Sungai Modern: Pusat Kekumuhan

Oleh: M. Adil Setsu (15314051)

Disclaimer:

Tulisan ini adalah Pemenang Lomba Menulis Bulan Oktober 2017.


Daerah kumuh umum sekali ditemukan terletak di daerah bantaran sungai. Setiap foto yang menunjukkan kondisi kekumuhan suatu daerah pasti juga menunjukkan kondisi sungai yang tak kalah memprihatinkannya. Hal ini merupakan suatu kewajaran karena sejatinya sudah menjadi nature dari manusia untuk hidup di dekat sungai atau sumber air lainnya.

Artikel7-1

Bila mengintip sejarah umat manusia, pusat peradaban pertama di bumi yang bermula pada tahun 6500 sebelum masehi juga ditemukan dekat dengan sungai: Mesopotamia, kini merupakan daerah Irak. Berbagai kebudayaan besar, seperti Sumeria, Babilonia, Akkadia, dan Asiria muncul dan berkembang di Mesopotamia tak lain dan tak bukan berkat keberadaan Sungai Efrat dan Sungai Tigris yang saling bertemu. Berkat kedua sungai itu, kebutuhan akan air bersih, seperti minum, irigasi, dan bebersih diri, dapat dipenuhi masyarakat.

Tak hanya Mesopotamia, pusat-pusat peradaban dunia yang muncul dan berkembang setelahnya pun erat hubungannya dengan keberadaan sungai. Sebut saja Mesir Kuno dengan Sungai Nil, Harappa yang kini merupakan daerah Pakistan dan sekitarnya dengan Sungai Indus, serta Tiongkok kuno dengan Sungai Kuning dan Sungai Yangtze.

8500 tahun kemudian dan manusia tetap menjadikan sungai sebagai pusat peradaban. Namun sungai zaman dahulu dan sungai di era modern ini amatlah berbeda. Sungai zaman dahulu sangat dapat dipastikan kualitasnya, namun di era yang memberi beban limbah amat besar kepada sungai, kualitasnya amat meragukan, terutama di negara-negara berkembang yang sedang pesat kemajuan industrinya. Maka dari itu, sungai sebenarnya sudah tidak lagi menjadi pilihan sumber kehidupan terbaik, terutama untuk daerah perkotaan metropolitan.

Tidak jauh dari Kampus Ganesha ITB, realitas seberapa memprihatinkannya kombinasi kawasan kumuh dan sungai tercemar dapat dirasakan di kawasan Plesiran, Taman Hewan, Kebon Bibit, serta kawasan-kawasan lainnya sepanjang Sungai Cikapundung. Menurut warga setempat, pemilihan bantaran Sungai Cikapundung sebagai sandang utama mereka adalah karena mudahnya akses air untuk digunakan mandi dan mencuci, serta akses pembuangan air limbah, baik black water maupun gray water, yang mana kedua akses tersebut dimanfaatkan secara langsung dari atau ke sungai tanpa adanya pengolahan terlebih dahulu.

Artikel7-2

Kolaborasi antara kawasan kumuh dan sungai tercemar ini memang secara langsung menguntungkan warga, namun di lain sisi terdapat dampak negatif yang secara langsung maupun tidak langsung dirasakan bagi kedua pihak. Kondisi sanitasi yang buruk akibat kondisi awal sungai yang sudah tercemar serta pola hidup masyarakat yang buruk pula dalam menjaga sanitasi tentu dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Kemudian, sungai yang awalnya sudah tercemar menjadi lebih tercemar lagi karena mendapat beban limbah yang langsung dihasilkan oleh masyarakat ke sungai. Belum lagi, berkurangnya daerah resapan sungai yang dihalangi oleh infrastruktur milik masyarakat di bantaran sungai dapat menyebabkan banjir yang langsung merugikan masyarakat di kawasan kumuh tersebut bahkan hingga kawasan-kawasan lainnya juga terkena dampak banjir. Maka dari itu, sesegera mungkin kolaborasi ini harus disudahi. Bila tidak, masalah-masalah tersebut akan terus timbul dan merugikan berbagai pihak.

Dalam penyelesaian masalah ini, berbagai bidang keahlian perlu dikerahkan. Salah satunya yang erat dengan keilmuan Teknik Lingkungan adalah River Engineering and Management. Bidang ini masihlah sangat jarang menjadi sorotan di Indonesia. Padahal, kunci dari menyelesaikan masalah daerah kumuh di bantaran sungai hingga masalah kualitas sumber air dan banjir adalah dengan merekayasa sungai itu sendiri. Sungai modern telah berubah menjadi sumber banjir, sumber penyakit, dan sumber kekotoran. Lalu, apakah masih layak menyebut sungai sebagai sumber peradaban dan sumber kehidupan? []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 7 = twenty eight