iCem (Diskusi Cemas-cemas Masyarakat) “SAMPAH dan MASYARAKAT”

Kondisi di kawasan RW 6 (Kembang RW Sosmas; Kawasan Hijau Lestari) menjadi salah satu kawasan bebas sampah, dimana daerah tersebut memiliki sebuah organisasi penanganan sampah. Kondisi eksistingnya adalah tidak ada tindakan dari masyarakat mengenai penanganan sampahnya. Output yang diharapkan dari diksusi ini adalah mengubah suatu paradigma, “Sampah dari masalah menjadi SUMBER DAYA”.

SESI DISKUSI :

(Akbar) Bagaimana kesadaran masyarakat terhadap sampah-sampahnya?

>>Lira dan Kevin : Kesadarannya masih sangat kurang, dimana sampah masih berserakan dimana-mana.

(Fiana) yang diharapkan itu dari segi pengetahuan atau kesadarannya?

>> Fitri : Lebih mengarah pada kesadarannya

>>Tatwa : dari segi pengetahuan seharusnya mereka sudah tahu, karena sudah ada sosialisasi dari BPLH yang dilakukan di kawasan tersebut.

(Kevin) : Kenapa emang harus ada pengolahan sampah yang berbasis masyarakat? Mengapa tidak pemerintah?

>>Akbar : Permasalahan utama di Indonesia mengenai sampah adalah sulitnya penanganan sampah di sumber atau di hulu. Jadi masyarakat merupakan stakeholder yang berada di hulu. Rekayasa yang dapat di lakukan adalah rekayasan infrastruktur, rekayasa sistem, dan rekayasa kesadaran. Dimana ketiga sistem tersebut harus berjalan secara beriringan dan berkelanjutan.

>>Andreas : Salah satu perbedaan utama dari pengolahan sampah antara negara maju dan negara berkembang adalah mindset economy. Intinya sebenanrnya harus ada kesadaran dari pemerintah untuk membuat sistem yang baik sehingga masyarakat sadar kalau kita harus saling membantu dalam jangka waktu yang panjang.

>>Annisa (icem) : Dari segi infrastruktur, sudah bagus namun cakupan daerah pelayanan masih belum merata (Bank Sampah). Untuk fasilitas dari BPLH, georbak sampah sudah bagus, sudah ada 2 tapi sumber daya kerjanya belum baik. Yang perlu diperhatikan, sampah komunalnya belum ada. Dari segi rekayasa sistem itu belum ada sama sekali, dan untuk rekayasa kesadaran itu hanya terjadi di daerah RT 6 yang memang dekat dengan Bank Sampah. Masyarakat berpendapat bahwa malah mahasiswa yang kos yang kurang sadar akan pengolahan sampahnya dibanding dengan masyarakatnya.

>>Pipeh : Dari segi infrastruktur itu sudah bagus, BPLH sudah menyediakan 1000 biopori, namun dari segi maintenance yang dilakukan masyarakatnya masih belum antusias. Intinya keberhasilan dari pemerintah bergantung ada masyarakatnya sendiri.

(Fitri) : akar masalahnya sebenarnya dari mana kalau gitu?

>>Annisa (icem) : sistem dan kesadaran masyarakatnya, atau dari rekayasa sistem dan kesadaran masyarakatnya. Seperti waste to money itu harus di kembangkan.

>>Andreas : Sistem kontrol dari pemerintahnya, kontribusi pemerintah.

(Yobel) : Kondisi financial, pekerjaan, dan pendapatannya bagaimana?

>>Annisa (icem) : Ibu-ibu disana berpendapat mengenai pembayaran sampah tidak perlu ada karena bisa di bawa sendiri langsung ke TPS waktu pergi ke pasar, cuma dari segi pemilahan sama sekali tidak ada. Yang parahnya kalau memang malas membawa sampah ke TPS yasudah buang saja ke sungai.

(Annisa, icem) : Bagaimana pikiran kalian mengenai merubah sampah menjadi uang (waste to money) ?

>>Haikal : saya sendiri belum tau spesik, cuma ya menjual sampah-sampah yang bisa dijual ke tukang loak.

