envRUNment : Semarak Semangat Lintas Angkatan

Jurnalis : Nitya

“Sebuah titik temu, untuk yang ditemukan, dipisahkan dan sesudahnya. Maka seperti rumah, pada fajar dan cerita-cerita tentangnya, mereka kembali.”

Sabtu, 12 Oktober 2019.
ITB Ultra Marathon adalah lomba lari yang digagas oleh Institut Teknologi Bandung, untuk merayakan HUT ke- 100 ITB. Setiap jurusan biasanya mengirim tim lari yang berisi dari alumni-alumni jurusan terkait. Tahun 2019 ini, IA TL (Ikatan Alumni Teknik Lingkungan) ITB pertama kali mengirim tim lintas angkatan untuk mengikuti ITB Ultra Marathon sejauh 200 km dari Jakarta hingga Bandung. IA TL mengirim 1 tim relay 2 dan 2 tim relay 18. Dalam penyambutan, IA TL ITB juga bekerja sama dengan mahasiswa HMTL ITB dan KMIL ITB.
Sabtu malam, kami mahasiswa HMTL ITB dan KMIL ITB melakukan briefing terpusat di Warung Pasta yang dipimpin oleh ketua IA TL ITB, Bapak Dida Gardera. Pada briefing tersebut, peserta penyambutan dibagi job desk-nya masing-masing. Ada yang mendapat tugas sebagai pemegang baliho, pemegang pita finisher, panji, memainkan perkusi dan meramaikan semarak penyambutan ketika para pelari mencapai garis finish. Malam itu, tidak hanya dilakukan briefing teknik penyambutan para tim lari tetapi sedikit sharing mengenai peran Teknik Lingkungan secara keseluruhan baik di pemerintahan atau di swasta. Selain ketua IA TL ITB, ada beberapa alumni yang hadir pada briefing terpusat ini salah satunya ada Kaprodi Teknik Lingkungan ITB, yaitu Bapak Benno Rahardyan. Acara briefing berlangsung cukup lama, karena pada awalnya setelah melakukan briefing terpusat dilanjutkan melakukan penyambutan pada tim relay yang pertama. Namun karena ada beberapa kendala, penyambutan tim relay pertama yang seharusnya jam 11 malam diundur menjadi jam 1 pagi.

Peserta tim penyambutan kembali lagi ke sekretariat himpunan untuk menunggu informasi lebih lanjut dan istirahat sambil menunggu tim relay pertama disambut jam 1 pagi. Setelah menunggu hingga jam 1 pagi, kami mendapatkan kabar bahwa 2 tim relay 18 akan datang jam 4 pagi nanti. Sehingga kami melanjutkan beristirahat sampai jam 4 nanti sebelum akhirnya melakukan penyambutan. Oh iya fun fact, ini merupakan pengalaman pertama HMTL ITB dan KMIL ITB berpartisipasi aktif di acara ITB Ultra Marathon! Baik angkatan 2016, 2017 dan 2018 yang baru saja dilantik. Pengalaman pertama ini disambut baik dan penuh semangat oleh kami sebagai peserta penyambutan.
Minggu, 13 Oktober 2019.
Jam 4 pun tiba! Kami tim penyambutan bergegas menunggu kakak-kakak tim relay pertama masuk ke garis finish. Kami dibagi menjadi dua tim, tim parade dan tim finisher. Tim parade berposisi di kantor BNI dengan tugas mengarak para pelari sampai akhirnya ke garis finish. Sedangkan tim finisher berposisi di dekat jam gadang, menunggu tim relay pertama masuk ke garis finish.
Suara arak-arakan mulai terdengar subuh itu.
Seratus lima tiga TL! TL!
Seratur lima tiga TL! TL!
Satu! Lima! Tiga! TL!
Satu! Lima! Tiga! TL!
Kedua tim relay 18 datang dengan penuh semangat bersamaan dengan tim parade mengumandangkan yel-yel pembangun semangat kita semua. Akhirnya tim relay pertama akhirnya masuk garis finish! Sebuah perjuangan yang begitu panjang bagi kakak-kakak pelari, Bandung-Jakarta, kembali lagi ke kampus tercinta dengan semarak semangatnya yang begitu membara. Tidak lupa setelah penyambutan di garis finish, para pelari menyampaikan sepatah dua patah kata dan apresiasi bagi seluruh massa yang terlibat. Kemudian diakhiri dengan gemuruh, salam yang mempersatukan kita semua.

Tugas kami belum selesai sampai disini, setelah penyambutan yang pertama dan silahturahmi dengan para alumni, kami melanjutkan penyambutan untuk tim terakhir yaitu tim relay 2. Waktu menunjukan pukul 5 pagi, kami bersiap-siap kembali untuk melakukan penyambutan dengan pembagian kerja seperti sebelumnya. Tanpa mengurangi semangat, tim terakhir datang yang menandakan berakhirnya juga penyambutan oleh kami. Tim terakhir, Kak Klir’99 dan Kak Firgun’99 menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya pada seluruh orang yang terlibat, dan sama seperti sebelumnya kami semua mengumandangkan salam gemuruh. Terdapat fun fact lagi! Ternyata salam gemuruh sekarang dan alumni jauh berbeda di bagian nadanya. Kami pun melakukan dua kali salam gemuruh, periode baru dan periode lama pastinya.
Pengalaman enviRUNment ini selesai! Paginya para alumni melanjutkan reuni yang dilaksanakan di 9008, sedangkan massa penyambutan HMTL ITB dan KMIL ITB beristirahat di sekretariat himpunan. Sebuah pengalaman yang menyenangkan, mengisi malam minggu hingga subuh, menyanyikan yel-yel sambil menyambut kakak-kakak yang sudah berpetualang begitu panjang dan melelahkan.

