Mercusuar

Minggu (20/9/2015) Departemen Diskusi Kreatif Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan menyelenggarakan acara Mercusuar yang diselenggarakan di ruang 9008 ITB Ganesha. Acara bertemakan ‘ASEAN Economic Community (AEC) dan Insinyur Profesional’ ini menghadirkan dua pembicara yaitu Anggoro Budi Nugroho, S.E, MBA dan Ir. Agus Jatnika Effendi, Ph.D.

Sesi pertama diskusi diisi oleh Anggoro dengan materi yang dibahas yaitu ASEAN Economic Community. ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan salah satu dari tiga bidang kerjasama yang dilakukan oleh negara-negara anggota ASEAN selain Political Social Community dan ASEAN Socio Cultural Community. Dengan adanya AEC ini, seluruh negara ASEAN berhak melakukan perdagangan barang, jasa, investasi, dan tenaga kerja dalam lingkup negara-negara ASEAN secara bebas tanpa sekat.

Menurut Anggoro, kebijakan ASEAN Economic Community bagai pisau bermata dua, dapat menguntungkan sekaligus merugikan bagi Indonesia. Dampak positif yang akan dirasakan oleh Indonesia dengan adanya ASEAN Economic Community yaitu Indonesia memiliki pasar yang lebih besar, memiliki pilihan terhadap variasi produk, capital inflow dan investments, efisiensi dan leverage. Sedangkan dampak negatif dengan adanya AEC ini yaitu kualitas sumber daya manusia dan kemampuan teknologi yang masih rendah, institusi korup, dan infrastuktur Indonesia yang dinilai masih lemah. “Dengan masih adanya beberapa kekurangan tersebut, Indonesia bisa-bisa hanya jadi penonton atau konsumen pangsa”, ujar Anggoro.

IMG_1242 (1)Anggoro Budi Nugroho

Bukan hal yang mustahil bagi Indonesia untuk dapat berbicara banyak dan bersaing dalam bidang ekonomi dengan negara-negara ASEAN lainnya. Beberapa sektor yang berpeluang menguntungkan Indonesia dengan diberlakukannya kebijakan AEC diantaranya sektor pariwisata, industri kreatif, dan transportasi. Anggoro menambahkan, Indonesia harus tetap optimis menghadapi AEC. Sampai semester pertama tahun 2015, Indonesia menjadi peringkat pertama sebagai negara tujuan investor asing di ASEAN. Arus investasi yang masuk ke Indonesia yaitu sekitar US$ 13,7 miliar atau 31% dari total investasi yang masuk ke ASEAN. Arus investasi asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi sektor kimia, batubara, logam, dan migas.

Menutup pemaparannya, Pak Anggoro berpesan bahwa dalam menyambut MEA di tahun 2016 Indonesia harus berbenah. Bukan hanya dari sisi intelegensi manusia dan aspek teknologi, namun juga etos kerja, moral, loyalitas dan hal-hal penting lain agar bangsa Indonesia mampu bersaing di ASEAN bahkan dunia.

Sesi kedua Mercusuar menghadirkan Ir. Agus Jatnika, Ph.D yang merupakan dosen Teknik Lingkungan ITB. Materi yang dibahas pada sesi kedua ini yaitu ‘Insinyur Profesional’. Upaya pemerintah Indonesia untuk dapat bersaing dengan negara ASEAN lainnya dalam bidang ekonomi tak terlepas dari peran para rekayasawan atau insinyur. Tak dapat dipungkiri bahwa pembangunan infrastruktur, teknologi manufaktur, pengembangan sektor energi dan berbagai sektor lain memerlukan jasa rekayasawan.

Di awal sesi kedua, Pak Agus atau yang biasa dipanggil Pak Aje oleh mahasiswa Teknik Lingkungan ITB ini menjelaskan karakteristik profesi rekayasawan dan perbedaannya dengan profesi lainnya. Menurut Pak Aje, sebagian besar rekayasawan jarang berwiraswasta tetapi memilih bekerja untuk/pada perusahaan besar dan jarang berurusan langsung dengan mereka yang memanfaatkan jasanya. Selain itu, asosiasi rekayasawan pada umumnya tidak sekuat asosiasi profesi lain seperti kedokteran dengan IDI dan PDGI-nya ataupun pengacara yang memiliki IKADIN. Waktu pelatihan atau pemagangan formal seorang rekayasawan juga biasanya urang ekstensif bila dibandingkan dengan profesi lain, contohnya co-asst pada bidang kedokteran.

Pak Aje menuturkan, masih banyak rekayasawan yang dipekerjakan belum mempunyai lisensi (sertifikat profesi), sementara profesi lain menjadikan lisensi sebagai persyaratan yang ketat. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi para rekayasawan Indonesia. Dengan memiliki lisensi, artinya rekayasawan akan mendapat pengakuan dan dapat lebih dipercaya ketika terjun ke dunia kerja. Terutama dalam menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA – AEC) mulai akhir tahun 2015 mewajibkan praktek rekayasawan di ASEAN untuk mempunyai sertifikat.

IMG_1245 (1)Agus Jatnika Effendi

Selanjutnya, Pak Aje menjelaskan mengenai tahapan-tahapan yang akan ditempuh oleh para sarjana teknik (S.T) untuk dapat memperoleh setifikat Insinyur Profesional. Pertama, mahasiswa harus menempuh pendidikan strata 1 untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik (S.T). Selanjutnya, mengikuti Program Profesi Insinyur dengan menempuh 36 sks termasuk 10 sks magang selama 1,5 tahun untuk mendapat gelar Ir.

Sertifikat Insinyur Profesional diberikan dalam tiga jenis, yang sekaligus juga menunjukkan jenjang kompetensi yang dimilikinya. Yang paling awal adalah Insinyur Profesional Pratama, yaitu para insinyur yang sudah bekerja lebih dari tiga tahun sejak mencapai gelar kesarjanaannya dan sudah mampu membuktikan kompetensi keprofesionalannya. Yang kedua adalah Insinyur Profesional Madya, yaitu para pemegang sertifikat Insinyur Profesional Pratama yang sudah bekerja dan membuktikan kompetensinya selama paling sedikit lima tahun setelah ia memperoleh sertifikat Insinyur Profesional Pratama. Yang terakhir adalah Insinyur Profesional Utama, yaitu para pemegang sertifikat Insinyur Profesional Madya yang telah bekerja dan membuktikan kompetensinya selama paling sedikit delapan tahun setelah ia memperoleh sertifikat Insinyur Profesional Madya, serta mempunyai reputasi keprofesionalan secara nasional.

Acara kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab dan pemberian plakat bagi kedua pembicara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× 7 = sixty three