Kajian Buletin Departemen Pengmas: Bank Sampah

Kalau mendengar kata ‘bank sampah’, apa sih yang ada di pikiran kita? Bank sampah mungkin tidak terdengar terlalu familiar di telinga, namun kehadirannya sangat berpengaruh lho untuk perkembangan penanganan permasalahan sampah, khususnya di Kota Bandung. Nah, kajian buletin departemen pengabdian masyarakat yang diadakan di himpunan kita tercinta tanggal 18 November 2014 lalu membahas khusus tentang bank sampah agar anak TL semakin tahu tentang salah satu metode penanganan sampah.

_MG_1794

Di tengah ada Irfan Nasrullah sebagai moderator kajian kali ini.

_MG_1782

Massa HMTL yang sedang asik mengkaji isu sampah Kota Bandung.

Sebenarnya, apa sih bank sampah? Bank sampah adalah sebuah sistem pengumpulan sampah yang memiliki metode mirip dengan bank dan saat ini dilakukan oleh lembaga non pemerintah atau LSM. Masyarakat dapat menabung sampah di bank sampah dan mendapatkan uang sebagai gantinya. Kita juga akan mendapatkan buku tabungan layaknya bank asli. Suatu saat, kita dapat mengambil uang yang sudah kita tabung. Seru kan?

Sampah yang saat ini umum di masukkan ke dalam bank sampah adalah sampah anorganik yang memiliki nilai, seperti botol plastik, kertas, dan lain-lain. Setiap sampah memiliki nilai ekonomi masing-masing, tergantung dari kondisi dan jenis sampah itu sendiri. Namun tidak menutup kemungkinan bank sampah juga menerima sampah lain karena bank sampah pada dasarnya menerima lebih banyak klasifikasi sampah dibandingkan dengan pengepul. Kajian yang di buka pukul 18.30 ini diawali dengan pengenalan mengenai bank sampah agar peserta kajian mengerti konsep dasar sehingga peserta dapat mengikuti alur pembicaraan.

Di sesi pengenalan bank sampah secara umum ini, banyak muncul pertanyaan-pertanyaan menarik, seperti asal usul uangnya dari mana, atau Andre yang menanyakan apakah sampah yang kita tabung dapat kita ambil lagi. Kedua pertanyaan ini ternyata saling berkaitan. Sampah yang kita tabung, dikumpulkan oleh pihak bank yang kemudian akan disetor kepada pengepul/pengumpul sampah/bandar. Dari penyetoran itulah, bank sampah mendapat uang, sehingga kita tidak dapat mengambil kembali sampah yang sudah kita tabung. Selain uang, terdapat bank sampah yang berinovasi dengan memberikan imbalan berupa barang, misalnya bahan pokok. Jadi, saat kita menabung sampah, kita akan mendapatkan barang yang langsung bisa kita pakai.

Bagaimana dengan pemulung? Bank sampah tidak mengurangi jatah pemulung kok. Ada pemulung yang juga memanfaatkan bank sampah sebagai tempat menyetorkan hasil sampahnya. Selain itu, keberadaan bank sampah diharapkan dapat memberi lowongan pekerjaan kepada pemulung untuk bekerja di dalam bank sampah itu sendiri agar pekerjaan sebagai pemulung bisa dihindari karena kenyataannya pemulung adalah pekerjaan yang beresiko terkena paparan bahaya yang tinggi.

Persyaratan membangun bank sampah sebenarnya cukup mudah. Di daerah tersebut harus sudah ada jumlah nasabah minimal, sehingga bank sampah nantinya tidak akan terbuang percuma karena tidak ada nasabah yang menabung di bank tersebut.

Pemerintah sendiri sebenarnya sudah tahu tentang bank sampah, namun pemerintah masih sebagai pihak yang terima jadi. LSM lah yang banyak berperan dalam bank sampah, yang seharusnya juga didukung oleh pemerintah agar pertumbuhan bank sampah semakin pesat. Pertumbuhan bank sampah yang pesat diharapkan mampu menyadarkan masyarakat agar memilah sampahnya sendiri karena dengan pendekatan ekonomi masyarakat akan merasa lebih diuntungkan daripada pendekatan sosial seperti ancaman banjir, penyakit, dan lain-lain.

Setelah puas dengan konsep dasar bank sampah, sesi selanjutnya adalah sistem distribusi bank sampah. Sampah yang berada di bank selanjutnya akan di bawa ke pengepul kecil, kemudian pengepul besar, dan terakhir adalah pemanfaatan sampah. Di pengepul besar, terdapat pabrik seperti pabrik pencacah, yang kemudian di bawa ke tempat pemanfaatan sampah untuk di daur ulang.

Produk yang dihasilkan dari daur ulang biasanya dipamerkan di pameran-pameran dan memiliki target pasar tersendiri. Biasanya, target pembeli adalah massa yang datang ke pameran atau masyarakat yang sudah pernah membeli produk sejenis. Namun, tidak semua sampah dapat di daur ulang. Kresek hitam, contohnya, adalah salah satu yang tidak bisa di daur ulang karena kresek hitam sendiri adalah produk daur ulang sehingga saat akan diolah kembali kualitasnya tidak sebagus sampah yang baru pertama kali di daur ulang.

Setelah pemaparan panjang, peserta kajian setuju bahwa selain untuk tujuan ekonomi, bank sampah adalah metode efektif untuk mengurangi sampah di TPA, edukasi, dan membentuk kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah. Bank sampah memiliki prospek yang bagus dan diharapkan ITB memiliki bank sampah, atau setidaknya mahasiswa ITB mencoba menjadi nasabah agar terbiasa memilah sampah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


five − = 4