Jayalah selalu Teknik Lingkungan!

Ke-to-prak : Kerja Praktek Enak!

Jurnalis : Vania Brillianty

Telah berlangsung kegiatan Ke-to-prak (kerja to praktek) yang merupakan kegiatan sharing pengalaman kerja praktek yang dilakukan oleh angkatan 2016 kepada angkatan 2017. Kegiatan tersebut berlangsung pada 29 Oktober 2019 di RSG Labtek IX C. Acara sharing KP tersebut berbentuk pemaparan penjelasan untuk administrasi dan 7 tema KP yang paling banyak diminati seperti limbah padat, limbah B3, air limbah, air bersih, udara, sistem manajemen lingkungan, dan produksi bersih dengan pembicara yang melaksanakan kerja praktek di dalam dan luar negeri. Pembahasan berisi tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk menjalankan KP, hal-hal penunjang KP seperti literatur, kelebihan dan kekurangan masing-masing tema KP, sampai tips dan trik menjalani kerja praktek. Setelah sesi pemaparan masing-masing tema dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Antusiasme angkatan 2017 sangat tinggi dalam menghadiri acara tersebut serta terlibat aktif dalam sesi tanya jawab. Besar harapan setelah acara berlangsung dapat memberi bekal pada angkatan 2017 utamanya yang akan menjalani kerja praktek agar mendapatkan ilmu lebih maksimal serta dapat menjaga dan mengharumkan nama baik ITB dimanapun berada.

Ngobrol Bareng Alumni : Setelah Lulus Ngapain?

Jurnalis : Haris Ogi

Pada hari Jumat, 1 November 2019, HMTL ITB mengadakan kegiatan Ngobar Alumni atau Ngobrol Bareng Alumni di sekretariat HMTL ITB. Kegiatan ini diadakan untuk memotivasi anggota HMTL dalam kehidupan berhimpun dan kehidupan setelah lulus. Dalam acara ini, HMTL mengundang Ahmad Daudsyah Imami (Ahmad), TL 2007 dan Joaqim Mastroiani (Jojo), TL 2009. Kak Ahmad dulu menjabat sebagai Wakil Ketua Himpunan Bagian Eksternal dan Kak Jojo sebagai Wakil Ketua Himpunan Bagian Internal. Pada kegiatan ini, Kak Ahmad dan Kak Jojo menceritakan pengalaman serta suka duka mereka dahulu ketika menjadi bagian dari HMTL ITB. Banyak hal yang diceritakan oleh mereka, mulai dari pengalaman LPJ yang dibentak oleh swasta kalau ada kesalahan hingga pengalaman-pengalaman mereka dalam hal-hal seperti pemilu dan wisuda serta perbedaan antara angkatan mereka dengan angkatan-angkatan sekarang.

Gerakan untuk Masa Depan


Global Climate Strike 2019

Jurnalis : Reza Rahmaditio

“My message is that we’ll be watching you. This is all wrong. I shouldn’t be up here. I should be back in school on the other side of the ocean. Yet you all come to us young people for hope. How dare you. You have stolen my dreams and my childhood with your empty words. Yet I am one of the lucky ones. People are suffering.”

– Greta Thurnberg

Itulah kata-kata yang diucapkan seorang gadis berumur 16 tahun di hadapan para pemimpin dunia pada UN Summit 2019 di New York, tanggal 23 September 2019. Greta yang telah menjadi ikon aktivisme kaum muda terhadap perubahan iklim, pada awalnya hanya seorang gadis berumur delapan tahun yang bertanya-tanya mengapa perubahan iklim tidak menjadi tajuk utama dalam kanal-kanal berita. seolah-olah ada perang dunia yang sedang terjadi tetapi tidak ada yang peduli, katanya ketika berbicara di TEDxStockholm. Kegusarannya terhadap permasalahan iklim ini memuncak pada Agustus 2018, setelah fenomena gelombang panas dan kebakaran hutan terjadi di Swedia. Dia memutuskan untuk mogok sekolah sampai 9 September 2018 (pemilahan umum Swedia), dan melangsungkan aksi protes seorang diri dengan duduk di depan gedung parlemen sambil memegang papan bertuliskan “SKOLSTREJK FOR KLIMATET” (mogok sekolah untuk iklim). Tuntutannya adalah bahwa pemerintah Swedia mengurangi emisi karbon sesuai dengan Persetujuan Paris. Seakan belum puas, paska pemilihan umum Greta terus melanjutkan aksinya pada setiap hari Jumat. Aksinya pun menjadi sorotan media, dan tak lama kemudian menjadi sorotan dunia. Gelombang gerakan mogok sekolah tersebut beramplifikasi ke berbagai penjuru dunia. Tercatat, pada Desember 2018, lebih dari 20.000 siswa telah melakukan pemogokan di setidaknya 270 kota. Berbagai nama dan tagar gerakan baru muncul, mulai dari “Fridays For Future” sampai yang terakhir berlangsung adalah “Global Climate Strike”. Bermula dari pelajar, sekarang gerakan ini sudah tidak mengenal lagi latar belakang dan status sosial. Semuanya bersatu melawan perubahan iklim.