>>Adil : Menurut saya, lebih mengarah ke Bank Sampah. Kalau bahas tentang akar permasalahannya adalah role model yang ada didaerah tsb.

>>Kiki : Akar permasalahan di Cibaduyut adalah menyelesaikan masalah sampah di bakar itu akan lebih efisien, ya intinya pemikiran masyarakat yang berpikir primitive. Atau lebih ke arah mindset masyarakat.

>>Tatwa : Not in my backyard syndrome. Selama sampah tidak ada dihalaman rumah saya, maka itu bukanlah masalah saya.

>>Fiana : Lebih mengarah pada masalah sistemnya bukan ke mindset nya. Karena merubah sistem yang ideal secara sekaligus itu akan lebih sulit.

>>Yobel : Permasalahan sampah di Padalarang, menurut saya hal-hal kecil itu akan lebih bagus dibangun untuk memperbaiki suatu sistem.

(Kevin) : Apakah memungkinkan untuk menyelenggarakan suatu sistem waste to money?

>>Pipeh : Kesadaran dan sistem itu adalah hal yang tidak dapat di prioritaskan antara keduanya karena keduanya saling berhubungan. Untuk waste to money tidak hanya harus melewati bank sampah, tapi dari jiwa kewirausahaannya sendiri.

(Kevin) : Adakah ide untuk pemerintah dalam membuat sistem yang baik dalam pengolahan sampah ini?

(Haikal) : Adakah peraturan tentang pengolahan sampah ini? Jika sudah ada kenapa tidak ditegaskan saja?

>>Akbar : Peraturan sudah ada, tapi belum ada master plannya. Agar setiap daerah memiliki akselerasi pembangunan nya sendiri-sendiri. Intinya yang pertama, dibutuhkan blue print persampahan. Untuk bahasan mengenai waste to money maka sesuaikan antara program pemerintah dengan kesesuaian dengan masyarakatnya (pemilahan konsentrasi = perlakuan spesifik).

>>Yobel : seharusnya master plan dibuat jangan jauh-jauh memulainya, tapi dimulai dari ketua-ketua daerah yang bersangkutan.

>>Andreas : Pemerintahan belum menjadikan sampah sebagai masalah utama. Contohnya salam pemberian fasilitas, tapi tanpa ada sistem kendalinya. Intinya ya kita sebagai mahasiswa melakukan perubahan seperti melakukan pegabdian masyarakat dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang didapat.

>>Tenia : Kebermanfaatan sampah yang berbasis masyarakat adalah tujuan utamanya, membahas mengenai beberapa sarannya :

1. Bank sampah tidak dapat diterapkan di seluruh daerah Indonesia, karena permasalahan shipping.

2. Biofuel atau biogas, belum tepat guna penempatannya.

3. Composting, masalah keilmuannya belum merata.

4. Kerajinan, itu masalah demanding. Pelatihan dari kualitas kerajinan itu sendiri, sehingga memiliki nilai seni yang tinggi.

>>Fadil : Kepemimpinan yang sekarang bukan lagi seperti Soekarno, memberikan contoh atau menjadi teladan. Intinya dibutuhkan satu “pahlawan” atau satu pemimpin yang mampu mnginisiasi tentang permasalahan sampah.

 

OUTPUT DISKUSI

                  Output dari diskusi ini adalah saran-saran yang dapat dilakukan sebagai solusi permasalahan :

1. Mengoptimalkan RT 6 sebagai role model untuk RT-RT lainnya

2. Menacari tokoh masyarakat yang disegani atau menjadi teladan mengenai permasalahan sampah

3. Waste to money, seperti Bank Sampah, Biofuel atau Biogas, Composting, dan Kerajinan. Dimana kegiatan-kegiatan tersebut harus memperhatikan beberapa hal sebagi pendukung keberjalanan sistem tersebut.

4. Diadakan master plan mengenai pengelolaan sampah

5. Pemda lebih memprioritaskan masalah sampah menjadi masalah utama

6. Mahasiswa adalah penggerak dalam inisiasi sistem perbaikan

7. Sosok pemimpin yang mampu membawa kesadaran mengenai pengelolaan sampah itu penting.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 8 = zero