diameter yang dibutuhkan dari setiap pipa.

Sistem gravitasi digunakan untuk mengalirkan kebutuhan air bersih semua lantai gedung perpustakaan digital kota Bandung. Tangki gravitasi selalu atau sewaktu-waktu mendapat aliran langsung dari jaringan distribusi kota yang cukup tekanannya sehingga harus dipasang katup pelampung atau katup lain untuk mengatur aliran ke tangki agar air tidak meluap. Pipa untuk mengalirkan air minum dalam tangki gravitasi harus berakhir pada ketinggian yang
cukup di atas lubang peluap untuk mendapatkan celah udara yang disyaratkan. Taraf
aliran masuk tersebut tidak boleh kurang dari 10 cm di atas puncak pipa peluap.

M2

Gambar 1 Penyediaan air bersih yang masuk ke tangka gravitasi (Badan Standarisasi Nasional, 2015)

Air yang digunakan untuk mengaliri kebutuhan air bersih gedung perpustakaan berasal dari PDAM setempat. Tidak ada air tambahan yang digunakan.

Penyambungan dengan pipa dinas dari PDAM Kota Bandung diasumsikan kecepatan 2 m/detik dengan debit sesuai dengan kebutuhan air total. Didapatkan diameter pipa dinas dari PDAM adalah sebesar 0,1426 m atau 142,6 mm,sehingga digunakan diameter yang ada di pasaran adalah sebesar 200 mm.

KESIMPULAN

Dari analisa Perancangan Sistem Plambing Air Bersih Pada Perpustakaan Digital Kota Bandung  diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Sistem penyediaan air bersih di Perpustakaan Digital Kota Bandung dilakukan dengan menggunakan sistem tangka atap.
  2. Kebutuhan air bersih gedung Perpustakaan Digital Kota Bandung dihitung berdasarkan dari jumlah unit beban alat plambing (fixture units) yang ada di dalam gedung perpustakaan yang telah dirancang.
  3. Sistem pengaliran yang digunakan untuk mengalirkan kebutuhan air bersih di Perputakaan Digital Kota Bandung adalah dengan sistem gravitasi.
  4. Sumber air yang digunakan untuk mengaliri kebutuhan air bersih setiap lantai di Gedung Perpustakaan Digital Kota Bandung berasal dari PDAM Kota Bandung.

 

SARAN

  1. Sistem penyediaan Kebutuhan Air Bersih di Perpustakaan Digital Kota Bandung dapat dilakukan dengan menggunakan sistem sambungan langsung. Selain tepat karena gedung hanya memiliki 7 lantai yang berarti dikategorikan rendah dan kecil, juga bisa mengurangi rencana anggaran biaya.
  2. Sistem pengaliran air bersih di Perpustakaan Digital Kota Bandung sebaiknya menerapkan sistem pompa, karena meskipun dengan sistem gravitasi pompa tetap dibutuhkan sehingga akan lebih efektif jika sistem pompa langsung diterapkan.
  3. Sebagai pengembangan lebih lanjut, Perpustakaan Digital Kota Bandung dapat menggunakan air tambahan selain PDAM untuk kebutuhan air bersih. Air berasal dari air olahan air limbah baik berupa greywater maupun air hujan.

 

DAFTAR PUSTAKA

BSN. (2005): SNI 03-7065-2005 Tata Cara Perencanaan Sistem Plambing.

Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

BSN. (2015): SNI 8153-2015 Sistem Plambing. Jakarta: Badan Standardisasi

Nasional.

BSN Hardjosuprapto, Moh. Masduki (2000).  Penyaluran Air Buangan Vol. II.

Institut Teknologi Bandung

Cheng, C. (2001): A physical study of plumbing life cycle in apartment house.

Jurnal Building and Environment, 36: 1049-1056.

Meilisa, Irene. 2017. Pusat Informasi Terintegrasi Perpustakaan Digital Kota Bandung. Tugas Akhir. Bandung: Teknis Arsitektur, Institut Teknologi Bandung

Morimura, T. & Noerbambang, S. M. (1985). Perancangan dan Pemeliharaan
Sistem Plambing. Jakarta: Pradnya Paramita.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 + = twelve