Dilansir dari The Guardian, aksi “Global Climate Strike” yang dilaksanakan pada tanggal 20 September 2019 dinobatkan sebagai aksi protes iklim terbesar yang pernah ada. Aksi ini digelar serentak di 185 negara dengan melibatkan jutaan orang yang berasal dari LSM, Lembaga Pendidikan, korporasi, juga masyarakat sipil tentunya. Secara global, aksi ini menggaris bawahi terjadinya fenomena climate crisis di dunia yang utamanya diakibatkan oleh emisi gas rumah kaca (GRK) dari penggunaan bahan bakar fosil. Istilah climate crisis  digunakan sebagai bentuk ekspresi dari perubahan iklim yang kian parah.

HMTL di “Global Climate Strike” cabang Jakarta

Di Indonesia, aksi ini berlangsung di 19 kota, yaitu Aceh, Samosir, Bengkulu, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Cirebon, Cilegon, Garut, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Bali, Palangkaraya, Palu, Kupang dan tentunya Jakarta sebagai titik fokusnya. Di Jakarta, lebih dari 700 orang yang berasal dari sekitar 50 komunitas dan masyarakat sipil ikut andil dalam meramaikan aksi damai ini. Rangkaian acara aksi ini berupa long march; orasi dan pembacaan tuntutan; dan pertunjukkan seni. Para peserta aksi berkumpul di depan balai kota pada sekitar pukul dua siang untuk bersiap memulai long march. Ketika itu juga, rombongan HMTL sampai di lokasi setelah menempuh sekitar lima jam perjalanan dari kampus ITB. Salah satu panitia menyambut kedatangan kami dengan memberikan penjelasan singkat mengenai aksi dan memberi atribut berupa ikat kepala kuning bertuliskan “Jeda Untuk Iklim”. Disediakan juga properti aksi seperti poster dan spanduk yang terbuat dari barang bekas, dengan desain yang persis seperti pada aksi climate strike di luar negeri. Ditambah lagi, peserta aksi yang tidak sedikit adalah bule, semakin menciptakan suasana yang mirip seperti aksi climate strike di eropa. Yang membedakannya hanyalah hawa panas dan teriknya matahari Jakarta yang membuat ingin cepat-cepat balik lagi ke Bandung.

Dari awal kedatangan kami ke lokasi aksi, kehadiran kami rupanya cukup menarik perhatian media maupun peserta lainnya karena atribut jaket himpunan yang kami kenakan. Sejauh penglihatan kami di sana, memang hanya rombongan HMTL yang memakai “seragam”. Peserta lain mengenakan pakaian biasa walau beberapa ada juga yang mengenakan kaus organisasinya. Selain karena ada nama ITB yang tertera di dada kiri kami, mungkin memakai jaket tebal pada siang hari di Jakarta memang suatu hal yang wajar menarik perhatian orang-orang. Namun, akibat itu juga kami jadi dikenali beberapa alumni TL yang kebetulan juga ikut serta dalam aksi.

Salah satu hal yang unik dari aksi ini adalah energi yang digunakan 100% berasal dari energi terbarukan. Mulai dari mobil komando, speaker, dan peralatan elektronik lainnya, semuanya tersambung ke panel surya. Mobil komando yang merupakan mobil listrik, bersama dengan beberapa kendaraan listrik lainnya memimpin jalannya rangkaian acara long march menuju taman aspirasi yang jaraknya kurang lebih tiga kilometer dari balai kota. Selama satu setengah jam berjalan, peserta tanpa henti-hentinya menyanyikan berbagai yel-yel dipimpin oleh beberapa panitia yang memegang pengeras suara. Salah satu yel-yel yang paling dapat menggambarkan suasana aksi tersebut adalah:

Kalau kau cinta bumi teriak Bumi!, BUMI!!

Kalau kau cinta bumi teriak Bumi!, BUMI!!

Kalau kau cinta Bumi dan ingin menjaganya, mari kita bersama teriak Bumi!, BUMI!!

Mungkin karena pada awalnya aksi ini milik kaum muda, sehingga semua yel-yel yang dipakai sejenis dengan yel-yel tersebut. Memang tidak ada yang salah karena ini sebatas aksi damai. Namun, terasa sedikit menggelitik ketika yel-yel tersebut dinyanyikan oleh peserta yang didominasi orang-orang dewasa. Apalagi peserta bule yang dapat dipastikan tidak mengerti artinya. Sedari awal memang terlihat bahwa aksi ini ingin dikemas dalam bentukan yang menyenangkan – salah satunya dengan melibatkan anak-anak kecil – walaupun konten yang diangkat cukup serius.  Entah ini metode seperti ini tepat atau tidak untuk digunakan dalam keadaan yang katanya ‘genting’ ini (krisis iklim). Namun, yang jelas jenis aksi seperti ini telah menambah warna baru dalam corak pergerakan di Indonesia, yang selama ini dapat dikatakan masih monokrom.

