Berkarya dengan Kebermanfaatan Kepada Mereka yang Membutuhkan – Diskusi Rutin : 100% Akses Air Minum

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung mengadakan diskusi sebagai program kerja dari Divisi Diskusi Kreatif mengenai 100% akses air minum dengan pembicara Tatwadhika Rangin Siddhartha  (Teknik Lingkungan ITB 2013).

100% akses air minum adalah bagian dari 100-0-100, sebuah program kerja pemerintah yang mengupayakan tercapainya 100% akses air minum, 0% kawasan kumuh, dan 100% akses sanitasi layak yang tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. 100% akses air minum merupakan upaya pemerintah untuk bisa meningkatkan kualitas penyediaan air minum sehingga mampu menyediakan kebutuhan air minum nasional secara menyeluh.

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai terminologi yang digunakan di dalam program 100% akses air minum ini. Pertama adalah persentase yang digunakan, yakni 100%. Angka 100% yang dipakai di dalam program 100% air bersih ini memang berarti target dari pengembangan air minum ini adalah seluruh Rakyat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa memang pemerintah sedang mengusahakan air minum sebagai hak dari setiap rakyat. Kedua adalah akses, yang dimaksud dengan akses seringkali disalahartikan oleh kebanyakan orang, dimana, terkadang, setelah  melalui proses pengolahan air minum, air masih ada yang belum memenuhi standar air minum. Akses yang dimaksud disini adalah merujuk ke standar air minum yang dimaksud, dimana akses yang baik adalah akses terhadap air minum yang memenuhi standar. Adapun air minum yang memenuhi standar yang dimaksud adalah air yang sesuai dengan yang tertera pada Peraturan Mentri Kesehatan (Permenkes) No.492 tahun 2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Pada realitanya, banyak masalah mengenai air minum yang dihadapi oleh daerah-daerah, seperti di daerah dekat Ujung Kulon ada fasilitas pengelolaan air minum yang disediakan namun tidak dirawat oleh masyarakat, di Maluku Barat Daya sudah di fasilitasi oleh perusahaan namun masyarakat sekitar tidak percaya, di Kalimantan Barat (Pontianak) air yang mengalir rasanya asin, dan lain sebagainya. Dari pemerintah sendiri, kendala utama yang dialami adalah kurangnya investasi. Hal ini disebabkan oleh paradigma investor dimana investasi air dirasa oleh investor tersebut sebagai suatu hal yang tidak membawa keuntungan. Sampai sekarang, kurang lebih 50% PDAM dikategorikan kurang layak dan secara umum SPAM di Indonesia belum dapat dikategorikan SPAM Hijau.

Pengelolaan air bersih yang layak pada dasarnya memiliki tiga komponen yakni dari sumber air baku, treatment, dan pelayanan. Ketiga komponen ini merupakan salah satu bidang kerja Teknik Lingkungan, bahwa ketiga komponen ini merupakan suatu kesatuan yang harus berkesinambungan untuk bisa menghasilkan dampak yang optimal. Adalah peran kita sebagai mahasiswa Teknik Lingkungan untuk bisa menyadari permasalahan ini sekarang dan mau turun ke masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan ini kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


nine − = 3