Menghijaukan Gurun Pasir

Gurun pasir merupakan ekosistem yang cukup ekstrim dengan kondisi kering, temperatur yang tinggi, curah hujan kecil, dan sumber daya air yang kurang memadai. Gurun pasir merupakan tempat yang jarang ditumbuhi vegetasi hijau. Mungkinkah manusia dapat membuat padang pasir menjadi lebih hijau? Terlihat mustahil, namun hal tersebut dapat terjadi. Sahara Forest Project, merupakan proyek yang memproduksi kunci sumber daya alam, seperti air bersih, energi bersih, dan produksi bahan pangan berkelanjutan yang dilakukan di Arabian Dessert. Sahara Forest Project (SFP) merupakan salah satu solusi lingkungan untuk menciptakan vegetasi dan pekerjaan hijau melalui produksi bahan makanan, air, listrik, dan biomassa yang menguntungkan di area padang pasir.

Nama Sahara Forest Project dipilih selain untuk merepresentasikan rencana untuk revegetasi beberapa bagian di Gurun Sahara, juga untuk menunjukkan keinginan untuk menciptakan area hijau di gurun di seluruh dunia. Sahara Forest Project dapat menumbuhkan tanaman, namun juga memberikan harapan dan kesempatan bagi banyak orang. Proyek ini didesain untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia menggunakan gurun, air laut, dan CO2 untuk menghasilkan makanan, air bersih, dan energi. Pengolahan dilakukan dengan menggunakan teknologi seperti Saltwater-cooled greenhouses, Concentrated Solar Power (CSP), dan teknologi untuk revegetasi gurun di sekitar infrastruktur pengolahan air asin.

Hingga saat ini, terdapat 2 fasilitas SFP, yaitu di Qatar dan Yordania. Satu fasilitas SFP mempekerjakan lebih dari 800 orang, fasilitas tersebut dilengkapi dengan 50 Mega Watt Concentrated Solar Power (CSP) dan 50 hektar Seawater Greenhouses yang setiap tahunnya dapat memproduksi 34000 ton sayuran dan mengekspor 155 GWh listrik dan Sequester lebih dari 8520 ton CO2.

SFP Jordan 1

SFP Jordan

SFP Qatar crop

SFP Qatar

Terdapat 7 teknologi utama yang digunakan dalam fasilitas SFP.

  1. Concentrated Solar Power

Prinsip dari CSP ini adalah untuk mengkonsentrasikan / memfokuskan sinar matahari menggunakan cermin yang cekung ke suatu receiver untuk dapat dikonversi menjadi energi panas. Panas dari cermin CSP digunakan untuk menjalankan sistem desalinasi evaporatif untuk memproduksi air distilasi untuk memenuhi kebutuhan air pada tanaman di rumah kaca dan di bagian luar. Panas yang dihasilkan juga digunakan untuk menghangatkan rumah kaca saat musim dingin dan untuk menjalankan pengering untuk mengatur kelembaban.

CSP

CSP

  1. Saltwater-cooled greenhouses

Instalasi ini memiliki prinsip kerja yaitu air laut dievaporasi di bagian depan rumah kaca untuk menciptakan kondisi yang lembab di bagian dalamnya, sehingga udara yang masuk ke dalam rumah kaca menjadi lebih dingin. Sebagian kecil air laut yang terevaporasi kemudian dikondensasi sebagai air bersih untuk irigasi.

saltwater

Saltwater

saltwater-cooling greenhouses

Saltwater-cooling greenhouses

  1. Penanaman vegetasi di luar dan Evaporative Hedges

Karena air sisa dari saltwater-cooled greenhouses memiliki salinitas 15%, air tersebut dilewatkan pada evaporator vertical eksternal yang membentuk seperti dinding, sehingga di bagian dalamnya dapat ditanami vegetasi karena kondisinya menjadi lembab meskipun berada di luar rumah kaca.

vegetation hedges

Vegetation hedges

  1. Photovoltaic Solar Power

Teknologi photovoltaic (PV) menghasilkan listrik dari energy matahari secara langsung melalui bahan semikonduktor yang dipasang pada atap bangunan di sekitar fasilitas SFP.

  1. Produksi Garam

Karena air mengalami banyak proses evaporasi, salinitas dari air laut meningkat hingga titik dimana garam dapat diendapkan. Proses ini dikelola di kolam evaporasi konvensional yang menghasilkan garam.

  1. Halophytes

Halophytes atau spesies tanaman yang menyukai garam dikembangbiakkan di air asin. Mengalirkan air dengan salinitas tinggi untuk irigasi secara langsung dapat membahayakan lingkungan, sehingga halofit ini ditumbuhkan untk memastikan air asin tidak merembes ke tanah di sekitar fasilitas atau merembes ke akuifer air tanah.

  1. Produksi Algae

Marine Algae dikembangbiakkan dalam suatu bangunan tersendiri di dalam fasilitas SFP. Algae ini dapat digunakan untuk keperluan research, diproduksi sebagai biofuel, dan sebagai makanan hewan ternak.

Fasilitas SFP ini terus berjalan dan dikembangkan hingga saat ini. Hasil dari fasilitas ini antara lain sayur-sayuran seperti timun, tomat, dan paprika, alga yang siap digunakan sebagai biofuel, energy berupa listrik, air bersih, serta garam. Produksi dengan kualitas tinggi dapat dihasilkan selama setahun penuh. Selain Sahara Forest Project, terdapat beberapa proyek lain yang juga mengupayakan penghijauan di padang gurun, seperti Thirsty Wheat dan Irrigated Crop Circles di Saudi Arabia, American Crop Circles di Nevada, Oasis Crops di United Arab Emirates, Desert Vineyards di Afrika Selatan, Irrigated Cotton di China, serta Arid Orchards di Gurun Kalahari. Keberadaan proyek-proyek tersebut menunjukkan bahwa ternyata tidak mustahil untuk menumbuhkan kehidupan di lingkungan yang cukup ekstrim seperti padang gurun.

http://saharaforestproject.com/concept/history.html

http://www.theguardian.com/environment/2008/sep/02/alternativeenergy.solarpower

http://www.gizmag.com/sahara-forest-project-pilot-plant-approved/17633/

http://globalriskinsights.com/2013/06/qatar-pursues-water-and-food-security/

http://content.time.com/time/specials/packages/article/0,28804,1872110_1872133_1872141,00.html

http://news.nationalgeographic.com/news/2010/01/100122-green-desert-oasis-sahara-forest/

http://yara.com/media/news_archive/sahara_forest_project.aspx

http://www.seawatergreenhouse.com/process.html

http://solareis.anl.gov/guide/solar/csp/

One thought on “Menghijaukan Gurun Pasir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


seven − 3 =