Kembali ke rangkaian acaranya. Sesampainya di taman aspirasi monas, pertunjukan seni berupa music tradisional menyambut kedatangan peserta aksi sekaligus mengisi kekosongan sebelum mata acara selanjutnya dimulai. Selama berada di taman aspirasi, sebetulnya tidak banyak kegiatan yang kami lakukan. Beberapa kali kami bertemu dan berfoto dengan alumni-alumni TL. Beberapa kali juga kami diwawancara oleh berbagai media, mulai dari media dalam kampus, nasional hingga internasional. Sementara itu, rangkaian acara terus berlanjut, berisikan orasi dari perwakilan elemen-elemen masyarakat tentang krisis iklim dan pembacaan tuntutan untuk pemerintah. Hari semakin gelap dan waktu menunjukan pukul lima. Atas beberapa pertimbangan, kami memutuskan untuk meninggalkan acara dan pulang lebih dulu. Yang pertama, tuntutan yang kami (HMTL) bawa berbeda dengan yang gerakan ini bawa. Walau dalam satu visi yang sama, namun terdapat poin tuntutan yang belum dapat kami sepakati pada saat itu, yaitu terkait deklarasi krisis iklim. Dalam dokumen pernyataan sikap HMTL, terdapat tiga poin tuntutan sebagain berikut.

  1. Menuntut pemerintah untuk melaksanakan tindakan preventif terhadap potensi kebakaran hutan tahunan di Indonesia sebagai wujud pelaksanaan komitmen terhadap National Determined Contribution (NDC).
  2. Menuntut pemerintah untuk menjaga angka deforestasi di bawah 0.45 juta Ha per tahun demi memenuhi target National Determined Contribution (NDC) tahun 2020. Sejalan dengan itu, pemerintah juga perlu meningkatkan angka reforestasi yang saat ini masih sangat timpang dibanding deforestasi.
  3. Mendorong pemerintah untuk memperbaiki mekanisme pelaksanaan REDD+ di Indonesia agar sesuai dengan kondisi sosial budaya di Indonesia, sebagai wujud pelaksanaan komitmen terhadap National Determined Contribution (NDC).

Pertimbangan lainnya adalah perjalanan ke Bandung yang akan memakan waktu lama sehingga perlu diantisipasi dengan berangkat lebih awal. Benar saja, saat itu jalanan macet luar biasa. Butuh waktu tujuh jam hingga kami sampai di Jalan Ganesha. Namun, seluruh rasa Lelah – dan kantuk terutama – yang kami rasakan selama dari persiapan hingga ekskusi, terbayarkan dengan rasa bangga atas capaian yang tidak terduga-duga. Bermodalkan semangat dan optimisme, akhirnya HMTL dapat melampaui ekspektasi terhadap dirinya sendiri.

KULI-AH KERJA NYATA

Jurnalis : Fachriah Wibowo

Dokumentasi oleh KKN Tematik ITB Dusun Cibulakan

Perkenalkan, aku Riri dan kemarin aku menggunakan satu bulan terakhir dari masa liburan semesterku untuk mengikuti program KKN. Pada hari-hari menjelang keberangakatan KKN, jujur saja, aku merasa sangat takut dan ragu. Apakah aku akan mampu bertahan disana? Apakah aku mampu, menghabiskan 21 hari di lingkungan yang sepenuhnya baru, bersama orang-orang baru, dengan budaya yang juga akan sangat baru untukku? Apakah orang-orang disana akan menerimaku? Atau apakah lebih baik jika aku tidak jadi berangkat KKN dan menghabiskan sisa waktu liburku bersama teman dan keluarga?

Namun pada akhirnya, aku tetap memutuskan untuk berangkat karena aku sadar bahwa pada akhirnya aku memang harus belajar untuk keluar dari zona nyamanku selama ini, meskipun dengan penuh keraguan. Bahkan pada saat pertama kali menginjakan kaki di Desa Buanamekar, aku langsung menghitung mundur hingga waktu kepulangan.

Untuk program KKN kemarin, aku dikelompokan ke dalam tema air dan kami ditargetkan untuk dapat membangun MCK dan tempat wudhu di dua tempat yang berbeda yaitu di masjid RT 01 dan di masjid RT 03. Dalam pengerjaannya, kami dibantu oleh Mas Adi, selaku mandor. Dari Mas Adi kami banyak belajar, bukan hanya mengenai hal-hal ‘pertukangan’ seperti cara membuat kerangka pilar, cara membuat campuran semen, cara memplester dan mengaci dinding. Tetapi juga ilmu tentang hidup, salah satu kalimat favorit Mas Adi, yang paling saya ingat adalah “kejujuran itu penting, untuk saya meskipun saya seperti ini, kejujuran tetap yang paling penting. Saya tidak akan pernah membohongi orang lain”. Selanjutnya, dalam proses pembangunan, kami menghadapi beberapa permasalahan yang didasari oleh adanya perbedaan pendapat dan sudut pandang diantara kami dan masyarakat setempat, seperti kesadaran akan pentingnya penggunaan septic tank, perbedaan target capaian untuk masing-masing MCK, dan hal-hal lainnya. Namun justru karena permasalahan-permasalahan tersebut, kami dapat lebih banyak belajar. Ada satu hal yang aku sesali dari keberjalanan tema kami, kami gagal meyakinkan penduduk sekitar tentang pentingnya penggunaan septic tank, dengan seribu satu alasan, penduduk disana menolak tawaran kami mengenai penggunaan septic tank dan lebih memilih menggunakan cubluk sederhana untuk MCK di kedua masjid.

