Diskusi Rutin #3: Menuju 100% Sanitasi 2019

Apa sih pengertian Sanitasi? Sanitasi ialah sebuah perilaku untuk membudayakan hidup bersih dan sehat dengan tujuan menjauhkan manusia dari sentuhan langsung dengan kotoran. Tapi yang dibahas kali ini bukan hanya perilaku melainkan juga mencakup infrastrukturnya.

100% sanitasi bersih adalah bagian dari SDG’s poin ke-6. Target tersebut untuk tahun 2030 tapi Indonesia menargetkan di 2019. Jumah 85% dari itu adalah pemenuhan standar minimal pelayanan dan 15% adalah pemenuhan kebutuhan dasar. Bagian 15% itu untuk yang jauh dari kota, contohnya PIT, sedangkan 85% untuk daerah perkotaan. Sistem air limbah 85% dan skala komunitas 15%.

Sanitasi memuat tiga komponen penting yaitu air limbah, persampahan, dan drainase. Untuk capaian dari persampahan adalah adanya realisasai dari 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sebesar 20%. Jumlah itu dihitung berupa TPS 3R yang berbasis masyarakat (tidak dikelola oleh pemerintah). Tersedianya sistem penanganan sampah perkotaan 80% berupa IPST berskala perkotaan, sedangkan TPS hanya satu kawasan.

Target utama 100% akses sanitasi layak adalah tidak ada lagi yang buang air besar sembarangan. Untuk drainase targetnya adalah tidak ada genangan diatas 20 cm dan tidak terjadi setiap 2 kali setahun.

Artikel3-1

Data peningkatan akses sanitasi berturut-turut adalah 2010: 55,54%; 2013: 60,91%; 2014: 61%; dan 2016: 64,07%. Sanitasi Indonesia terburuk kedua di dunia, di belakang India.

Ada beberapa tantangan yang dihadapi antara lain:

  1. Rendahnya kesadaran masyarakat. Alternatif solusinya antara lain: edukasi, sosialisasi, promosi, kampanye; dirangkum dalam suatu metode Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yaitu metode untuk membuat masyarakat merasa jijik untuk buang air besar sembaranagn dengan pemetaan lokasi buang air besar lalu penontonan langsung.
  2. Gap yang cukup besar pada pendanaan. Alternatif solusinya adalah peningkatan sumber pendanaan. Investasi air limbah membutuhkan 202,4 triliun rupiah, tapi hanya mendapat 106,5 T dan 24,3 T, dll.
  3. Sanitasi belum menjadi prioritas pemerintah daerah. Kerjasama lintas sektor dan kemitraan perlu dibangun dan dijaga dengan baik.

Ada beberapa potensi pengelolaan sanitasi yaitu AKKOPSI (Asosiasi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi) dan Kokja. Di samping itu ada pula usaha yang dapat dilakukan seperti STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyrakat), LLTT (penjadwalan penyedotan tinja), SPAL Kawasan, ketika IPAL terpusat dinilai kurang efektif karena jauh dengan masyarakat.

STBM memiliki banyak cara, biasanya dengan gambar. Sehingga selain pemicuan juga menggunakan ilustrasi dengan gambar. Bisa juga menggunakan tokoh-tokoh masyarakat setempat untuk bisa mengajak masyarakat. Gambar digunakan juga untuk mempermudah mengerti. Salah satu contoh keberhasilan mengatasi masalah sanitasi di pedalaman adalah pada masyarakat di Kampung Naga di mana BAB dengan pantat harus terkena air sehingga WC bisa disesuaikan.

Indonesia sudah memiliki rancangan prosedur baku untuk fasilitator sanitasi berbasis masyarakat mulai dari metode awal sampai akhirnya. Pertimbangannya adalah apakah metode tersebut berhasil diterapkan pada negara-negara yang sanitasinya buruk sehingga bisa dicoba untuk diterapkan di Indonesia. STBM sudah diatur juga di dalam Permenkes.

STBM baru gencar tahun 2015 ke atas, sebelumnya hanya berbasis infrastruktur sehingga kurang efektif. Sekarang lebih ke pemerintah daerah dipicu untuk membuat STBM itu sendiri. Air bersih juga ada programnya sendiri. Tapi rencana ke depannya juga belum tahu lagi, hanya melalui program fisik dan nonfisik. Di laporan kerja PUPR yang di-mention selalu program tersebut. Tapi ada gosip bahwa akan ada rencana jangka panjangnya (tahun 2025—2030) sebagai backup bila 2019 ini tidak tercapai.

Langkah realistis yang bisa dilakukan adalah dengan pengabdian masyarakat, partisipasi di STBM misalnya. Kalau secara akademis mungkin memang bisa ikut proyek ke konsultan.

Program Sanimas (Sanitasi Berbasis Masyarakat) adalah bagaimana melihat kebutuhan masyarakat, sehingga bila terlihat eksistingnya sangat kurang itu boleh langsung mengajukan program-program untuk meningkatkan sanitasi tanpa melalui pemerintah tapi lebih baik bila koordinasi dengan pemerintah. Sehingga misalnya ada pemerintah yang sudah mengadakan program, sifat kita bisa lebih ke menunjang program tersebut untuk meningkatkan efisiensi.

Salah satu pengabdian masyarakat terkait sanitasi yang bagus adalah yang dilakukan oleh KMIL ITB dan bisa dicek di Youtube KMIL ITB. Persiapannya satu tahun sebelumnya, selama 6 bulan hanya persiapan berupa survei masalahnya apa, wawancara ke tokoh masyarakat, bertemu LSM. Di sana ditemukan bahwa masalahnya adalah kekeringan sehingga dilakukan pemanfaatan air hujan dan juga air danau yang ada di sekitar. Satu lagi bergantung pada LSM dan pemerintah dengan pengadaan tangki air, tapi itu sangat jarang, hanya beberapa bulan sekali adanya.

Artikel3-2

Setelah survei diketahui juga bahwa ada sumber air di goa,tapi susah dijangkau oleh masyarakat padahal debit airnya cukup, setelah diteliti parameternya ternyata cocok. Setelah mengetahui itu semua, disusun tim teknis, tim sosial, tim lapangan. Untuk dana, konsepnya volunteer sebab dana yang banyak itu dari akomodasi peserta sehingga akomodasi peserta ditanggung sendiri. Dan itu pun boleh diikuti oleh himpunan-himpunan lain, bahkan partisipan yang kemarin ada dari universitas lain. Pencetusnya bermimpi bagaimana bisa benar-benar bermanfaat untuk masyaraat sehingga benar-benar dipersiapkan dengan matang, berani sampai Jogja dan bagaimana apa yang didapatkan di dalam kuliah bisa benar-benar bermanfaat untuk masyarakat. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


3 × = three