100% Akses Keberlangsungan Hidup

Oleh: Siti Fatimah (15314029)

Disclaimer:

Tulisan ini adalah Pemenang Lomba Menulis Bulan September 2017.


Penyediaan air bersih kepada masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan lingkungan atau kesehatan masyarakat, yang memiliki peran dalam mengurangi jumlah orang dengan penyakitnya, terutama penyakit yang berhubungan dengan air, dan berperan penting dalam meningkatkan standar atau tingkat (kualitas) hidup. Sampai saat ini, penyediaan air bersih bagi masyarakat masih dihadapkan pada beberapa masalah yang kompleks dan sampai sekarang belum dapat sepenuhnya diatasi. Salah satu masalah yang kita hadapi saat ini adalah masih rendahnya tingkat pelayanan air kepada masyarakat. Sehingga, hal itu akan memiliki efek pada kesehatan manusia.

Artikel6-1

Pemerintah menargetkan cakupan pelayanan akses air minum dan sanitasi masyarakat Indonesia bakal mencapai 100 persen pada 2019 sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada 2015, capaian akses air minum di Indonesia mencapai 70,97 persen. 72 Juta Penduduk Republik Indonesia belum memiliki akses air minum yang layak. Saat musim kemarau, jumlah penduduk yang mendapat akses air minum dipastikan kurang dari 70,97 persen.

Berdasarkan data dari Kementerian Riset dan Teknologi, pada tahun 2000 secara nasional ketersediaan air permukaan hanya mencukupi 23 persen dari kebutuhan penduduk. Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan akses air minum di Indonesia, perlu adanya pemberdayaan sumber air baku selain air permukaan diantaranya seperti mata air, air tanah, dan air angkasa.

Terdapat tiga langkah strategis untuk dapat mewujudkan 100 persen akses air minum di Indonesia. Langkah pertama, pemenuhan akses air minum 100 persen di tahun 2019 tentunya harus disertai dengan kualitas air minum yang baik agar derajat kesehatan masyarakat Indonesia meningkat. Jika kualitas air minum terjaga, angka kematian bayi sebanyak 100 ribu orang/tahun akibat diare dapat berkurang. Baik tidaknya kualitas air minum yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber air baku dan kinerja dari unit pengolahan yang dioperasikan. Sumber air baku di Indonesia melimpah, hanya saja maraknya pencemaran domestik menjadikan kualitas air semakin lama semakin buruk. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kualitas air baku tetap baik adalah mempromosikan kepada masyarakat perihal cara hidup sehat dan impact dari pencemaran lingkungan, sehingga memunculkan tumbuhnya kesadaran untuk menjaga lingkungan yang berasal dari masyarakat.

Langkah strategis kedua yang dapat dilakukan untuk mewujudkan terciptanya akses air minum 100 persen adalah menaikkan anggaran untuk meningkatkan fasilitas akses air bersih. Tanpa adanya dana yang dapat menunjang kebutuhan operasional sistem penyediaan air minum, target tersebut hanya akan menjadi harapan. Berdasarkan data kinerja PDAM yang diterbitkan BPPSPAM tahun 2013, Terdapat 20 persen dari 350 PDAM yang ada di Indonesia memiliki kinerja sakit dengan ciri khas yaitu tidak dapat atau susah berkembang, menderita kerugian, sumber daya yang terbatas, penyelesaian pinjeman bermasalah, dan memiliki cakupan pelayanan yang rendah atau kurang dari 10 ribu Sambungan Rumah. Anggaran yang digunakan sebagai modal dan yang didapat dari konsumen sangat mempengaruhi kinerja PDAM dalam mengolah air baku menjadi air minum.

Langkah ketiga dapat diambil jika anggaran yang diberikan oleh pemerintah dari APBN maupun APBD mencapai titik maksimum, sehingga tidak dapat diangkat lebih jauh, pemerintah harus mencari investor yang dapat menginvestasikan uangnya untuk pembangunan, operasional, dan pemeliharaan instalasi air minum.

Penyediaan air minum di Indonesia sudah tidak bisa dikelola dengan sistem konvensional. Mengambil air dari sungai, mengolah, dan mendistribusikan kepada masyarakat. Dengan menurunnya kualitas dan kuantitas air sungai yang mengalami degradasi akan menyebabkan biaya operasional akan lebih tinggi. Hal ini akan berimbas dengan tingginya biaya yang dibebankan kepada konsumen. Sehingga diperlukan inovasi teknologi untuk mengatasi masalah ini.

Artikel6-2

Saat ini, sedang berkembang teknologi yang bernama “Natural Treatment Plant” yang diadopsi dari Jerman. Pengoprasiannya dilakukan dengan cara menyadap air langsung dari akuifer di dalam tanah dan mendistribusikan ke hilir. Lapisan akuifer di daerah pegunungan digali atau dicoblos dengan pipa-pipa dan dibuat terowongan bawah tanah. Pada terowongan tersebut disediakan lubang-lubang untuk masuknya air tanah. Pengambilannya dilakukan seperti sumur biasa yang lazim ditemui di Indonesia. Pipa-pipa horizontal yang menyebar mengelilingi dasar sumur dipasang sepanjang 60 meter sehingga memperbesar kapasitas penyadapan. Air sadapan tersebut akan ditampung di reservoar untuk didistribusikan ke kota atau daerah. Topografi di Indonesia yang memiliki pegunungan dan perbukitan yang banyak tersebar berpotensi menjadi menara air yang sangat besar. Keuntungan yang diperoleh sangat besar, karena tidak membutuhkan bahan kimia untuk mengolah air minum. Selain itu tidak diperlukan pompa distribusi karena letak reservoar berada di pegunungan. Kualitas air yang dihasilkan sekelas natural mineral water. Kualitas dan kontinuitas terjamin, dan daerah tangkapan air dapat dikonservasi.

“Bagi Pulau Jawa yang memiliki banyak daerah gunung api dan pegunungan dengan curah hujan yang tinggi, seharusnya tidak perlu mengalami kesulitan air. Justru fenomena aneh yang ada. Air yang begitu jernih keluar dari mata air dengan melimpah, kemudian mengalir ke sungai dan dicemari oleh limbah pertanian, domestik, industri, sampah hingga berwarna coklat dan berbau. Lalu diambil untuk air baku, diolah, didistribusikan, dan dikonsumsi oleh masyarakat. Mengapa tidak diambil di mata air saja dengan disadap lalu didistribusikan ke bawah?”

Mari kita pergunakan sumber air dengan bijak serta membantu pemerintah menyukseskan program 100-0-100. Jadi 100? Atau tidak sama sekali? []

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


five × = 40