Selama berada disana, aku tinggal bersama beberapa temanku di salah satu rumah warga yang sekaligus basecamp kami untuk berkumpul. Memang pada mulanya aku tidak mengenal mereka sama sekali dan cukup sulit untuk dapat mengobrol dengan mereka. Namun setelah beberapa hari dan melakukan berbagai aktivitas bersama, seperti mencuci baju, memasak, bermain kartu, bahkan memancing, justru teman-temanku ini lah yang pada akhirnya membantuku menghilangkan ketakutanku dan menjadi penyemangatku selama berada disana, hehe. Dari mereka, aku belajar banyak. Dimulai dari pentingnya rasa empati terhadap satu sama lain, belajar menjadi lebih dewasa, belajar berkomunikasi, sampai bahkan belajar memasak.

Selanjutnya, ketakutanku akan kemungkinan orang-orang disana untuk tidak menerimaku adalah salah besar. Nyatanya, penduduk disana sangat welcoming, ramah, ramai, dan baik. Lagi-lagi, melalui penduduk setempat aku belajar banyak hal seperti belajar berkomunikasi khususnya dalam bahasa sunda, belajar bersyukur, belajar memasak, belajar berkebun, dan belajar bertani. Ibu-ibu disana sering mengajak kami untuk pergi berkebun atau bertani dengan mereka lalu dengan sabarnya mengajari kami apa-apa saja yang perlu kami lakukan. Yang lebih enaknya lagi, setiap kali ikut pergi ke kebun, kami akan diberi banyak makanan dan cemilan, hehe. Selain itu, ibu-ibu disana juga cukup sering mengajak kami makan bersama, baik ‘liwetan’ maupun buka puasa bersama. Bahkan, anak-anak disana pun dapat mengajari aku bahwa untuk menjadi bahagia itu sederhana dan bahwa aku harus berani bermimpi sepeti mereka.

Walaupun diawal pelaksanaan program KKN ini aku dipenuhi dengan ketakutan dan keraguan, pada akhirnya saat waktu perpisahan datang dan aku harus pulang meninggalkan Cibulakan dan orang-orang di dalamnya, aku merasa sedih. Ditambah lagi melihat ibu-ibu dan anak-anak disana yang menangis, membuatku ikut menangis bersama mereka. Ternyata semua keraguan tersebut dapat hilang dalam kurun waktu 21 hari. Aku bersyukur sudah mengikuti program KKN ini karena aku dapat memperoleh berbagai macam ilmu, menambah teman, dan mengubah diriku menjadi lebih baik lagi. Hehe, terimakasih.

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan dalam OSKM ITB 2019

Jurnalis : Nitya (TL 2017)

Dokumenter : Syaviera Said (TL 2016), Ammardito (TL 2017), Nabilah Safitri (TL 2017)

Jika mendengar kata “OSKM ITB”, pasti langsung teringat perayaan kaderisasi tahunan terbesar di ITB. Tiap tahunnya mahasiswa baru disambut untuk diperkenalkan wawasan barunya mengenai dirinya sendiri sebagai mahasiswa dan seputar lingkungan kampus seperti HMJ, Unit, dan lain sebagainya. Kali ini HMTL turut serta dalam menyemarakan OSKM tahun ini. Semua HMJ diundang untuk mengikuti beberapa mata acara pada penyelenggaraan OSKM tahun ini.

Pada hari pertama pembukaan OSKM, ada dua mata acara yang melibatkan HMTL. Mata acara pertama adalah mata acara yang baru berbeda dengan tahun sebelumnya yaitu pawai pelangi. HMTL mengirimkan 5 orang perwakilan untuk melakukan pawai perfakultas dengan tujuan memperkenalkan warna-warni KM ITB berupa pengenalan himpunan-himpunan. Selanjutnya untuk mata acara kedua pada sore harinya adalah interaksi fakultas, mahasiswa baru 2019 dikumpulkan per fakultas dan melakukan interaksi dengan himpunan yang dinaungi oleh fakultas tersebut. Dalam hal ini HMTL dibawah naungan FTSL melakukan interaksi fakultas bersama HMS, KMKL, KMIL dan HIMASDA. Harapannya interaksi fakultas ini menjadi langkah pendekatan pertama dengan mahasiswa baru 2019. Pada hari kedua, tidak ada mata acara yang melibatkan HMJ. Kemudian pada hari ketiga terdapat dua mata acara yang selalu menarik tiap tahunnya. Ya, salah satu mata acara yang menarik ini adalah lorong massa. Massa himpunan dan unit dibariskan seperti lorong dari TVST sampai dengan Sunken court, dan mahasiswa baru 2019 melewati lorong tersebut menuju penutupan acara OSKM di Saraga. Hal yang menarik dari lorong massa itu sendiri, selalu ada cerita lucu yang dilakukan massa himpunan untuk menarik perhatian para mahasiswa baru. Lorong massa sendiri waktunya cukup lama, karena sebanyak 4000 mahasiswa baru melewati lorong tersebut. Selesai acara lorong massa, baru lah menuju penutupan acara OSKM dengan mata acara terakhir yang melibatkan HMJ adalah orasi pelangi. Seluruh perwakilan dari HMJ ITB melakukan orasi selama 30 detik untuk menyampaikan pesan dan kesannya untuk para mahasiswa baru.

HMTL pada Mata Acara Interaksi Fakultras
Benedicto ( TL 2016) pada Mata Acara Interaksi Fakultras
Massa HMTL saat Lorong Massa
Muhammad Arfan (TL 2016) sebagai Ketua Himpunan Memberikan Orasinya

Dalam waktu yang begitu singkat, OSKM ITB selalu punya ceritanya sendiri baik itu untuk para mahasiswa baru atau mungkin untuk mahasiswa ‘lama’. Terima kasih OSKM ITB, yang ceritanya selalu dikenang dan ditunggu tiap tahunnya!

Gerakan Berbagi : Cerita Malam Ramadhan

Jurnalistik oleh  Ainun Asifa

Dokumentasi oleh  M. Fathiaji, Almer Fadhilezar, Syaviera Putri

Pernahkah kamu berjalan kaki di sekitar pusat kota bandung pada malam hari? Berjalan di trotar dan dan melihat emperan toko yang gelap dan sunyi? Trotoar jalanan bandung memang cukup lebar dan sangat nyaman untuk dipakai berjalan kaki hingga ramai dipakai untuk memperoleh keuntungan dengan berdagang di siang hari. Namun ketika malam tiba, tempat-tempat tersebut berubah menjadi “kamar tidur” bagi mereka yang tak memiliki tempat bernaung atau biasa kita sebut tunawisma. Massa HMTL beruntung karena dapat bekerja sama dengan Gerakan Berbagi dan kabinet KM ITB untuk membagikan makanan kepada para tunawisma dan melihat sekilas realita kota Bandung di malam hari.

Pada malam ke-4 bulan Ramadhan, seselesainya kami melaksanakan sholat tarawih, beberapa massa HMTL, pengurus Gerakan Berbagi, dan perwakilan kabinet KM ITB berkumpul di depan masjid PDAM untuk briefing sebelum berangkat menuju lokasi. Sesampainya di lokasi, yaitu sekitaran Jl. Banceuy, kami berkumpul kembali untuk briefing kedua dan mengambil makanan yang akan dibagikan. Setelah itu kami langsung menyebar dan membagikan nasi kotak yang kami pegang kepada para tunawisma di sana.

Usia para tunawisma ini beragam, mulai dari yang masih muda, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga kakek-kakek yang sudah tua renta. Salah satu tunawisma yang kami temui adalah sepasang suami istri yang baru satu minggu menjajaki Bandung. Mereka adalah pedagang asongan yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta namun tiba-tiba dirazia petugas sebulan yang lalu. Semua dagangan, uang, dan alat komunikasi mereka diambil oleh petugas. Pada awalnya mereka dikirim ke rumah sosial di Jakarta, namun tak lama kemudian mereka dipindahkan ke ciamis. Di ciamis mereka disatukan dengan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Tak lama kemudian mereka dikeluarkan begitu saja di daerah yang sama sekali mereka tidak ketahui hanya dengan bermodal pakaian di badan.

Mereka sangat menyayangkan dirampasnya semua modal yang mereka punya. Bagi petugas hal itu mungkin tidak terlalu bernilai, namun dari dagangan itu mereka dapat menyekolahkan anak mereka hingga bangku kuliah. Anak pertama mereka sudah bekerja, anak kedua sedang duduk di bangku kuliah, dan anak ketiga sedang duduk di kelas 4 SD. Mereka sangat sedih karena tidak dapat mengetahui kondisi anak terakhirnya apakah naik kelas atau tidak. Mereka memiliki 3 anak namun tidak satu pun dapat dihubungi karena alat komunikasi mereka yang juga diambil oleh petugas. Walau dengan segenap kesulitan yang mereka hadapi, mereka memiliki prinsip untuk tidak pernah merepotkan anak. Saat ini mereka sedang mengusahakan uang santunan mualaf dari Aa Gym agar dapat dijadikan modal berdagang kembali dan penghasilannya dapat digunakan untuk pulang ke rumah.

Masih terngiang di benak bapak bagaimana kasarnya mereka diperlakukan oleh petugas. “Label nama di baju mereka ditutup. Kalau saat itu terlihat, saya akan ingat terus nama-nama itu. Saya dendam kepada mereka”, kata bapak. Pernah terbayang seseorang nun jauh di sana entah bertahun-tahun lamanya menyimpan dendam pada kita atas perbuatan zholim yang kita lakukan pada mereka? Sebuah tamparan untuk kami yang katanya merupakan calon-calon pemimpin bangsa. Sebuah pengingat bahwa setiap kebijakan dan keputusan apa pun yang dilaksanakan akan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung pada rakyat kecil. Pernah terbayang emperan toko menjadi tempat bernaung, kardus menjadi alas tidur, karung dan spanduk bekas jadi selimut? Sebuah sentilan untuk kami yang terlalu sering mengeluh pada hal-hal yang sebenarnya sepele. Sebuah pemicu untuk terus bersyukur dan selalu berusaha pada kondisi apa pun.

Semoga kegiatan-kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan berkembang agar dapat mencairkan hati-hati kami yang membeku dan melepaskan kungkungan pemikiran-pemikiran modernitas kami yang hanya memanjakan hawa nafsu.

 

Akankah Lapisan Ozon Terus Menurun?

 

Pada tahun 1985 para ilmuwan melaporkan sesuatu yang sangat meresahkan bahwa mereka telah menemukan lubang pada lapisan ozon di atas Antartika. Menurut mereka, penyebab dari hal tersebut adalah kegiatan manusia yang menimbulkan penguapan bahan kimia sehingga dapat menipiskan ozon atmosfer di atas Kutub Selatan dan seluruh dunia. Kemudian pada tahun 1987, komunitas internasional bersatu untuk menandatangani Protokol Montreal, yang secara bertahap menghapus penggunaan bahan kimia tersebut. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga lapisan ozon yang sesungguhnya dapat melindungi kita dan organisme lain dari radiasi matahari yang berbahaya.

Protokol, yang secara luas dianggap sebagai kesuksesan besar sejak diberlakukannya dan secara signifikan dapat menurunkan tingkat bahan kimia perusak ozon di atmosfer, serta “lubang” di Antartika telah menyusut. Namun dalam sebuah studi baru yakni dalam Atmospheric Chemistry and Physics, para ilmuwan melaporkan bahwa satu bagian penting dari lapisan ozon tampaknya masih terus menurun.

Lapisan ozon berada di stratosfer, wilayah atmosfer dari 10 hingga 50 kilometer di atas permukaan bumi. Selimut gas ini sangat penting bagi kehidupan di Bumi — ia menyerap radiasi ultraviolet matahari, yang dapat merusak DNA dan juga mempromosikan kanker kulit dan bahaya lainnya bagi manusia, satwa liar, dan tanaman.

Pada kenyataannya, ozon didistribusikan ke seluruh stratosfer bawah, tengah, dan atas serta di troposfer, yakni lapisan bawah atmosfer yang memanjang dari permukaan bumi hingga sekitar 10 kilometer. Berkat protokol tersebut, sejak akhir 1990-an, ozon di stratosfer “tampak seperti tidak turun lagi, yang merupakan kesuksesan besar”, kata William Ball, seorang peneliti dalam fisika atmosfer di ETH Zürich. Tetapi pengukuran yang tepat untuk stratosfer bawah sulit dilakukan. “Salah satu masalah utama yang dibiarkan tidak terselesaikan adalah bahwa di stratosfer yang lebih rendah, ada banyak variabilitas yang tidak kami tangkap dalam pendekatan yang biasanya kami lakukan untuk mengetahui apa trennya”, kata Ball.

Ball dan tim peneliti dari lembaga di seluruh dunia ingin mengukur tren lapisan ozon dengan lebih akurat. Dalam studi mereka, mereka mensintesis dan kemudian menganalisis beberapa set data satelit ozon atmosfer. Data tersebut mencakup daerah tropis dan garis lintang pertengahan, dari tahun 1985 hingga 2016. Tim menemukan ozon di stratosfer atas telah pulih sejak tahun 1998. “Jelas itu akan kembali naik”, kata Ball. “Di sinilah kami berharap untuk melihat Protokol Montreal bekerja dengan baik”. Mereka juga menemukan ozon di troposfer — yang sebagian besar berasal dari polusi udara — naik dari 2004 hingga 2016.

Mulai tahun 1985 “Anda dapat melihat [total kolom ozon] turun”, kata Ball. “Setelah 1998 kita melihat ozon berhenti menipis, awalnya melihat sedikit kenaikan dan kemudian tampaknya macet”. Tetapi kenaikan itu secara statistik tidak signifikan menurut analisis yang dilakukan Ball. “Apa yang dikatakan ini, hebat, sejak tahun 1998 ozon belum menipis lebih jauh”. Tetapi tampaknya juga tidak mengalami rebound.

Apa pelakunya? Tim Ball menemukan ozon di stratosfer yang lebih rendah secara perlahan, terus turun sejak 1998. “Kami melihat penurunan kecil tapi terus-menerus dan terus menerus — tidak secepat sebelum 1998 tetapi [tren] terus turun,” katanya. “Ini mengejutkan, karena kita diharapkan juga melihat [kawasan ozon] ini berhenti berkurang.” Temuan ini penting karena stratosfer yang lebih rendah mengandung fraksi terbesar dari lapisan ozon. Secara keseluruhan, Ball mengatakan, ozon global telah menurun 5 persen antara tahun 1970 dan 1998 — sebelum efek protokol.

Tim peneliti belum mengetahui penyebab penurunan yang terus-menerus pada ozon stratosfer yang lebih rendah ini. Dalam artikel mereka, mereka mengajukan beberapa kemungkinan penjelasan, beberapa di antaranya adalah dipengaruhi oleh perubahan iklim. Alasan potensial lainnya adalah peningkatan emisi bahan kimia berumur pendek mencapai stratosfer yang lebih rendah dan menghancurkan ozon. Tetapi ini hanyalah hipotesis yang masih perlu dieksplorasi oleh para ilmuwan. “Sangat jelas bahwa Protokol Montreal telah berfungsi,” kata Ball. “Tapi sepertinya ada sesuatu yang muncul di panggung, dan kita tidak benar-benar tahu apa itu.”

Pakar luar sama-sama terkesan dengan penelitian baru dan merasa terganggu dengan temuannya. “Ini benar-benar memprihatinkan, karena kita tidak tahu apa yang sedang terjadi,” kata Michaela Hegglin, seorang profesor di bidang kimia atmosfer di University of Reading, Inggris. “Kita semua mencari tanda-tanda pemulihan, dan sekarang makalah ini keluar dan mengatakan bahwa stratosfer yang lebih rendah menurun.”

Orang-orang tidak boleh panik atas temuan baru ini, Ball memperingatkan. “Saat ini, kolom [total ozon] tidak semakin buruk,” katanya. Namun, dia menambahkan, “Kita harus khawatir. Kami harus segera menyelesaikannya, karena kami tidak ingin lapisan ozon bertambah buruk. ”

Ravishankara, seorang profesor di departemen Kimia dan Atmosfer Sains di Colorado State University, mengatakan temuan ini juga mengajarkan pelajaran penting kepada dunia. “Ketika Anda membuat kebijakan lingkungan, Anda mempelajari masalahnya, mendiagnosis, mengambil tindakan — dan kemudian kebanyakan orang menganggap bahwa Anda sudah selesai. Tapi bukan itu masalahnya, “katanya. “[Anda harus] terus mengukur dan memantau, untuk memastikan bahwa apa yang terjadi adalah apa yang Anda prediksi. Kita tidak bisa mengalihkan pandangan dari bola”. Kemudian Hegglin setuju bahwa “Dunia harus menyadari bahwa kisah lapisan ozon belum berakhir”.

 

sumber:

www.scientificamerican.com

Mengintip Restoran Zero Waste di UK

Belakangan ini, semakin banyak campaign melindungi lingkungan terutama di media sosial. contohnya ialah campaign #NoPlasticStraws atau gerakan untuk mengurangi penggunaan sedotan plastik.

Tapi pada tau gak kalau ternyata sebenernya udah banyak banget restoran yang menerapkan sistem zero waste. WOW! Keren yaaaa… yuk kita intip nih beberapa restoran yang termasuk dalam “The Best Zero Waste Restaurants in the UK” menurut Vogue UK.

  • SILO

Memiliki tagline “the only truly zero-waste restaurant” di Inggris, Silo pantas mendapatkan reputasi terbaiknya. Terletak di pusat Green Brighton, restoran mewah ini telah berhasil mengolah limbah dengan membuat kompos setiap sisa makanan yang tersisa langsung di tempat. Tim Silo juga menghancurkan semua gelas limbah untuk potter lokal mereka untuk dibuat menjadi keramik yang indah untuk para pengunjung dan semua dekorasi seperti meja dan kursi merupakan hasil up-cycled dan repurposed.

  • Rovi

Restoran ini menyajikan menu dengan sayuran sebagai fokus utamanya, menggunakan cara fermentasi dan api untuk membumbui dan memasak. Restoran ini mendaur ulang energi panas dari dapur untuk memanaskan ruangan. Serta menggunakan kembali setiap left-overs untuk membuat cuka untuk campuran minuman dan masakan, dan koktail. Bahan-bahannya bersumber dari buah dan sayuran dari pertanian biodinamik di Sussex dan koperasi London setempat sehingga semua hasil dari restoran ini dapat dimanfaatkan karena bersifat bio-degradable.

  • Pharmacy

Restoran vegan ini juga 100% menggunakan plant-based food dengan memanfaatkan semua bagian tumbuhan dari akar hingga buahnya sehingga tidak ada sisa pengolahan. Selain itu yang sangat mengejutkan dari restoran ini ialah mereka menggunakan packaging yang juga 100% recyclable dan compostable.

  • Bean & Wheat

Sebuah kedai kopi dan deli yang menggunakan potongan dan produk samping dari dapur restoran lain. Para tamu juga dapat meminum jus dingin yang dibuat menggunakan buah-buahan dan sayuran yang cacat (reject) oleh restoran lain.

 

Tuh kan.. keren banget yaa. Nah kalau di Indonesia udah mulai banyak gerakan kok untuk menuju zero waste contohnya rstoran cepat saji McDonald’s yang sudah tidak memberi sedotan plastik lagi kecuali ada permintaan khusus dari pelanggan.

Yuk kita mulai dulu dari diri kita sendiri ya contohnya dengan stop pemakaian sedotan plastik dengan alternatif sedotan stainless steel, atau menggunakan tumbler sendiri. selain itu selalu gunakan barang-barang yang dapat di re-use ya!

Sumber: vogue.co.uk

Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB